Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunjukan Pukul 05.54 WIB.
"Astagfirullah,
subuh!" serunya parau.
Revina
bangkit sempoyongan, jempol kakinya tersandung ujung karpet dan hampir jatuh,
menuju air wudlu dengan cepat. Di atas sajadah, gerakannya lambat, ia sempat
terpejam dua detik saat posisi duduk diantara dua sujud dan hampir saja
melanjutkan mimpi tentang makan seblak di depan Sekolahnya. Usai salam, Ia
memijit pangkal hidung, mencoba mengusir sisa kantuk. Di kepalanya, sudah
tersusun rapi rencana-rencana mulia yang dibangun kemarin sore. Pertama, ia
akan joging tiga putaran kompleks, lalu pulang dengan keringat sehat di bawah
sinar matahari pagi. Kedua, Ia akan ke dapur, mencuci tumpukan piring setinggi
menara Teratai Purwokerto. Ketiga, ia akan menyikat lusinan kaos kaki yang
bagian telapaknya sudah berwarna aspal. Terakhir, menyapu seluruh rumah sampai
tidak ada sebutir debu pun yang nempel dilantai. Ia merasa sangat berdaya,
bahkan sudah membayangkan betapa estetiknya rumahnya nanti setelah ia bersihkan.
"Hari
ini, aku akan menjadi wanita produktif," bisiknya penuh ambisi.
Ia berdiri,
melipat mukena, dan menggantinya dengan kaos olahraga. Namun, saat hendak
mengambil kaos kaki bersih di laci, ia melihat kasurnya. Sprei yang berantakan
itu seolah memanggil namanya. Duduk sebentar dulu sajalah, nunggu jam enam
seperempat, pikirnya. Revina duduk di pinggir kasur. Ia meraih ponsel,
hanya mau melihat prakiraan cuaca. Namun, jempolnya meminta lebih. Aplikasi
berlogo kamera terbuka dengan warna ungu bercampur orange itu ia pencet, Ia
mulai melihat video kucing mengejar bayangan, lalu pindah ke video resep
masakan yang tidak mungkin akan pernah ia masak, hingga melihat postingan
temannya Aqila Zafa yang sudah sarapan bubur ayam setelah lari 10 km. Pukul
tujuh lebih, matahari mulai meninggi, cahayanya yang sebelumnya lembut, kini
berubah kuning tajam menyilaukan. Udara yang tadinya sejuk, kini mulai menebar
hawa gerah, Revina menatap sepatu larinya di sudut kamar, semangat membara yang
ia miliki satu jam lalu tiba-tiba lenyap.
"Pasti
panas banget kalau sekarang lari..." gumamnya. Ia melirik ke arah pintu
kamar. Bayangan tumpukan piring kotor di dapur melintas di benaknya,
melelahkan. Kaos kaki kotor di pojokan pun menatap penuh tuntutan, tapi Revina
memilih untuk membuang muka.
Mood-nya hancur, ambisinya hambar. Semangat
"wanita produktif" telah tergantikan dengan gerakan lambat melepas
kembali sepatu larinya yang bahkan talinya belum sempat diikat. Ia jatuh ke
kasur, merebahkan kepalanya di atas bantal yang terasa jauh lebih empuk dari
biasanya. Di luar, dunia sedang berpacu dengan waktu, orang-orang sibuk di
bengkel, di pasar, di ladang, namun di kamar itu, Revina hanya menatap
langit-langit kamar tanpa tujuan pasti. Mencuci piring? biarlah itu menjadi
urusan nanti siang, atau nanti sore, atau mungkin besok. Minggu pagi itu,
Revina pasrah.
Suasana
rumah terasa sunyi, kedua orang tua Revina ke Sokaraja dari sabtu sore
menghadiri kondangan kerabat jauh dan memutuskan untuk menginap di sana. Ia
sendirian. Tanggung jawab rumah yang tadinya ia abaikan tiba-tiba terasa beban
yang harus ia angkat sendirian.
"Aku
harus bangun!" gerutunya.
Ia bangkit
lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir sisa-sisa kemalasan
yang masih bergelantungan. Perutnya mulai keroncongan. Karena malas memasak, ia
menyambar kunci motor dan pergi ke warung makan di ujung gang. Pulang membawa
sebungkus sayur daun ketela pohon campur kecombrang, sebutir telor balado dan
dua lembar mendoan lengkap plus sambal dengan aromanya yang khas.
Revina
menumpahkan sayuran ke mangkuk, menyambar piring di jerambah, lalu membuka magic
com tapi ada aroma asam yang langsung menyengat bersama uap yang menyembur ke
wajahnya. Nasi menguning, berair dan basi.
"Ya Allah... cobaan apa
lagi ini?" Revina menggerutu, menahan tangis karena lapar yang mulai
melilit.
Sambil
menggerutu, ia mencuci beras dengan kasar, suara gesekan di panci aluminium itu
seolah memvalidasi rasa laparnya. Sambil menunggu nasi matang, amarah itu
justru membakar Mood yang tadi hilang di pagi hari. Matahari tepat di
atas kepala, tapi Revina tidak peduli lagi pada panas. Ia menyerbu tumpukan
piring. Denting sendok dan piring beradu dengan kucuran air kran maksimal.
Tumpukan kaos kaki, ia sikat sekuat tenaga, melampiaskan seluruh kekecewaan
atas nasi basi dan subuh yang kesiangan tadi. “Kalian harus bersih! Semuanya
harus bersih!" gumamnya sambil menyapu lantai.
Ia kemudian
berjalan ke halaman belakang bersama sisa kekesalan, membawa sepiring nasi
basi. Ayam-ayam riuh menunggu.
"Nih,
kalian yang makan dulu, aku harus nunggu nasi matang." ucapnya ketus
sambil menyebarkan nasi basi itu ke tanah. Ayam-ayam saling berebut.
Langit sore
diujung barat berwarna jingga keunguan. Revina duduk di teras, napasnya
terengah-engah, namun rumahnya kini telah harum dan rapi. Rencana mulia yang
hampir kandas di pagi hari itu, pada akhirnya tuntas juga meski melelahkan.
Ia sendirian
di rumah yang sunyi itu, menatap jemuran kaos kakinya yang melambai ditiup
angin sore. Ada rasa bangga; ia berhasil mengalahkan kemalasannya, meski dengan
"marah-marah."
Pukul tujuh
malam, deru mesin mobil di halaman memecah keheningan. Revina, yang sudah rapi
dan wangi—meski otot-otot lengannya terasa mau copot—langsung melompat dari
sofa. Pintu terbuka, Bapak dan Ibunya muncul masuk, terlihat Lelah namun
wajahnya berseri membawa plastik berisi oleh-oleh khas Sokaraja.
"Eh,
anak Ibu belum tidur?" sapa Ibu sambil meletakkan tas.
Revina tidak
membuang waktu. Inilah saatnya untuk melakukan "pemasaran" atas kerja
kerasnya. Sambil membantu membawakan tas, ia mulai menyusun kata.
"Gimana
mau tidur, Bu? Dari pagi Revina nggak berhenti gerak," mulainya dengan
nada suara yang sengaja dibuat terdengar sedikit lelah namun heroik.
"Begitu bangun pagi-pagi sekali, langsung deh Revina serbu cucian. Itu
kaos kaki Bapak yang sudah kayak kerak bumi aja sekarang sudah kinclong lagi.
Habis itu langsung nyapu seisi rumah, Ibu tahu? debu-debunya seperti habis
hujan abu lho Bu, terus Revina inisiatif kasih makan ayam, terus balik kedapur
sampai piring-piring bersih semua."
Ibu
menghentikan langkahnya, menatap sekeliling ruang tamu yang memang tampak lebih
rapi dan berbau harum pembersih lantai. "Wah, pantesan rumah jadi seger
banget. Jam berapa kamu mulai, nduk?"
"Ya...
langsung setelah Subuh, Bu," jawab Revina cepat. "Pokoknya sebelum
matahari naik, Revina sudah keringetan."
Ibu
tersenyum bangga, mengusap bahu Revina dengan sayang. "Pinter anak Ibu.
Padahal Ibu tadi kepikiran, jangan-jangan kamu cuma rebahan kalau ditinggal
sendiri."
Revina
nyengir lebar, ketika ia menoleh, ia menangkap sosok Bapak yang sedang berdiri
di ambang pintu dapur.
Bapak tidak
mengatakan apa-apa, hanya menatap deretan piring yang tertata rapi, dan
memegang kaos kaki yang masih basah, lalu beralih menatap Revina dengan alis
sebelah yang terangkat. Kemudian Bapak berjalan menuju halaman belakang
sejenak, melihat kandang ayam, dan kembali ke ruang tengah sambil melepas
jaketnya.
"Hebat
ya, bangun pagi langsung kerja," ucap Bapak pelan, ada nada jenaka yang
disembunyikan dalam suaranya yang berat.
"Iya
dong, Pak! Kan harus produktif," sahut Revina, meski nyalinya sedikit
menciut melihat tatapan selidik sang Bapak.
Malam makin
larut, setelah makan malam yang penuh "interogasi halus" dari Bapak,
Revina segera berpamitan masuk ke kamar. Di luar, ia mendengar suara televisi
perlahan makin mengecil, pertanda kedua orang tuanya juga bersiap untuk
istirahat.
"Belajar
yang rajin, Nduk. Minggu depan sudah mulai padat jadwalnya," teriak Ibu
dari balik pintu.
"Iya,
Bu!" jawab Revina lantang.
Di kamar
yang tertutup rapat, Revina menyalakan lampu meja. Ia membuka buku catatan
tebal dan sebuah literatur yang seharusnya ia pelajari untuk tugas hari Senin.
Selama lima menit pertama, suasana terasa sangat meyakinkan. Ia memegang pena,
menggarisbawahi beberapa kalimat, serta beberapa dengan stabilo. Serius.
Namun, sunyi malam adalah
musuh terbesar konsentrasi. Di sudut meja, ponselnya yang tergeletak telungkup
tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi menyala, memantulkan cahaya biru di
dinding kamar yang remang. Revina melirik. Hanya satu pesan, pikirnya. Ia
meraih benda pipih itu. Satu pesan berubah menjadi membuka aplikasi berlogo
burung, lalu berpindah ke aplikasi video pendek.
Niatnya hanya lima menit saja,
sekadar melepas penat setelah seharian "bertempur" dengan cucian dan
piring kotor. Satu video tentang tips merapikan kamar. Scroll. Satu
video tentang gosip artis dan politikus. Scroll. Satu video tentang
resep mi instan yang tampak sangat enak dimakan tengah malam. Scroll. Waktu
seolah terhisap ke dalam lubang hitam internet. Revina tenggelam dalam layar
kaca sempit. Ia meringkuk di atas Kasur sambil menutup rapat mulutnya agar
tidak tertawa kencang saat melihat video lucu takut suaranya menembus dinding
dan didengar Bapak Ibunya.
Sesekali ia
melirik buku di meja yang masih terbuka di halaman yang sama sejak tadi. Buku
itu seolah menatapnya dengan iba, sementara ponsel di tangannya terus
menawarkan hiburan tanpa henti.
"Aduh,
sudah jam sebelas," bisiknya saat melihat barisan angka di sudut layar.
"Lima menit lagi, benar-benar lima menit lagi." Tapi "lima
menit" ini begitu elastis, hingga
berubah menjadi sepuluh, lalu lima belas, hingga akhirnya angka di
ponselnya menunjukkan pukul 00.00. Tengah malam.
Mata Revina
mulai terasa panas dan perih, namun otaknya masih terjaga oleh paparan cahaya
biru. Ia baru menyadari bahwa punggungnya pegal karena posisi meringkuk yang
cukup lama. Ia mematikan ponsel dengan perasaan campur aduk: puas karena
terhibur, namun didera rasa bersalah yang luar biasa.
Ia menoleh
ke arah meja belajar. Buku itu masih terbuka, kosong tanpa ada tambahan catatan
baru.
"Besok
pasti ngantuk lagi," gumamnya sambil menarik selimut.
Revina
memejamkan mata. Besok pagi, ia mungkin akan bangun kesiangan lagi,
merencanakan hal-hal besar lagi, dan berakhir dengan rebahan lagi. Sebuah
perjuangan antara ambisi yang tinggi dan daya tarik kasur yang tak tertandingi.
Di balik
dinding kamar, rumah itu benar-benar sunyi. Orang tuanya tidur dengan bangga
mengira putri mereka sedang belajar, sementara Revina tidur dengan sisa-sisa
video TikTok yang masih berputar di kepala.
Senin pagi
yang suram bagi mata yang hanya terpejam lima jam. Revina sedang berada di fase
tidur paling nyenyak ketika sebuah ketukan keras di pintu kamarnya terdengar,
diikuti suara berat yang sangat familiar.
"Bangun,
Rev! Masih mau jadi juara bertahan rebahan?"
Revina
mengerang, menutupi kepalanya dengan bantal. Namun, sedetik kemudian otaknya
memproses suara yang barusan ia dengar. “Kak Farhan?”
Ia menyibak
selimut dan terseok membuka pintu. Di hadapannya berdiri Farhan, kakak
laki-lakinya yang kuliah di Semarang, lengkap dengan jaket almamater yang
tersampir di bahu dan cengiran khasnya.
"Kak
Farhan? Kok sudah di sini?" tanya Revina dengan suara serak khas bangun
tidur.
Di ruang
tengah, suasana sudah ramai. Ibu dan Bapak tampak kaget sekaligus sumringah.
Ibu bahkan sudah sibuk di dapur menyiapkan teh hangat dan menggoreng mendoan,
sementara Bapak duduk di kursi rotan sambil menginterogasi anak sulungnya itu.
"Nggak ada kabar, nggak ada sinyal, tiba-tiba sudah di depan pintu" ujar Bapak dengan rona Bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
"Sengaja, Pak, mau kasih kejutan. Kebetulan dosen lagi ada urusan, jadi kuliah dialihkan daring minggu ini," jawab Farhan santai.
Kehadiran
Farhan seperti siraman air es bagi Revina. Rasa kantuk berat akibat begadang scrolling
HP hingga tengah malam mendadak luntur. Farhan adalah sosok yang ia segani
sekaligus ia jadikan panutan. Ia tidak ingin terlihat seperti
"zombie" di depan kakaknya yang selalu tampak produktif itu.
Setelah sholat subuh, Revina pun ikut
bergabung di meja makan. Ada obrolan ringan yang hangat pagi itu. Farhan
bercerita tentang hiruk-pikuk Semarang, tentang skripsinya yang mulai
merangkak, hingga rencana berkunjung ke SMA almamaternya untuk bersilaturahmi
dengan bapak dan ibu guru. "Oh iya, Rev," Farhan melirik jam
tangannya, lalu menatap Revina yang masih memakai piyama motif panda.
"Nanti berangkat jam berapa?"
Revina
menyeruput teh hangatnya dengan tenang. "Jam enam tigapuluh harus sudah di
Sekolah, Kak."
"Sekarang
jam berapa?" tanya Farhan lagi, kali ini sambil menunjuk jam dinding.
Ia baru
tersadar, saking asyiknya mengobrol, ia lupa bahwa ia belum mandi, belum
memakai seragam, dan jarak rumah ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit
jika jalanan lancar—yang mana hampir mustahil di hari Senin pagi.
"Tadi
katanya mau jadi wanita produktif?" goda Bapak sambil tertawa melihat
kepanikan putrinya.
"Tadi
itu motivasi semu, Pak! Ini bencana nyata!" seru Revina sambil berlari
menuju kamar mandi, meninggalkan tawa pecah dari Bapak, Ibu, dan Kak Farhan di
ruang makan.