Udara pagi yang seharusnya segar diantara pohon-pohon besar, seketika
membakar paru-paru Revina, langkah kakinya menghantam aspal dengan irama yang
kacau, membuat bunyi plak-plak menggema di koridor terbuka sepanjang seratus
meteran. Pada sisi kiri pring gendani berderet rapi, dan sisi kanannya deretan rindang
ketapang kencana berdiri kokoh seperti barisan raksasa yang menertawakan
keterlambatannya, dan serombongan siswa laki-laki berlari kencang mendahuluinya.
Dahulu, para pendiri sekolah ini pastilah orang-orang yang visioner,
lapangan luar dengan ukuran ideal lapangan sepakbola ini ditata paling depan
berjarak enam meteran dari jalan raya, dan mengonsep gerbang utama yang megah
sebagai filter awal. Namun bagi Revina, jarak antara gerbang depan dan gerbang
tengah pagi ini seperti jebakan yang sengaja dirancang untuk menyeleksi siswa
disiplin dan siswa pemalas. Di kejauhan, siluet kaku Bu Leoni berdiri tegak di
ambang gerbang tengah, tangannya terangkat memegang jam digital seolah sedang
memegang kendali atas nasib setiap siswa yang datang terlambat.
"Sepuluh! Sembilan!" Suara Bu Leoni membelah deru langkah kaki
siswa yang berlari kencang, melengking, tajam, dan tanpa kompromi. Revina
memacu jantungnya hingga batas maksimal. Seragamnya basah oleh keringat, tas
punggungnya terasa berlipat lebih berat. Ia bisa melihat Anggun, salah satu
peserta organisasi Majelis Perwakilan Kelas (MPK) dengan ban lengan yang rapi,
berdiri di samping Bu Leoni sambil menatap kronometer dengan dingin. Hanya
tinggal sepuluh meter lagi. Sedikit lagi.
"Dua! Satu! Cukup!"
Teman-temannya yang berlari lebih kencang berhasil masuk melewati Anggun
dan bu leoni, namun Revina, terhenti sendirian tepat di depan hidung Bu Leoni.
Tubuhnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada lutut, berusaha meraup
oksigen sebanyak mungkin. Dunia terasa berputar, kunang-kunang bertebaran
disekitar kepala, Ia mendongak perlahan, berharap ada keajaiban atau setidaknya
setitik rasa iba. Namun, Bu Leoni justru memutar pergelangan tangannya ke arah
wajah Revina. Layar digital itu menyala dengan angka kejam: 06.31.
"Satu menit, Revina," suara Bu Leoni terdengar lebih berat dari
biasanya. "Dan di sekolah ini, satu menit adalah garis pemisah antara
disiplin dan kehancuran. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Revina menoleh ke arah Anggun
yang kini sudah menyodorkan ember bekas wadah cat dengan senyum tipis seperti
sinis. Dan, detik itulah Revina tahu, pagi ini bukan hanya tentang memungut
daun, tapi awal sebuah permainan harga diri yang tidak akan ia lupakan.
Matahari mulai merangkak naik, sinarnya semakin terang, hawa dingin sisa
hujan semalam masih mengendap di antara akar-akar pohon ketapang kencana. Di
bibir lapangan yang luas itu, Revina berdiri mematung.
"Mulai dari sudut sana, Revina," suara Anggun terdengar datar,
namun di telinga Revina, itu terdengar seperti cambuk. "Hanya daun yang
lebar, basah atau kering tidak masalah. Pastikan tidak ada plastik yang
terbawa, atau kau harus mengulanginya dari awal."
Revina mengepalkan tinjunya. Sebagai siswi yang selalu menjaga
penampilannya, berdiri di tengah lapangan dengan keringat yang mulai membasahi
pelipis sambil memunguti sampah adalah penghinaan tingkat tinggi. Ia melirik ke
arah gedung kelas di lantai dua. Ia tahu, di balik jendela-jendela itu, mata
teman-temannya pasti sedang menonton "sang primadona" yang kini jatuh
kasta menjadi pemungut daun.
Dengan gerakan kaku, Revina berlutut. Ia mengambil selembar daun jati
kering kecokelatan. Krak. Daun itu hancur karena ia menekannya terlalu
keras—sekeras amarah yang tertahan di dadanya.
"Waktumu hanya sampai jam pelajaran pertama dimulai," tegur
Anggun lagi, masih berdiri tegak dengan buku catatan tak jauh dari posisi
Revina.
"Aku tahu!" bentak Revina tanpa menoleh.
Ia mulai bergerak menyisir bibir lapangan. Lumpur tipis mulai mengotori
sepatu hitam mahal dengan leres tipis abu-abu. Setiap kali ia membungkuk,
setiap itu pula harga dirinya terasa ikut terseret ke tanah. Ia harus memilah
daun-daun basah yang lengket karena tanah, memasukkannya ke dalam tong berbau
apek di area minifactory.
Revina sampai di depan mesin pencacah daun. Mesin itu diam, tampak
seperti monster besi yang siap menelan segala kemarahan Revina. Saat ia
menumpahkan dedaunan dari wadah cat ke drum plastik berwarna biru ukuran 120
literan itu, butiran air dari daun basah menciprat ke pipinya. Revina berhenti.
Ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, meninggalkan coretan tanah di
kulitnya yang putih bersih. Ia menoleh ke arah Anggun dengan tatapan tajam yang
menyala.
"Kau sangat menikmatinya bukan?" suara Revina bergetar karena
emosi. "Melihatku seperti ini? Merasa menang karena punya jabatan di
sekolah ini?"
Anggun tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di
batas aspal dan rumput. "Ini bukan soal menang atau kalah, Revina. Ini
soal sekolah ini punya aturan. Dan kau baru saja menyentuh bagian paling dasar
dari ekosistem tempat kita belajar."
"Kau akan membayar ini, Anggun," desis Revina, suaranya rendah
namun penuh ancaman. "Aku tidak akan lupa bagaimana rasanya tanah ini di
tanganku. Dan aku pastikan, kau juga akan merasakannya."
Revina kembali membungkuk, memunguti daun berikutnya dengan kemarahan
yang kini sudah berubah menjadi rencana pembalasan.
---
Bel istirahat pertama membelah kesunyian koridor, dan bagi revina, itu bunyi
genderang perang. Ia tidak menuju kantin. Ia tidak mencari minum untuk membasuh
tenggorokannya yang kering setelah dihukum. Dengan tangan yang masih menyisakan
noda tanah samar dan hati yang mendidih, ia melangkah menuju kelas XI-4—wilayah
kekuasaan Anggun.
Setiap langkah Revina di koridor lantai dua itu menebarkan aura dingin.
Para siswa yang berpapasan dengannya refleks menepi, melihat wajah sang
primadona yang biasanya ceria kini berubah menjadi mendung yang siap
menumpahkan badai.
BRAK!
Pintu kelas XI-4 terbuka lebar karena hantaman tangan Revina. Suara riuh rendah
di dalam kelas seketika senyap. Puluhan pasang mata tertuju pada pintu. Di
sana, Revina berdiri dengan nafas memburu, matanya menyapu ruangan hingga
berhenti pada satu titik dimana Anggun yang sedang tenang merapikan mukena di
bangkunya.
"Anggun!" suara Revina menggelegar, bergetar oleh amarah yang
sudah di ubun-ubun.
Anggun menoleh perlahan, wajahnya tetap tenang, dan itu justru membuat
Revina semakin marah. "Ini jam istirahat, Revina. Kalau ada urusan
organisasi, bisa dibicarakan di ruang MPK."
"Organisasi?" Revina tertawa sinis, langkahnya maju mendekati
meja Anggun. "Kau mempermalukanku di depan semua orang! Kau sengaja
menyuruhku memungut sampah daun itu hanya untuk menunjukkan bahwa kau punya
kuasa, kan? Kau pikir siapa dirimu, hah? Hanya karena ban lengan MPK itu, kau
merasa berhak menginjak harga diriku?"
"Itu hukuman dari kesiswaan, bukan kemauanku—"
"Bohong!" Revina menggebrak meja Anggun hingga botol minum di
atasnya terjatuh. Prang! "Kau menikmati setiap aku membungkuk di tanah!
Kau ingin aku terlihat kotor seperti sampah yang kau suruh kupungut itu!"
Kelas mulai riuh. Siswa-siswa berdiri di kursi, beberapa mulai merekam
dengan ponsel mereka. Teman-teman Anggun mencoba menengahi, namun Revina
mendorong siapa pun yang mendekat. Suasana memanas ketika Revina meraih buku
catatan milik Anggun dan melemparkannya ke lantai, tepat di bawah kakinya yang
masih kotor karena lumpur lapangan.
"Sekarang, siapa yang sampah?" desis Revina, matanya merah
menahan tangis sekaligus dendam.
"Revina, kau sudah kelewatan!" Anggun akhirnya berdiri,
suaranya meninggi, matanya mulai berkaca-kaca menahan emosi yang sama kuatnya.
Di tengah kerumunan yang semakin sesak dan sorakan provokasi dari
belakang, Maya, sahabat karib Anggun, menyelinap keluar pintu, berlari kencang
menuju ruang kesiswaan di lantai bawah.
"Bu! Bu Leoooo…! Revina dan Anggun... mereka berkelahi di
kelas!" teriak Maya begitu sampai di depan pintu ruang Bu Leoni.
***
Ruang Kesiswaan terasa mencekam. Detak jam dinding seperti berdentum
keras di tengah keheningan yang kaku. Revina duduk di kursi kayu dengan tangan
bersedekap, wajahnya masih memerah dan memalingkan muka. Di seberang meja,
Anggun duduk tegak, matanya sembab namun raut wajahnya tetap terkunci rapat. Bu
Leoni duduk di tengah, menatap keduanya dengan pandangan yang mampu menciutkan
nyali siapapun.
"Saya tidak butuh penjelasan siapa yang memulai," suara Bu
Leoni rendah namun tajam. "Kalian berdua adalah siswi berprestasi, tapi
kelakuan kalian hari ini lebih rendah dari daun-daun yang kalian ributkan. Saya
sudah meminta wali kalian untuk datang saat ini juga."
Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk. Sesosok pemuda dengan kemeja
rapi melangkah masuk. Ia adalah Farhan, kakak Revina. Wajahnya tampak
cemas—hingga langkahnya terhenti tepat di tengah ruangan.
Pandangan Farhan terkunci pada sosok gadis yang duduk di samping adiknya.
Matanya membelalak. "Anggun?"
Anggun mendongak. Bahunya yang tadinya tegang seketika merosot. Ekspresi
terkejut yang sama hebatnya menghiasi wajahnya. "Kak Farhan?"
Revina mengerutkan kening, menoleh bergantian pada kakak dan musuhnya.
"Kalian saling kenal?"
Farhan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, ia menatap Bu
Leoni yang kini tersenyum tipis—sebuah senyuman yang seolah berkata, 'Sejarah
selalu punya cara untuk terulang.'
"Bu Leoni," Farhan menyapa guru itu dengan nada tak berdaya.
Bu Leoni menyandarkan punggungnya di kursi. "Persis, Farhan. Hanya
saja kali ini pelakunya adalah adikmu sendiri. Dan korbannya... adalah
seseorang yang dulu pernah kau maki di tempat yang sama."
Revina tertegun. Ia menatap Farhan, mencari penjelasan. Farhan mengusap
wajahnya dengan kasar. Dua tahun yang lalu, di bibir lapangan yang sama, Farhan
adalah ketua MPK dan pernah menghukum Anggun—yang saat itu masih siswi
baru—dengan hukuman yang identik: memungut daun di bawah terik matahari hingga
Anggun jatuh pingsan karena kelelahan. Perdebatan hebat terjadi di ruangan ini,
di mana Farhan bersikeras pada kedisiplinan sementara Anggun melawan demi
kemanusiaan.
"Dulu, Kak Farhan yang berdiri di posisi Anggun sekarang,"
suara Anggun bergetar, menatap Revina. "Dan aku berada di posisimu,
Revina. Aku membenci kakakmu berbulan-bulan karena merasa dipermalukan. Dan
sekarang..." Anggun menjeda kalimatnya, menatap lencana MPK di dadanya
sendiri. "Sekarang aku justru melakukan hal yang sama padamu."
Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih berat. Revina
merasa dadanya sesak. Amarah yang tadinya membara kini berganti menjadi rasa
canggung yang aneh. Ternyata, Anggun bukan sedang membalas dendam melalui
dirinya, Anggun hanya menjalankan sistem yang dulu justru diciptakan oleh
kakaknya sendiri.
Farhan mendekati Revina, meletakkan tangan di bahu adiknya. "Vina,
dunia ini sempit. Kemarahanmu hari ini adalah cermin dari kesombongan Kakak di
masa lalu. Tapi Anggun... dia tidak salah. Dia hanya mencoba untuk tetap
konsisten atas aturan yang sudah ada dan pastinya akan lebih baik dari masa ku
dulu."
Revina menepis pelan tangan kakaknya, namun matanya tak lagi berapi-api.
Ia menatap Anggun, yang kini justru menunduk. Di ruangan yang dingin itu,
Revina menyadari bahwa musuh yang ia benci sebenarnya adalah korban dari
didikan keras kakaknya sendiri.
Senin pagi, melalui wali kelas, sekolah menginformasikan bahwa siswa baru
agar bersiap menentukan ekstra pilihan dari selain ekstra wajib pramuka. Revina
memiih ektra OSIS, tapi disitu ada rendi yang dulu pernah akrab dan kini retak
karena rendi lebih memilih berteman dengan Anggun, kemudian revina memilih PMR,
dan sialnya disitu ada Lulu, teman SMP yang selalu bersaing dalam nilai
matematika. Dan akhirnya, mau tidak mau ia memilih ekstra pilihan OPL karena
disana tidak bersinggungan dengan siapapun yang membuatnya tidak nyaman.
Sudah menjadi adat organisasi ini, selepas penerimaan anggota Organisasi
baru, langsung diselenggarakan reorganisasi, dan setelah menyatakan ikut OPL,
Revina terpilih untuk masuk 3 kandidat utama Ketua Organisasi tersebut. Ruang
seleksi OPL dipenuhi aroma tanah dan bibit tanaman. Para panitia, yang
mayoritas senior dengan kemeja lapangan, menatap Revina penuh sanksi. Mereka
tahu Revina adalah gadis yang dihukum memungut daun minggu lalu.
"Kenapa kau memilih OPL, Revina? Bukankah kau membenci tanah?"
tanya seorang penguji dengan nada sinis.
Revina menarik napas panjang. "Membenci? Justru sebaliknya,"
suara Revina mengalun tenang, penuh wibawa. "Hukuman kemarin adalah
tamparan bagi saya. Saya menyadari bahwa sekolah ini memiliki ekosistem yang
luar biasa, namun kekurangan narasi yang kuat untuk membawanya ke publik. Saya
ingin OPL bukan hanya sekadar komunitas pemilah sampah, tapi menjadi garda
depan lingkungan sekolah kita."
Ia berargumentasi dengan begitu cerdas, memutarbalikkan logika, dan
menggunakan diksi-diksi tingkat tinggi yang membuat para penguji terkesima.
Kemampuan public speaking-nya yang memukau menutupi fakta bahwa ia tidak tahu banyak
hal terkait OPL. Dan itulah kekuatannya, hanya dengan bermodalkan membaca
selintas brosur di mading dan bertanya singkat pada beberapa siswa tadi pagi,
ia mampu membangun argumen dengan baik.
Tiga hari kemudian pengumuman keluar. Warga sekolah gempar. Revina, sang
primadona yang sempat bermasalah dengan kesiswaan, justru terpilih menjadi
Ketua OPL.
Sorak-sorai terdengar saat ia berdiri di depan anggota barunya. Dari
kejauhan, ia melihat Anggun yang memperhatikannya dengan tatapan tak terbaca.
Revina mengangkat dagunya, berusaha terlihat tangguh dan kompeten.
Namun, saat ia kembali ke bangkunya, tangannya bergetar hebat di bawah
meja. Ia menunduk menatap buku catatannya yang masih kosong tentang materi
lingkungan. Apa yang telah kulakukan? batinnya menjerit. Aku baru saja
memenangkan tahta di sebuah kerajaan yang bahasanya pun tidak kupahami sama
sekali.
Revina menyadari satu hal yang mengerikan, Ia baru saja menggali lubang
yang lebih dalam dari sekadar hukuman memungut daun. Ia kini adalah seorang
pemimpin dengan pemahaman nol besar, berdiri di atas ekspektasi ratusan orang
yang menunggu langkah pertamanya.
Dua minggu menjabat sebagai Ketua OPL terasa seperti berjalan di atas
seutas tali tipis, di luar, ia tampak berwibawa dengan seragam yang selalu
rapi, namun di dalam, ia terus-menerus dihantui berbagai perasaan atas minimnya
keyakinan. Hingga akhirnya, "bom waktu" itu meledak seperti petir di
siang bolong.
Pak Waluyo, ketua Tim Adwiyata sekolah memanggilnya ke ruang pertemuan.
"Revina, sekolah kita akan kedatangan tamu. Sebuah SMA dari luar pulau
akan melakukan kunjungan studitiru. Sebagai Ketua OPL yang baru, kau ditugaskan
untuk mempresentasikan system kader pada OPL di sekolah kita."
Revina merasa sesak. Studitiru? Menjelaskan sistem kader? Ia bahkan baru
menghafal warna-warna rompi mereka pagi ini. Dan di hadapannya, kini tujuh
kader OPL berdiri berjejer, mengenakan rompi kebanggaan mereka yang
berwarna-warni bagai pelangi. Hijau untuk Kader Penghijauan, biru untuk Kader Patriotisme
Iman & Taqwa, merah untuk Kader Kesehatan Remaja, kuning untuk Kader Hemat
Energi & Air, nila untuk Kader Literasi Lingkungan, orange untuk Kader Pengolahan
Sampah Organik, dan ungu untuk Kader Pengolahan Sampah Anorganik.
"Setiap kader punya data teknis masing-masing, Revina," ucap Pak
Waluyo serius. "Terutama Kader Orange. Mereka adalah jantung dari sistem
hukuman kedisiplinan kita. Daun-daun yang dipungut siswa terlambat setiap pagi
adalah bahan baku utama mereka. Para tamu ingin tahu efektivitas konversi
sampah itu menjadi media tanam selama satu bulan."
Revina menelan ludah. Pandangannya terpaku pada rompi berwarna Orange.
Itu adalah divisi yang paling ia benci, divisi yang mengawasi hukumannya waktu
lalu. Dan yang lebih menyakitkan lagi, data jumlah daun, berat cacahan, hingga
hasil akhir pengomposan selama sebulan terakhir semuanya dicatat secara detail
oleh pengawas kedisiplinan. Dan, berarti pula bahwa data itu ada di tangan
Anggun.
Ia menyadari sebuah kenyataan pahit, ia tidak bisa memenangkan panggung
ini sendirian. Presentasi menawan tidak akan cukup tanpa angka-angka nyata. "Dua
minggu," bisik Revina. "Aku punya dua minggu untuk memahami keringat
yang ada di balik setiap rompi ini."
Untuk pertama kalinya, Revina tidak memikirkan tentang bagaimana ia
terlihat cantik di depan kamera atau bagaimana suaranya terdengar merdu di
podium. Ia memikirkan tentang kader-kader yang memakai rompi warna-warni
itu—mereka yang bekerja dalam diam sementara ia hanya akan menjual kata-kata.
Sepulang sekolah, di area minifactory yang sunyi dan dikelilingi tumpukan
daun, Revina menunggu. Suara langkah kaki yang mengenai daun kering di atas
rumput lapangan menandakan kedatangan
Anggun yang membawa tumpukan map laporan bulanan. "Aku tahu kau akan
mencariku," ujar Anggun tenang, berhenti tepat di depan Revina.
Revina menarik napas panjang, menelan harga dirinya bulat-bulat di tempat
ia pernah merasa terhina, Ia juga
teringat kejadian labrak-labrakan di kelas beberapa minggu lalu. Rasanya pahit
harus meminta bantuan pada orang yang pernah ia maki. "Aku butuh data, berapa
banyak daun yang dikumpulkan dari anak-anak yang terlambat selama sebulan? Aku
harus mempresentasikannya di depan tamu minggu depan."
Anggun menatap Revina tajam. "Kau mau data itu hanya untuk terlihat
hebat di depan tamu, atau kau benar-benar ingin tahu bagaimana sistem ini
menyelamatkan sekolah kita?"
"Keduanya!" jawab Revina cepat, lalu suaranya melunak.
"Jujur, Anggun... aku tidak tahu apa-apa. Aku takut mempermalukan sekolah
ini."
Mendengar kejujuran itu, pertahanan Anggun runtuh. Ia menyerahkan sebuah
map cokelat. "Daun-daun yang kau pungut dengan penuh amarah waktu itu,
Revina... jumlahnya mencapai limapuluh kilogram dalam sebulan. Jika tidak
dicacah, akan jadi sampah yang dibakar dan merusak udara. Tapi lihat
ini..." Anggun menunjukkan kolom data media tanam dan hasil kebun sayur
sekolah.
Sisa sore itu, pemandangan ajaib terjadi, dua siswa yang dulu hampir baku
hantam, kini duduk berdampingan di atas drum plastic kosong yang terbaring di
samping mesin pencacah, membedah angka dan data-data penting tentang kegiatan
OPL.
Hari kunjungan tiba. Revina melangkah ke podium aula dengan jantung berdegup kencang, namun matanya mencari sosok Anggun yang mengangguk kecil di barisan belakang. "Setiap helai daun yang dipungut oleh tangan-tangan yang terlambat adalah bahan baku kehidupan," suaranya menggema mantap. Ia membedah peran tujuh kader dengan detail nan menawan, perpaduan bakat bicara alami dan data akurat yang ia pelajari dalam waktu singkat, mampu meyakinkan bahwa Revian adalah pemain lama yang kompeten di bidang OPL. Dan riuh tepuk tangan seisi aula pun pecah, beberapa dari para hadirin bahkan hingga berdiri sambil terus bertepuk tangan saking kagumnya saat ia menutup presentasi. Di sudut aula, Farhan yang juga hadir sebagai tamu undangan khusus karena alumni sekaligus pernah menjadi ketua MPK tersenyum lebar melihat adiknya telah berdamai dengan tanah, disampingnya berdiri Anggun yang sesekali melirik kearahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar