Senin, 29 Desember 2025

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

          Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunjukan Pukul 05.54 WIB.

"Astagfirullah, subuh!" serunya parau.

Revina bangkit sempoyongan, jempol kakinya tersandung ujung karpet dan hampir jatuh, menuju air wudlu dengan cepat. Di atas sajadah, gerakannya lambat, ia sempat terpejam dua detik saat posisi duduk diantara dua sujud dan hampir saja melanjutkan mimpi tentang makan seblak di depan Sekolahnya. Usai salam, Ia memijit pangkal hidung, mencoba mengusir sisa kantuk. Di kepalanya, sudah tersusun rapi rencana-rencana mulia yang dibangun kemarin sore. Pertama, ia akan joging tiga putaran kompleks, lalu pulang dengan keringat sehat di bawah sinar matahari pagi. Kedua, Ia akan ke dapur, mencuci tumpukan piring setinggi menara Teratai Purwokerto. Ketiga, ia akan menyikat lusinan kaos kaki yang bagian telapaknya sudah berwarna aspal. Terakhir, menyapu seluruh rumah sampai tidak ada sebutir debu pun yang nempel dilantai. Ia merasa sangat berdaya, bahkan sudah membayangkan betapa estetiknya rumahnya nanti setelah ia bersihkan.

"Hari ini, aku akan menjadi wanita produktif," bisiknya penuh ambisi.

Ia berdiri, melipat mukena, dan menggantinya dengan kaos olahraga. Namun, saat hendak mengambil kaos kaki bersih di laci, ia melihat kasurnya. Sprei yang berantakan itu seolah memanggil namanya. Duduk sebentar dulu sajalah, nunggu jam enam seperempat, pikirnya. Revina duduk di pinggir kasur. Ia meraih ponsel, hanya mau melihat prakiraan cuaca. Namun, jempolnya meminta lebih. Aplikasi berlogo kamera terbuka dengan warna ungu bercampur orange itu ia pencet, Ia mulai melihat video kucing mengejar bayangan, lalu pindah ke video resep masakan yang tidak mungkin akan pernah ia masak, hingga melihat postingan temannya Aqila Zafa yang sudah sarapan bubur ayam setelah lari 10 km. Pukul tujuh lebih, matahari mulai meninggi, cahayanya yang sebelumnya lembut, kini berubah kuning tajam menyilaukan. Udara yang tadinya sejuk, kini mulai menebar hawa gerah, Revina menatap sepatu larinya di sudut kamar, semangat membara yang ia miliki satu jam lalu tiba-tiba lenyap.

"Pasti panas banget kalau sekarang lari..." gumamnya. Ia melirik ke arah pintu kamar. Bayangan tumpukan piring kotor di dapur melintas di benaknya, melelahkan. Kaos kaki kotor di pojokan pun menatap penuh tuntutan, tapi Revina memilih untuk membuang muka.

Mood-nya hancur, ambisinya hambar. Semangat "wanita produktif" telah tergantikan dengan gerakan lambat melepas kembali sepatu larinya yang bahkan talinya belum sempat diikat. Ia jatuh ke kasur, merebahkan kepalanya di atas bantal yang terasa jauh lebih empuk dari biasanya. Di luar, dunia sedang berpacu dengan waktu, orang-orang sibuk di bengkel, di pasar, di ladang, namun di kamar itu, Revina hanya menatap langit-langit kamar tanpa tujuan pasti. Mencuci piring? biarlah itu menjadi urusan nanti siang, atau nanti sore, atau mungkin besok. Minggu pagi itu, Revina pasrah.

Suasana rumah terasa sunyi, kedua orang tua Revina ke Sokaraja dari sabtu sore menghadiri kondangan kerabat jauh dan memutuskan untuk menginap di sana. Ia sendirian. Tanggung jawab rumah yang tadinya ia abaikan tiba-tiba terasa beban yang harus ia angkat sendirian.

"Aku harus bangun!" gerutunya.

Ia bangkit lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir sisa-sisa kemalasan yang masih bergelantungan. Perutnya mulai keroncongan. Karena malas memasak, ia menyambar kunci motor dan pergi ke warung makan di ujung gang. Pulang membawa sebungkus sayur daun ketela pohon campur kecombrang, sebutir telor balado dan dua lembar mendoan lengkap plus sambal dengan aromanya yang khas.

 

Revina menumpahkan sayuran ke mangkuk, menyambar piring di jerambah, lalu membuka magic com tapi ada aroma asam yang langsung menyengat bersama uap yang menyembur ke wajahnya. Nasi menguning, berair dan basi.

"Ya Allah... cobaan apa lagi ini?" Revina menggerutu, menahan tangis karena lapar yang mulai melilit.

Sambil menggerutu, ia mencuci beras dengan kasar, suara gesekan di panci aluminium itu seolah memvalidasi rasa laparnya. Sambil menunggu nasi matang, amarah itu justru membakar Mood yang tadi hilang di pagi hari. Matahari tepat di atas kepala, tapi Revina tidak peduli lagi pada panas. Ia menyerbu tumpukan piring. Denting sendok dan piring beradu dengan kucuran air kran maksimal. Tumpukan kaos kaki, ia sikat sekuat tenaga, melampiaskan seluruh kekecewaan atas nasi basi dan subuh yang kesiangan tadi. “Kalian harus bersih! Semuanya harus bersih!" gumamnya sambil menyapu lantai.

Ia kemudian berjalan ke halaman belakang bersama sisa kekesalan, membawa sepiring nasi basi. Ayam-ayam riuh menunggu.

"Nih, kalian yang makan dulu, aku harus nunggu nasi matang." ucapnya ketus sambil menyebarkan nasi basi itu ke tanah. Ayam-ayam saling berebut.

Langit sore diujung barat berwarna jingga keunguan. Revina duduk di teras, napasnya terengah-engah, namun rumahnya kini telah harum dan rapi. Rencana mulia yang hampir kandas di pagi hari itu, pada akhirnya tuntas juga meski melelahkan.

Ia sendirian di rumah yang sunyi itu, menatap jemuran kaos kakinya yang melambai ditiup angin sore. Ada rasa bangga; ia berhasil mengalahkan kemalasannya, meski dengan "marah-marah."

Pukul tujuh malam, deru mesin mobil di halaman memecah keheningan. Revina, yang sudah rapi dan wangi—meski otot-otot lengannya terasa mau copot—langsung melompat dari sofa. Pintu terbuka, Bapak dan Ibunya muncul masuk, terlihat Lelah namun wajahnya berseri membawa plastik berisi oleh-oleh khas Sokaraja.

"Eh, anak Ibu belum tidur?" sapa Ibu sambil meletakkan tas.

Revina tidak membuang waktu. Inilah saatnya untuk melakukan "pemasaran" atas kerja kerasnya. Sambil membantu membawakan tas, ia mulai menyusun kata.

"Gimana mau tidur, Bu? Dari pagi Revina nggak berhenti gerak," mulainya dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar sedikit lelah namun heroik. "Begitu bangun pagi-pagi sekali, langsung deh Revina serbu cucian. Itu kaos kaki Bapak yang sudah kayak kerak bumi aja sekarang sudah kinclong lagi. Habis itu langsung nyapu seisi rumah, Ibu tahu? debu-debunya seperti habis hujan abu lho Bu, terus Revina inisiatif kasih makan ayam, terus balik kedapur sampai piring-piring bersih semua."

Ibu menghentikan langkahnya, menatap sekeliling ruang tamu yang memang tampak lebih rapi dan berbau harum pembersih lantai. "Wah, pantesan rumah jadi seger banget. Jam berapa kamu mulai, nduk?"

"Ya... langsung setelah Subuh, Bu," jawab Revina cepat. "Pokoknya sebelum matahari naik, Revina sudah keringetan."

Ibu tersenyum bangga, mengusap bahu Revina dengan sayang. "Pinter anak Ibu. Padahal Ibu tadi kepikiran, jangan-jangan kamu cuma rebahan kalau ditinggal sendiri."

Revina nyengir lebar, ketika ia menoleh, ia menangkap sosok Bapak yang sedang berdiri di ambang pintu dapur.

Bapak tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap deretan piring yang tertata rapi, dan memegang kaos kaki yang masih basah, lalu beralih menatap Revina dengan alis sebelah yang terangkat. Kemudian Bapak berjalan menuju halaman belakang sejenak, melihat kandang ayam, dan kembali ke ruang tengah sambil melepas jaketnya.

"Hebat ya, bangun pagi langsung kerja," ucap Bapak pelan, ada nada jenaka yang disembunyikan dalam suaranya yang berat.

"Iya dong, Pak! Kan harus produktif," sahut Revina, meski nyalinya sedikit menciut melihat tatapan selidik sang Bapak.

Malam makin larut, setelah makan malam yang penuh "interogasi halus" dari Bapak, Revina segera berpamitan masuk ke kamar. Di luar, ia mendengar suara televisi perlahan makin mengecil, pertanda kedua orang tuanya juga bersiap untuk istirahat.

"Belajar yang rajin, Nduk. Minggu depan sudah mulai padat jadwalnya," teriak Ibu dari balik pintu.

"Iya, Bu!" jawab Revina lantang.

Di kamar yang tertutup rapat, Revina menyalakan lampu meja. Ia membuka buku catatan tebal dan sebuah literatur yang seharusnya ia pelajari untuk tugas hari Senin. Selama lima menit pertama, suasana terasa sangat meyakinkan. Ia memegang pena, menggarisbawahi beberapa kalimat, serta beberapa dengan stabilo. Serius.

Namun, sunyi malam adalah musuh terbesar konsentrasi. Di sudut meja, ponselnya yang tergeletak telungkup tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi menyala, memantulkan cahaya biru di dinding kamar yang remang. Revina melirik. Hanya satu pesan, pikirnya. Ia meraih benda pipih itu. Satu pesan berubah menjadi membuka aplikasi berlogo burung, lalu berpindah ke aplikasi video pendek.

Niatnya hanya lima menit saja, sekadar melepas penat setelah seharian "bertempur" dengan cucian dan piring kotor. Satu video tentang tips merapikan kamar. Scroll. Satu video tentang gosip artis dan politikus. Scroll. Satu video tentang resep mi instan yang tampak sangat enak dimakan tengah malam. Scroll. Waktu seolah terhisap ke dalam lubang hitam internet. Revina tenggelam dalam layar kaca sempit. Ia meringkuk di atas Kasur sambil menutup rapat mulutnya agar tidak tertawa kencang saat melihat video lucu takut suaranya menembus dinding dan didengar Bapak Ibunya.

Sesekali ia melirik buku di meja yang masih terbuka di halaman yang sama sejak tadi. Buku itu seolah menatapnya dengan iba, sementara ponsel di tangannya terus menawarkan hiburan tanpa henti.

"Aduh, sudah jam sebelas," bisiknya saat melihat barisan angka di sudut layar. "Lima menit lagi, benar-benar lima menit lagi." Tapi "lima menit" ini begitu elastis, hingga  berubah menjadi sepuluh, lalu lima belas, hingga akhirnya angka di ponselnya menunjukkan pukul 00.00. Tengah malam.

Mata Revina mulai terasa panas dan perih, namun otaknya masih terjaga oleh paparan cahaya biru. Ia baru menyadari bahwa punggungnya pegal karena posisi meringkuk yang cukup lama. Ia mematikan ponsel dengan perasaan campur aduk: puas karena terhibur, namun didera rasa bersalah yang luar biasa.

Ia menoleh ke arah meja belajar. Buku itu masih terbuka, kosong tanpa ada tambahan catatan baru.

"Besok pasti ngantuk lagi," gumamnya sambil menarik selimut.

Revina memejamkan mata. Besok pagi, ia mungkin akan bangun kesiangan lagi, merencanakan hal-hal besar lagi, dan berakhir dengan rebahan lagi. Sebuah perjuangan antara ambisi yang tinggi dan daya tarik kasur yang tak tertandingi.

Di balik dinding kamar, rumah itu benar-benar sunyi. Orang tuanya tidur dengan bangga mengira putri mereka sedang belajar, sementara Revina tidur dengan sisa-sisa video TikTok yang masih berputar di kepala.

Senin pagi yang suram bagi mata yang hanya terpejam lima jam. Revina sedang berada di fase tidur paling nyenyak ketika sebuah ketukan keras di pintu kamarnya terdengar, diikuti suara berat yang sangat familiar.

"Bangun, Rev! Masih mau jadi juara bertahan rebahan?"

Revina mengerang, menutupi kepalanya dengan bantal. Namun, sedetik kemudian otaknya memproses suara yang barusan ia dengar. “Kak Farhan?”

Ia menyibak selimut dan terseok membuka pintu. Di hadapannya berdiri Farhan, kakak laki-lakinya yang kuliah di Semarang, lengkap dengan jaket almamater yang tersampir di bahu dan cengiran khasnya.

"Kak Farhan? Kok sudah di sini?" tanya Revina dengan suara serak khas bangun tidur.

Di ruang tengah, suasana sudah ramai. Ibu dan Bapak tampak kaget sekaligus sumringah. Ibu bahkan sudah sibuk di dapur menyiapkan teh hangat dan menggoreng mendoan, sementara Bapak duduk di kursi rotan sambil menginterogasi anak sulungnya itu.

"Nggak ada kabar, nggak ada sinyal, tiba-tiba sudah di depan pintu" ujar Bapak dengan rona Bahagia yang tidak bisa disembunyikan.

"Sengaja, Pak, mau kasih kejutan. Kebetulan dosen lagi ada urusan, jadi kuliah dialihkan daring minggu ini," jawab Farhan santai.

Kehadiran Farhan seperti siraman air es bagi Revina. Rasa kantuk berat akibat begadang scrolling HP hingga tengah malam mendadak luntur. Farhan adalah sosok yang ia segani sekaligus ia jadikan panutan. Ia tidak ingin terlihat seperti "zombie" di depan kakaknya yang selalu tampak produktif itu. Setelah  sholat subuh, Revina pun ikut bergabung di meja makan. Ada obrolan ringan yang hangat pagi itu. Farhan bercerita tentang hiruk-pikuk Semarang, tentang skripsinya yang mulai merangkak, hingga rencana berkunjung ke SMA almamaternya untuk bersilaturahmi dengan bapak dan ibu guru. "Oh iya, Rev," Farhan melirik jam tangannya, lalu menatap Revina yang masih memakai piyama motif panda. "Nanti berangkat jam berapa?"

Revina menyeruput teh hangatnya dengan tenang. "Jam enam tigapuluh harus sudah di Sekolah, Kak."

"Sekarang jam berapa?" tanya Farhan lagi, kali ini sambil menunjuk jam dinding.

Ia baru tersadar, saking asyiknya mengobrol, ia lupa bahwa ia belum mandi, belum memakai seragam, dan jarak rumah ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit jika jalanan lancar—yang mana hampir mustahil di hari Senin pagi.

"Tadi katanya mau jadi wanita produktif?" goda Bapak sambil tertawa melihat kepanikan putrinya.

"Tadi itu motivasi semu, Pak! Ini bencana nyata!" seru Revina sambil berlari menuju kamar mandi, meninggalkan tawa pecah dari Bapak, Ibu, dan Kak Farhan di ruang makan.

Rencana bangun pagi yang gagal kemarin, ternyata berlanjut menjadi drama Senin pagi yang jauh lebih menegangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...