Ketika menuang air gayung demi gayung, terasa lambat dan membosankan, lambat karena mungkin bisa saja kita membandingkan dengan membayangkan bagaimana kalau di tumpahkan sekalian; dengan ember? Atau wadah lainnya, dan pasti cepat selesai. Namun tetap saja resiko harus dihadapi, bisa saja tumpah, atau tenaga kurang cukup kuat untuk mengangkat, perlu tenaga ekstra untuk mengangkat, belum lagi tenaga untuk menumpahkan. Dan pada akhirnya kita berfikir lagi, oh ia, pakai gayung, kita masih bisa melakukan dengan entengnya, bisa sambil bersiul, sambil menyahut ketika ada yang lewat sambil bertanya, dan lainnya. Hanya memang perlu sabar, dan pada akhirnya pula akan mampu memaknai esensi sabar itu apa? …
19 Maret 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar