Jumat, 19 Mei 2023

Kesempurnaan Tujuan

Ruangan kecil ukuran tiga kali empat meter memang sempit, dan akan bertambah sempit lagi ketika beberapa peralatan masuk didalamnya, belum lagi banyak orang yang masuk disana, sempurna sudah kesempitan itu. Dua kipas angin yang tertanggal pada dua sisi dinding mati, menambah panas ruangan itu. Terik matahari diluar begitu panas. Debu beterbangan di atas teras puskesmas, lalat berseliweran tanpa peduli kondisi panas terus berkerumun mencari tempat-tempat dimana sisa-sisa makanan basah terbuang begitu saja.

Ketika jarum suntik itu sudah berganti-ganti tempat, tidak jua dia mendapatkan otot yang bisa mengeluarkan darah, perawat itu terlihat gugup, ia tidak seperti biasanya, padahal yang biasanya dia menangani pasien begitu cekatan, lancar, dan hampir sempurna, tapi ini  terlihat panik, keringat bercucuran di wajah dan lehernya. Dia sendiri heran kenapa bisa demikian. Lancar, sempurna dan sesuai dengan apa yang direncana itu adalah harapan, seperti halnya harapan-harapan orang pada umumnya yang berharap tujuan sesuai dengan yang direncanakan, namun harapan tidak semuanya bisa nyata, ketika harapan tersebut diluar kondisi yang diperkirakan, bisa saja dan ada saja satu dua sandungan-sandungan pekerjaan sehingga timbulah kondisi yang tersebut tadi.

Kejadian yang terceritakan tadi adalah satu dari sekian cerita-cerita serupa yang sulit kita cari solusinya, dan kadang kita malas untuk memikirkan apalagi meneliti kenapa yang demikian itu sering terjadi, dan itu terjadi bisa berulang-ulang. Kenapa suasana bisa sepanas itu, kenapa kipas angin yang biasanya berfungsi dengan baik mendadak mati dua-duanya, kenapa orang-orang memaksa diri masuk dalam ruangan padahal jelas-jelas mereka semua tahu bahwa ruangannya sempit dan itu akan menambah panas suhu ruangan tersebut.

Dan kenapa-kenapa lainnya lagi yang kenapa harus bersamaan dalam waktu yang sama, seolah seperti tidak akan ada waktu yang lainnya lagi. Sesuatu hal yang kita anggap sulit dan kita mengetahui akan kapan waktu terjadinya hal tersebut, maka itu bisa saja menjadi mudah_atau minimal tidak separah yang ditakutkan_bila kita mempersiapkannya (fisik maupun psikis) lebih awal. Namun sebaliknya, ketika kondisi yang sudah kita perkirakan akan sulit dan kita tidak mempersiapkan apapun untuk mengantisipasi kesulitan tersebut, akan bagaimana jadinya.

Seperti kejadian di atas tadi, seorang perawat sudah paham sekali tentang bagaimana ia akan menusukan jarum pada otot untuk menyalurkan obat lewat infuse, paham karena itu memang bagian pekerjaannya setiap hari, dan ternyata kondisi tidaklah akan selalu sama setiap harinya,  terbukti, ketika suasana hati atau suasana di luar hati tidak kompromi, yang terjadi adalah kepanikan yang sulit tertaklukan, dan akibat fatalnya adalah ketika hal tersebut bersinggungan dengan keselamatan seseorang. Tentu ini harus cepat terantisipasi.

Dalam hal lain, sebut saja kita mau piknik ke bulan, ketika kita sadar betul bahwa besok adalah jadwal naik pesawat menuju bulan, hal yang paling logis untuk dilakukan sekarang adalah mempersiapkan dan cek segala sesuatunya yang diperlukan. Apakah bekal makanan sudah tercukupi? Apa air minum mineral beserta kopi susu atau coklat sudah ditata? Jangan sampai bekal-bekal yang paling prioritas terlewatkan atau lupa tidak terbawa. Bila itu terjadi, pastilah fatal akibatnya, kopi, susu coklat pisang goreng, rempeyek kacang dan udang sudah rapi disiapkan, bekal nafas yang paling prioritas digunakan di ruang hampa udara tidak ada. Matilah ia.

Jadi segala sesuatu apapun itu apabila dipersiapkan terlebih dahulu pastilah akan membawa kesempurnaan tujuan dan kelancaran sebuah kegiatan. Tak terkecuali kesempurnaan sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak.

Minggu 28 februari 2016_21:21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...