Senin, 29 Desember 2025

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

          Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunjukan Pukul 05.54 WIB.

"Astagfirullah, subuh!" serunya parau.

Revina bangkit sempoyongan, jempol kakinya tersandung ujung karpet dan hampir jatuh, menuju air wudlu dengan cepat. Di atas sajadah, gerakannya lambat, ia sempat terpejam dua detik saat posisi duduk diantara dua sujud dan hampir saja melanjutkan mimpi tentang makan seblak di depan Sekolahnya. Usai salam, Ia memijit pangkal hidung, mencoba mengusir sisa kantuk. Di kepalanya, sudah tersusun rapi rencana-rencana mulia yang dibangun kemarin sore. Pertama, ia akan joging tiga putaran kompleks, lalu pulang dengan keringat sehat di bawah sinar matahari pagi. Kedua, Ia akan ke dapur, mencuci tumpukan piring setinggi menara Teratai Purwokerto. Ketiga, ia akan menyikat lusinan kaos kaki yang bagian telapaknya sudah berwarna aspal. Terakhir, menyapu seluruh rumah sampai tidak ada sebutir debu pun yang nempel dilantai. Ia merasa sangat berdaya, bahkan sudah membayangkan betapa estetiknya rumahnya nanti setelah ia bersihkan.

"Hari ini, aku akan menjadi wanita produktif," bisiknya penuh ambisi.

Ia berdiri, melipat mukena, dan menggantinya dengan kaos olahraga. Namun, saat hendak mengambil kaos kaki bersih di laci, ia melihat kasurnya. Sprei yang berantakan itu seolah memanggil namanya. Duduk sebentar dulu sajalah, nunggu jam enam seperempat, pikirnya. Revina duduk di pinggir kasur. Ia meraih ponsel, hanya mau melihat prakiraan cuaca. Namun, jempolnya meminta lebih. Aplikasi berlogo kamera terbuka dengan warna ungu bercampur orange itu ia pencet, Ia mulai melihat video kucing mengejar bayangan, lalu pindah ke video resep masakan yang tidak mungkin akan pernah ia masak, hingga melihat postingan temannya Aqila Zafa yang sudah sarapan bubur ayam setelah lari 10 km. Pukul tujuh lebih, matahari mulai meninggi, cahayanya yang sebelumnya lembut, kini berubah kuning tajam menyilaukan. Udara yang tadinya sejuk, kini mulai menebar hawa gerah, Revina menatap sepatu larinya di sudut kamar, semangat membara yang ia miliki satu jam lalu tiba-tiba lenyap.

"Pasti panas banget kalau sekarang lari..." gumamnya. Ia melirik ke arah pintu kamar. Bayangan tumpukan piring kotor di dapur melintas di benaknya, melelahkan. Kaos kaki kotor di pojokan pun menatap penuh tuntutan, tapi Revina memilih untuk membuang muka.

Mood-nya hancur, ambisinya hambar. Semangat "wanita produktif" telah tergantikan dengan gerakan lambat melepas kembali sepatu larinya yang bahkan talinya belum sempat diikat. Ia jatuh ke kasur, merebahkan kepalanya di atas bantal yang terasa jauh lebih empuk dari biasanya. Di luar, dunia sedang berpacu dengan waktu, orang-orang sibuk di bengkel, di pasar, di ladang, namun di kamar itu, Revina hanya menatap langit-langit kamar tanpa tujuan pasti. Mencuci piring? biarlah itu menjadi urusan nanti siang, atau nanti sore, atau mungkin besok. Minggu pagi itu, Revina pasrah.

Suasana rumah terasa sunyi, kedua orang tua Revina ke Sokaraja dari sabtu sore menghadiri kondangan kerabat jauh dan memutuskan untuk menginap di sana. Ia sendirian. Tanggung jawab rumah yang tadinya ia abaikan tiba-tiba terasa beban yang harus ia angkat sendirian.

"Aku harus bangun!" gerutunya.

Ia bangkit lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir sisa-sisa kemalasan yang masih bergelantungan. Perutnya mulai keroncongan. Karena malas memasak, ia menyambar kunci motor dan pergi ke warung makan di ujung gang. Pulang membawa sebungkus sayur daun ketela pohon campur kecombrang, sebutir telor balado dan dua lembar mendoan lengkap plus sambal dengan aromanya yang khas.

 

Revina menumpahkan sayuran ke mangkuk, menyambar piring di jerambah, lalu membuka magic com tapi ada aroma asam yang langsung menyengat bersama uap yang menyembur ke wajahnya. Nasi menguning, berair dan basi.

"Ya Allah... cobaan apa lagi ini?" Revina menggerutu, menahan tangis karena lapar yang mulai melilit.

Sambil menggerutu, ia mencuci beras dengan kasar, suara gesekan di panci aluminium itu seolah memvalidasi rasa laparnya. Sambil menunggu nasi matang, amarah itu justru membakar Mood yang tadi hilang di pagi hari. Matahari tepat di atas kepala, tapi Revina tidak peduli lagi pada panas. Ia menyerbu tumpukan piring. Denting sendok dan piring beradu dengan kucuran air kran maksimal. Tumpukan kaos kaki, ia sikat sekuat tenaga, melampiaskan seluruh kekecewaan atas nasi basi dan subuh yang kesiangan tadi. “Kalian harus bersih! Semuanya harus bersih!" gumamnya sambil menyapu lantai.

Ia kemudian berjalan ke halaman belakang bersama sisa kekesalan, membawa sepiring nasi basi. Ayam-ayam riuh menunggu.

"Nih, kalian yang makan dulu, aku harus nunggu nasi matang." ucapnya ketus sambil menyebarkan nasi basi itu ke tanah. Ayam-ayam saling berebut.

Langit sore diujung barat berwarna jingga keunguan. Revina duduk di teras, napasnya terengah-engah, namun rumahnya kini telah harum dan rapi. Rencana mulia yang hampir kandas di pagi hari itu, pada akhirnya tuntas juga meski melelahkan.

Ia sendirian di rumah yang sunyi itu, menatap jemuran kaos kakinya yang melambai ditiup angin sore. Ada rasa bangga; ia berhasil mengalahkan kemalasannya, meski dengan "marah-marah."

Pukul tujuh malam, deru mesin mobil di halaman memecah keheningan. Revina, yang sudah rapi dan wangi—meski otot-otot lengannya terasa mau copot—langsung melompat dari sofa. Pintu terbuka, Bapak dan Ibunya muncul masuk, terlihat Lelah namun wajahnya berseri membawa plastik berisi oleh-oleh khas Sokaraja.

"Eh, anak Ibu belum tidur?" sapa Ibu sambil meletakkan tas.

Revina tidak membuang waktu. Inilah saatnya untuk melakukan "pemasaran" atas kerja kerasnya. Sambil membantu membawakan tas, ia mulai menyusun kata.

"Gimana mau tidur, Bu? Dari pagi Revina nggak berhenti gerak," mulainya dengan nada suara yang sengaja dibuat terdengar sedikit lelah namun heroik. "Begitu bangun pagi-pagi sekali, langsung deh Revina serbu cucian. Itu kaos kaki Bapak yang sudah kayak kerak bumi aja sekarang sudah kinclong lagi. Habis itu langsung nyapu seisi rumah, Ibu tahu? debu-debunya seperti habis hujan abu lho Bu, terus Revina inisiatif kasih makan ayam, terus balik kedapur sampai piring-piring bersih semua."

Ibu menghentikan langkahnya, menatap sekeliling ruang tamu yang memang tampak lebih rapi dan berbau harum pembersih lantai. "Wah, pantesan rumah jadi seger banget. Jam berapa kamu mulai, nduk?"

"Ya... langsung setelah Subuh, Bu," jawab Revina cepat. "Pokoknya sebelum matahari naik, Revina sudah keringetan."

Ibu tersenyum bangga, mengusap bahu Revina dengan sayang. "Pinter anak Ibu. Padahal Ibu tadi kepikiran, jangan-jangan kamu cuma rebahan kalau ditinggal sendiri."

Revina nyengir lebar, ketika ia menoleh, ia menangkap sosok Bapak yang sedang berdiri di ambang pintu dapur.

Bapak tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap deretan piring yang tertata rapi, dan memegang kaos kaki yang masih basah, lalu beralih menatap Revina dengan alis sebelah yang terangkat. Kemudian Bapak berjalan menuju halaman belakang sejenak, melihat kandang ayam, dan kembali ke ruang tengah sambil melepas jaketnya.

"Hebat ya, bangun pagi langsung kerja," ucap Bapak pelan, ada nada jenaka yang disembunyikan dalam suaranya yang berat.

"Iya dong, Pak! Kan harus produktif," sahut Revina, meski nyalinya sedikit menciut melihat tatapan selidik sang Bapak.

Malam makin larut, setelah makan malam yang penuh "interogasi halus" dari Bapak, Revina segera berpamitan masuk ke kamar. Di luar, ia mendengar suara televisi perlahan makin mengecil, pertanda kedua orang tuanya juga bersiap untuk istirahat.

"Belajar yang rajin, Nduk. Minggu depan sudah mulai padat jadwalnya," teriak Ibu dari balik pintu.

"Iya, Bu!" jawab Revina lantang.

Di kamar yang tertutup rapat, Revina menyalakan lampu meja. Ia membuka buku catatan tebal dan sebuah literatur yang seharusnya ia pelajari untuk tugas hari Senin. Selama lima menit pertama, suasana terasa sangat meyakinkan. Ia memegang pena, menggarisbawahi beberapa kalimat, serta beberapa dengan stabilo. Serius.

Namun, sunyi malam adalah musuh terbesar konsentrasi. Di sudut meja, ponselnya yang tergeletak telungkup tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi menyala, memantulkan cahaya biru di dinding kamar yang remang. Revina melirik. Hanya satu pesan, pikirnya. Ia meraih benda pipih itu. Satu pesan berubah menjadi membuka aplikasi berlogo burung, lalu berpindah ke aplikasi video pendek.

Niatnya hanya lima menit saja, sekadar melepas penat setelah seharian "bertempur" dengan cucian dan piring kotor. Satu video tentang tips merapikan kamar. Scroll. Satu video tentang gosip artis dan politikus. Scroll. Satu video tentang resep mi instan yang tampak sangat enak dimakan tengah malam. Scroll. Waktu seolah terhisap ke dalam lubang hitam internet. Revina tenggelam dalam layar kaca sempit. Ia meringkuk di atas Kasur sambil menutup rapat mulutnya agar tidak tertawa kencang saat melihat video lucu takut suaranya menembus dinding dan didengar Bapak Ibunya.

Sesekali ia melirik buku di meja yang masih terbuka di halaman yang sama sejak tadi. Buku itu seolah menatapnya dengan iba, sementara ponsel di tangannya terus menawarkan hiburan tanpa henti.

"Aduh, sudah jam sebelas," bisiknya saat melihat barisan angka di sudut layar. "Lima menit lagi, benar-benar lima menit lagi." Tapi "lima menit" ini begitu elastis, hingga  berubah menjadi sepuluh, lalu lima belas, hingga akhirnya angka di ponselnya menunjukkan pukul 00.00. Tengah malam.

Mata Revina mulai terasa panas dan perih, namun otaknya masih terjaga oleh paparan cahaya biru. Ia baru menyadari bahwa punggungnya pegal karena posisi meringkuk yang cukup lama. Ia mematikan ponsel dengan perasaan campur aduk: puas karena terhibur, namun didera rasa bersalah yang luar biasa.

Ia menoleh ke arah meja belajar. Buku itu masih terbuka, kosong tanpa ada tambahan catatan baru.

"Besok pasti ngantuk lagi," gumamnya sambil menarik selimut.

Revina memejamkan mata. Besok pagi, ia mungkin akan bangun kesiangan lagi, merencanakan hal-hal besar lagi, dan berakhir dengan rebahan lagi. Sebuah perjuangan antara ambisi yang tinggi dan daya tarik kasur yang tak tertandingi.

Di balik dinding kamar, rumah itu benar-benar sunyi. Orang tuanya tidur dengan bangga mengira putri mereka sedang belajar, sementara Revina tidur dengan sisa-sisa video TikTok yang masih berputar di kepala.

Senin pagi yang suram bagi mata yang hanya terpejam lima jam. Revina sedang berada di fase tidur paling nyenyak ketika sebuah ketukan keras di pintu kamarnya terdengar, diikuti suara berat yang sangat familiar.

"Bangun, Rev! Masih mau jadi juara bertahan rebahan?"

Revina mengerang, menutupi kepalanya dengan bantal. Namun, sedetik kemudian otaknya memproses suara yang barusan ia dengar. “Kak Farhan?”

Ia menyibak selimut dan terseok membuka pintu. Di hadapannya berdiri Farhan, kakak laki-lakinya yang kuliah di Semarang, lengkap dengan jaket almamater yang tersampir di bahu dan cengiran khasnya.

"Kak Farhan? Kok sudah di sini?" tanya Revina dengan suara serak khas bangun tidur.

Di ruang tengah, suasana sudah ramai. Ibu dan Bapak tampak kaget sekaligus sumringah. Ibu bahkan sudah sibuk di dapur menyiapkan teh hangat dan menggoreng mendoan, sementara Bapak duduk di kursi rotan sambil menginterogasi anak sulungnya itu.

"Nggak ada kabar, nggak ada sinyal, tiba-tiba sudah di depan pintu" ujar Bapak dengan rona Bahagia yang tidak bisa disembunyikan.

"Sengaja, Pak, mau kasih kejutan. Kebetulan dosen lagi ada urusan, jadi kuliah dialihkan daring minggu ini," jawab Farhan santai.

Kehadiran Farhan seperti siraman air es bagi Revina. Rasa kantuk berat akibat begadang scrolling HP hingga tengah malam mendadak luntur. Farhan adalah sosok yang ia segani sekaligus ia jadikan panutan. Ia tidak ingin terlihat seperti "zombie" di depan kakaknya yang selalu tampak produktif itu. Setelah  sholat subuh, Revina pun ikut bergabung di meja makan. Ada obrolan ringan yang hangat pagi itu. Farhan bercerita tentang hiruk-pikuk Semarang, tentang skripsinya yang mulai merangkak, hingga rencana berkunjung ke SMA almamaternya untuk bersilaturahmi dengan bapak dan ibu guru. "Oh iya, Rev," Farhan melirik jam tangannya, lalu menatap Revina yang masih memakai piyama motif panda. "Nanti berangkat jam berapa?"

Revina menyeruput teh hangatnya dengan tenang. "Jam enam tigapuluh harus sudah di Sekolah, Kak."

"Sekarang jam berapa?" tanya Farhan lagi, kali ini sambil menunjuk jam dinding.

Ia baru tersadar, saking asyiknya mengobrol, ia lupa bahwa ia belum mandi, belum memakai seragam, dan jarak rumah ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit jika jalanan lancar—yang mana hampir mustahil di hari Senin pagi.

"Tadi katanya mau jadi wanita produktif?" goda Bapak sambil tertawa melihat kepanikan putrinya.

"Tadi itu motivasi semu, Pak! Ini bencana nyata!" seru Revina sambil berlari menuju kamar mandi, meninggalkan tawa pecah dari Bapak, Ibu, dan Kak Farhan di ruang makan.

Rencana bangun pagi yang gagal kemarin, ternyata berlanjut menjadi drama Senin pagi yang jauh lebih menegangkan.

Sabtu, 27 Desember 2025

#1___06:31 WIB.

 

Udara pagi yang seharusnya segar diantara pohon-pohon besar, seketika membakar paru-paru Revina, langkah kakinya menghantam aspal dengan irama yang kacau, membuat bunyi plak-plak menggema di koridor terbuka sepanjang seratus meteran. Pada sisi kiri pring gendani berderet rapi, dan sisi kanannya deretan rindang ketapang kencana berdiri kokoh seperti barisan raksasa yang menertawakan keterlambatannya, dan serombongan siswa laki-laki berlari kencang mendahuluinya.

Dahulu, para pendiri sekolah ini pastilah orang-orang yang visioner, lapangan luar dengan ukuran ideal lapangan sepakbola ini ditata paling depan berjarak enam meteran dari jalan raya, dan mengonsep gerbang utama yang megah sebagai filter awal. Namun bagi Revina, jarak antara gerbang depan dan gerbang tengah pagi ini seperti jebakan yang sengaja dirancang untuk menyeleksi siswa disiplin dan siswa pemalas. Di kejauhan, siluet kaku Bu Leoni berdiri tegak di ambang gerbang tengah, tangannya terangkat memegang jam digital seolah sedang memegang kendali atas nasib setiap siswa yang datang terlambat.

"Sepuluh! Sembilan!" Suara Bu Leoni membelah deru langkah kaki siswa yang berlari kencang, melengking, tajam, dan tanpa kompromi. Revina memacu jantungnya hingga batas maksimal. Seragamnya basah oleh keringat, tas punggungnya terasa berlipat lebih berat. Ia bisa melihat Anggun, salah satu peserta organisasi Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dengan ban lengan yang rapi, berdiri di samping Bu Leoni sambil menatap kronometer dengan dingin. Hanya tinggal sepuluh meter lagi. Sedikit lagi.

"Dua! Satu! Cukup!"

Teman-temannya yang berlari lebih kencang berhasil masuk melewati Anggun dan bu leoni, namun Revina, terhenti sendirian tepat di depan hidung Bu Leoni. Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin. Dunia terasa berputar, kunang-kunang bertebaran disekitar kepala, Ia mendongak perlahan, berharap ada keajaiban atau setidaknya setitik rasa iba. Namun, Bu Leoni justru memutar pergelangan tangannya ke arah wajah Revina. Layar digital itu menyala dengan angka kejam: 06.31.

"Satu menit, Revina," suara Bu Leoni terdengar lebih berat dari biasanya. "Dan di sekolah ini, satu menit adalah garis pemisah antara disiplin dan kehancuran. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."

Revina menoleh ke arah Anggun yang kini sudah menyodorkan ember bekas wadah cat dengan senyum tipis seperti sinis. Dan, detik itulah Revina tahu, pagi ini bukan hanya tentang memungut daun, tapi awal sebuah permainan harga diri yang tidak akan ia lupakan.

Matahari mulai merangkak naik, sinarnya semakin terang, hawa dingin sisa hujan semalam masih mengendap di antara akar-akar pohon ketapang kencana. Di bibir lapangan yang luas itu, Revina berdiri mematung.

"Mulai dari sudut sana, Revina," suara Anggun terdengar datar, namun di telinga Revina, itu terdengar seperti cambuk. "Hanya daun yang lebar, basah atau kering tidak masalah. Pastikan tidak ada plastik yang terbawa, atau kau harus mengulanginya dari awal."

Revina mengepalkan tinjunya. Sebagai siswi yang selalu menjaga penampilannya, berdiri di tengah lapangan dengan keringat yang mulai membasahi pelipis sambil memunguti sampah adalah penghinaan tingkat tinggi. Ia melirik ke arah gedung kelas di lantai dua. Ia tahu, di balik jendela-jendela itu, mata teman-temannya pasti sedang menonton "sang primadona" yang kini jatuh kasta menjadi pemungut daun.

Dengan gerakan kaku, Revina berlutut. Ia mengambil selembar daun jati kering kecokelatan. Krak. Daun itu hancur karena ia menekannya terlalu keras—sekeras amarah yang tertahan di dadanya.

"Waktumu hanya sampai jam pelajaran pertama dimulai," tegur Anggun lagi, masih berdiri tegak dengan buku catatan tak jauh dari posisi Revina.

"Aku tahu!" bentak Revina tanpa menoleh.

Ia mulai bergerak menyisir bibir lapangan. Lumpur tipis mulai mengotori sepatu hitam mahal dengan leres tipis abu-abu. Setiap kali ia membungkuk, setiap itu pula harga dirinya terasa ikut terseret ke tanah. Ia harus memilah daun-daun basah yang lengket karena tanah, memasukkannya ke dalam tong berbau apek di area minifactory.

Revina sampai di depan mesin pencacah daun. Mesin itu diam, tampak seperti monster besi yang siap menelan segala kemarahan Revina. Saat ia menumpahkan dedaunan dari wadah cat ke drum plastik berwarna biru ukuran 120 literan itu, butiran air dari daun basah menciprat ke pipinya. Revina berhenti. Ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan tanah di kulitnya yang putih bersih. Ia menoleh ke arah Anggun dengan tatapan tajam yang menyala.

"Kau sangat menikmatinya bukan?" suara Revina bergetar karena emosi. "Melihatku seperti ini? Merasa menang karena punya jabatan di sekolah ini?"

Anggun tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di batas aspal dan rumput. "Ini bukan soal menang atau kalah, Revina. Ini soal sekolah ini punya aturan. Dan kau baru saja menyentuh bagian paling dasar dari ekosistem tempat kita belajar."

"Kau akan membayar ini, Anggun," desis Revina, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Aku tidak akan lupa bagaimana rasanya tanah ini di tanganku. Dan aku pastikan, kau juga akan merasakannya."

Revina kembali membungkuk, memunguti daun berikutnya dengan kemarahan yang kini sudah berubah menjadi rencana pembalasan.

---

Bel istirahat pertama membelah kesunyian koridor, dan bagi revina, itu bunyi genderang perang. Ia tidak menuju kantin. Ia tidak mencari minum untuk membasuh tenggorokannya yang kering setelah dihukum. Dengan tangan yang masih menyisakan noda tanah samar dan hati yang mendidih, ia melangkah menuju kelas XI-4—wilayah kekuasaan Anggun.

Setiap langkah Revina di koridor lantai dua itu menebarkan aura dingin. Para siswa yang berpapasan dengannya refleks menepi, melihat wajah sang primadona yang biasanya ceria kini berubah menjadi mendung yang siap menumpahkan badai.

BRAK!

Pintu kelas XI-4 terbuka lebar karena hantaman tangan Revina. Suara riuh rendah di dalam kelas seketika senyap. Puluhan pasang mata tertuju pada pintu. Di sana, Revina berdiri dengan nafas memburu, matanya menyapu ruangan hingga berhenti pada satu titik dimana Anggun yang sedang tenang merapikan mukena di bangkunya.

"Anggun!" suara Revina menggelegar, bergetar oleh amarah yang sudah di ubun-ubun.

Anggun menoleh perlahan, wajahnya tetap tenang, dan itu justru membuat Revina semakin marah. "Ini jam istirahat, Revina. Kalau ada urusan organisasi, bisa dibicarakan di ruang MPK."

"Organisasi?" Revina tertawa sinis, langkahnya maju mendekati meja Anggun. "Kau mempermalukanku di depan semua orang! Kau sengaja menyuruhku memungut sampah daun itu hanya untuk menunjukkan bahwa kau punya kuasa, kan? Kau pikir siapa dirimu, hah? Hanya karena ban lengan MPK itu, kau merasa berhak menginjak harga diriku?"

"Itu hukuman dari kesiswaan, bukan kemauanku—"

"Bohong!" Revina menggebrak meja Anggun hingga botol minum di atasnya terjatuh. Prang! "Kau menikmati setiap aku membungkuk di tanah! Kau ingin aku terlihat kotor seperti sampah yang kau suruh kupungut itu!"

Kelas mulai riuh. Siswa-siswa berdiri di kursi, beberapa mulai merekam dengan ponsel mereka. Teman-teman Anggun mencoba menengahi, namun Revina mendorong siapa pun yang mendekat. Suasana memanas ketika Revina meraih buku catatan milik Anggun dan melemparkannya ke lantai, tepat di bawah kakinya yang masih kotor karena lumpur lapangan.

"Sekarang, siapa yang sampah?" desis Revina, matanya merah menahan tangis sekaligus dendam.

"Revina, kau sudah kelewatan!" Anggun akhirnya berdiri, suaranya meninggi, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi yang sama kuatnya.

Di tengah kerumunan yang semakin sesak dan sorakan provokasi dari belakang, Maya, sahabat karib Anggun, menyelinap keluar pintu, berlari kencang menuju ruang kesiswaan di lantai bawah.

"Bu! Bu Leoooo…! Revina dan Anggun... mereka berkelahi di kelas!" teriak Maya begitu sampai di depan pintu ruang Bu Leoni.

***

Ruang Kesiswaan terasa mencekam. Detak jam dinding seperti berdentum keras di tengah keheningan yang kaku. Revina duduk di kursi kayu dengan tangan bersedekap, wajahnya masih memerah dan memalingkan muka. Di seberang meja, Anggun duduk tegak, matanya sembab namun raut wajahnya tetap terkunci rapat. Bu Leoni duduk di tengah, menatap keduanya dengan pandangan yang mampu menciutkan nyali siapapun.

"Saya tidak butuh penjelasan siapa yang memulai," suara Bu Leoni rendah namun tajam. "Kalian berdua adalah siswi berprestasi, tapi kelakuan kalian hari ini lebih rendah dari daun-daun yang kalian ributkan. Saya sudah meminta wali kalian untuk datang saat ini juga."

Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk. Sesosok pemuda dengan kemeja rapi melangkah masuk. Ia adalah Farhan, kakak Revina. Wajahnya tampak cemas—hingga langkahnya terhenti tepat di tengah ruangan.

Pandangan Farhan terkunci pada sosok gadis yang duduk di samping adiknya. Matanya membelalak. "Anggun?"

Anggun mendongak. Bahunya yang tadinya tegang seketika merosot. Ekspresi terkejut yang sama hebatnya menghiasi wajahnya. "Kak Farhan?"

Revina mengerutkan kening, menoleh bergantian pada kakak dan musuhnya. "Kalian saling kenal?"

Farhan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, ia menatap Bu Leoni yang kini tersenyum tipis—sebuah senyuman yang seolah berkata, 'Sejarah selalu punya cara untuk terulang.'

"Bu Leoni," Farhan menyapa guru itu dengan nada tak berdaya.

Bu Leoni menyandarkan punggungnya di kursi. "Persis, Farhan. Hanya saja kali ini pelakunya adalah adikmu sendiri. Dan korbannya... adalah seseorang yang dulu pernah kau maki di tempat yang sama."

Revina tertegun. Ia menatap Farhan, mencari penjelasan. Farhan mengusap wajahnya dengan kasar. Dua tahun yang lalu, di bibir lapangan yang sama, Farhan adalah ketua MPK dan pernah menghukum Anggun—yang saat itu masih siswi baru—dengan hukuman yang identik: memungut daun di bawah terik matahari hingga Anggun jatuh pingsan karena kelelahan. Perdebatan hebat terjadi di ruangan ini, di mana Farhan bersikeras pada kedisiplinan sementara Anggun melawan demi kemanusiaan.

"Dulu, Kak Farhan yang berdiri di posisi Anggun sekarang," suara Anggun bergetar, menatap Revina. "Dan aku berada di posisimu, Revina. Aku membenci kakakmu berbulan-bulan karena merasa dipermalukan. Dan sekarang..." Anggun menjeda kalimatnya, menatap lencana MPK di dadanya sendiri. "Sekarang aku justru melakukan hal yang sama padamu."

Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih berat. Revina merasa dadanya sesak. Amarah yang tadinya membara kini berganti menjadi rasa canggung yang aneh. Ternyata, Anggun bukan sedang membalas dendam melalui dirinya, Anggun hanya menjalankan sistem yang dulu justru diciptakan oleh kakaknya sendiri.

Farhan mendekati Revina, meletakkan tangan di bahu adiknya. "Vina, dunia ini sempit. Kemarahanmu hari ini adalah cermin dari kesombongan Kakak di masa lalu. Tapi Anggun... dia tidak salah. Dia hanya mencoba untuk tetap konsisten atas aturan yang sudah ada dan pastinya akan lebih baik dari masa ku dulu."

Revina menepis pelan tangan kakaknya, namun matanya tak lagi berapi-api. Ia menatap Anggun, yang kini justru menunduk. Di ruangan yang dingin itu, Revina menyadari bahwa musuh yang ia benci sebenarnya adalah korban dari didikan keras kakaknya sendiri.

Senin pagi, melalui wali kelas, sekolah menginformasikan bahwa siswa baru agar bersiap menentukan ekstra pilihan dari selain ekstra wajib pramuka. Revina memiih ektra OSIS, tapi disitu ada rendi yang dulu pernah akrab dan kini retak karena rendi lebih memilih berteman dengan Anggun, kemudian revina memilih PMR, dan sialnya disitu ada Lulu, teman SMP yang selalu bersaing dalam nilai matematika. Dan akhirnya, mau tidak mau ia memilih ekstra pilihan OPL karena disana tidak bersinggungan dengan siapapun yang membuatnya tidak nyaman.

Sudah menjadi adat organisasi ini, selepas penerimaan anggota Organisasi baru, langsung diselenggarakan reorganisasi, dan setelah menyatakan ikut OPL, Revina terpilih untuk masuk 3 kandidat utama Ketua Organisasi tersebut. Ruang seleksi OPL dipenuhi aroma tanah dan bibit tanaman. Para panitia, yang mayoritas senior dengan kemeja lapangan, menatap Revina penuh sanksi. Mereka tahu Revina adalah gadis yang dihukum memungut daun minggu lalu.

"Kenapa kau memilih OPL, Revina? Bukankah kau membenci tanah?" tanya seorang penguji dengan nada sinis.

Revina menarik napas panjang. "Membenci? Justru sebaliknya," suara Revina mengalun tenang, penuh wibawa. "Hukuman kemarin adalah tamparan bagi saya. Saya menyadari bahwa sekolah ini memiliki ekosistem yang luar biasa, namun kekurangan narasi yang kuat untuk membawanya ke publik. Saya ingin OPL bukan hanya sekadar komunitas pemilah sampah, tapi menjadi garda depan lingkungan sekolah kita."

Ia berargumentasi dengan begitu cerdas, memutarbalikkan logika, dan menggunakan diksi-diksi tingkat tinggi yang membuat para penguji terkesima. Kemampuan public speaking-nya yang memukau menutupi fakta bahwa ia tidak tahu banyak hal terkait OPL. Dan itulah kekuatannya, hanya dengan bermodalkan membaca selintas brosur di mading dan bertanya singkat pada beberapa siswa tadi pagi, ia mampu membangun argumen dengan baik.

Tiga hari kemudian pengumuman keluar. Warga sekolah gempar. Revina, sang primadona yang sempat bermasalah dengan kesiswaan, justru terpilih menjadi Ketua OPL.

Sorak-sorai terdengar saat ia berdiri di depan anggota barunya. Dari kejauhan, ia melihat Anggun yang memperhatikannya dengan tatapan tak terbaca. Revina mengangkat dagunya, berusaha terlihat tangguh dan kompeten.

Namun, saat ia kembali ke bangkunya, tangannya bergetar hebat di bawah meja. Ia menunduk menatap buku catatannya yang masih kosong tentang materi lingkungan. Apa yang telah kulakukan? batinnya menjerit. Aku baru saja memenangkan tahta di sebuah kerajaan yang bahasanya pun tidak kupahami sama sekali.

Revina menyadari satu hal yang mengerikan, Ia baru saja menggali lubang yang lebih dalam dari sekadar hukuman memungut daun. Ia kini adalah seorang pemimpin dengan pemahaman nol besar, berdiri di atas ekspektasi ratusan orang yang menunggu langkah pertamanya.

Dua minggu menjabat sebagai Ketua OPL terasa seperti berjalan di atas seutas tali tipis, di luar, ia tampak berwibawa dengan seragam yang selalu rapi, namun di dalam, ia terus-menerus dihantui berbagai perasaan atas minimnya keyakinan. Hingga akhirnya, "bom waktu" itu meledak seperti petir di siang bolong.

Pak Waluyo, ketua Tim Adwiyata sekolah memanggilnya ke ruang pertemuan. "Revina, sekolah kita akan kedatangan tamu. Sebuah SMA dari luar pulau akan melakukan kunjungan studitiru. Sebagai Ketua OPL yang baru, kau ditugaskan untuk mempresentasikan system kader pada OPL di sekolah kita."

Revina merasa sesak. Studitiru? Menjelaskan sistem kader? Ia bahkan baru menghafal warna-warna rompi mereka pagi ini. Dan di hadapannya, kini tujuh kader OPL berdiri berjejer, mengenakan rompi kebanggaan mereka yang berwarna-warni bagai pelangi. Hijau untuk Kader Penghijauan, biru untuk Kader Patriotisme Iman & Taqwa, merah untuk Kader Kesehatan Remaja, kuning untuk Kader Hemat Energi & Air, nila untuk Kader Literasi Lingkungan, orange untuk Kader Pengolahan Sampah Organik, dan ungu untuk Kader Pengolahan Sampah Anorganik.

"Setiap kader punya data teknis masing-masing, Revina," ucap Pak Waluyo serius. "Terutama Kader Orange. Mereka adalah jantung dari sistem hukuman kedisiplinan kita. Daun-daun yang dipungut siswa terlambat setiap pagi adalah bahan baku utama mereka. Para tamu ingin tahu efektivitas konversi sampah itu menjadi media tanam selama satu bulan."

Revina menelan ludah. Pandangannya terpaku pada rompi berwarna Orange. Itu adalah divisi yang paling ia benci, divisi yang mengawasi hukumannya waktu lalu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, data jumlah daun, berat cacahan, hingga hasil akhir pengomposan selama sebulan terakhir semuanya dicatat secara detail oleh pengawas kedisiplinan. Dan, berarti pula bahwa data itu ada di tangan Anggun.

Ia menyadari sebuah kenyataan pahit, ia tidak bisa memenangkan panggung ini sendirian. Presentasi menawan tidak akan cukup tanpa angka-angka nyata. "Dua minggu," bisik Revina. "Aku punya dua minggu untuk memahami keringat yang ada di balik setiap rompi ini."

Untuk pertama kalinya, Revina tidak memikirkan tentang bagaimana ia terlihat cantik di depan kamera atau bagaimana suaranya terdengar merdu di podium. Ia memikirkan tentang kader-kader yang memakai rompi warna-warni itu—mereka yang bekerja dalam diam sementara ia hanya akan menjual kata-kata.

Sepulang sekolah, di area minifactory yang sunyi dan dikelilingi tumpukan daun, Revina menunggu. Suara langkah kaki yang mengenai daun kering di atas rumput lapangan  menandakan kedatangan Anggun yang membawa tumpukan map laporan bulanan. "Aku tahu kau akan mencariku," ujar Anggun tenang, berhenti tepat di depan Revina.

Revina menarik napas panjang, menelan harga dirinya bulat-bulat di tempat ia pernah merasa terhina, Ia  juga teringat kejadian labrak-labrakan di kelas beberapa minggu lalu. Rasanya pahit harus meminta bantuan pada orang yang pernah ia maki. "Aku butuh data, berapa banyak daun yang dikumpulkan dari anak-anak yang terlambat selama sebulan? Aku harus mempresentasikannya di depan tamu minggu depan."

Anggun menatap Revina tajam. "Kau mau data itu hanya untuk terlihat hebat di depan tamu, atau kau benar-benar ingin tahu bagaimana sistem ini menyelamatkan sekolah kita?"

"Keduanya!" jawab Revina cepat, lalu suaranya melunak. "Jujur, Anggun... aku tidak tahu apa-apa. Aku takut mempermalukan sekolah ini."

Mendengar kejujuran itu, pertahanan Anggun runtuh. Ia menyerahkan sebuah map cokelat. "Daun-daun yang kau pungut dengan penuh amarah waktu itu, Revina... jumlahnya mencapai limapuluh kilogram dalam sebulan. Jika tidak dicacah, akan jadi sampah yang dibakar dan merusak udara. Tapi lihat ini..." Anggun menunjukkan kolom data media tanam dan hasil kebun sayur sekolah.

Sisa sore itu, pemandangan ajaib terjadi, dua siswa yang dulu hampir baku hantam, kini duduk berdampingan di atas drum plastic kosong yang terbaring di samping mesin pencacah, membedah angka dan data-data penting tentang kegiatan OPL.

Hari kunjungan tiba. Revina melangkah ke podium aula dengan jantung berdegup kencang, namun matanya mencari sosok Anggun yang mengangguk kecil di barisan belakang. "Setiap helai daun yang dipungut oleh tangan-tangan yang terlambat adalah bahan baku kehidupan," suaranya menggema mantap. Ia membedah peran tujuh kader dengan detail nan menawan, perpaduan bakat bicara alami dan data akurat yang ia pelajari dalam waktu singkat, mampu meyakinkan bahwa Revian adalah pemain lama yang kompeten di bidang OPL.  Dan riuh tepuk tangan seisi aula pun pecah, beberapa dari para hadirin bahkan hingga berdiri sambil terus bertepuk tangan saking kagumnya saat ia menutup presentasi. Di sudut aula, Farhan yang juga hadir sebagai tamu undangan khusus karena alumni sekaligus pernah menjadi ketua MPK tersenyum lebar melihat adiknya telah berdamai dengan tanah, disampingnya berdiri Anggun yang sesekali melirik kearahnya.

Selasa, 16 September 2025

TEPUKAN HUJAN

Hujan yang makin deras 

kain selimut tipis terasa menebal

derai rinai hujan, jatuh dari genting-genting

seperti tepukan sorak sorai, 

seiring air deras yang mengalir di talang

menjadi pemimpin tepukan yang mendominasi 

Rabu, 10 September 2025

GELISAH


Kegelisahaan yang bertubi

Membuat tempurung kepala seakan mengelupas

Betapa dahsyatnya buah pikiran

membuat kebas jaringan perasaan

Membuat tumpul logika

Melumpuhkan tindakan dari kendali fikiran


Dan itu mudah bagi Allah 

Untuk membuat hamba Nya demikian 

sementara doa dan kepasrahan 

adalah formula optimal yang jelas² dosisnya, namun  terkadang tidak diimani, hingga dilupakan sama sekali 


Jadikan menjauh dari ini

Manusia² butuh tapi keluar dari strategi

Jatuhlah ke kubangan penyesalan 

yg tidak main² konsekuensinya


Rabu, 10 September 25

Rabu, 27 Agustus 2025

HUJAN DI KOST-KOSTAN


deras hujan semalam, ternyata hingga subuh, kini telah reda. tetesan air air terakhir yang jatuh melambat di setiap ujung genting deretan terendah di rumah rumah warga, terlihat berkilauan memantul cahaya lampu jalan, seperti nyala kembang api yang indahnya hanya sesingkat detik.

30 an meter kekanan dari pertigaan jalan yang menghubung ke kota besar, ada pohon pinus perkasa dengan batang sebesar perut kerbau dewasa, ujungnya yang seperti menyentuh langit bila dilihat dari bawah, menjadi spot fafourite bagi aneka burung dengan bertengger dan berkicau lepas. dan pagi ini kicauannya terdengar jelas, menggantikan suara tetesan air hujan yang terus melemah hingga hilang sama sekali. Suara burung itu tidak asing, gampang dikenali, burung kutilang, kicaunya lantang, memecah pagi, menjadi transisi dari gelap gulita ke remang-remang hingga akhirnya ke terang benderang.

Dan, sebentar kemudian deru² mobil dan motor terdengar makin jelas, klakson² melolong yang tanpa harmoni mempertegas urusan para manusia yang padat untuk bermanja paksa dg prioritas individu masing-masing.

kicauan burung menjadi samar, derai rintik hujan hilang, nuansa pagi yang sejuk kini telah rusak dan makin berantakan.

Kubuka jendela kamar kost²

Dinding keliling rumah sebelah hanya berjarak 1 meter dari jndela 

Sarang laba² sepagi ini sudah terbangun rapi, terhubung dari ujung² daun pakis yg tumbuh di tembok, juga tangkai ² kering suplir yang mahkota daunnya lapuk, 

Gerimis mulai merintik lagi, sepertinya akan semakin deras, Saya harus berkemas berangkat kerja

Ajibarang, 27 Agustus 2025 

Sabtu, 12 Agustus 2023

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...