
Siang yang terik, hawa panas memenuhi ruang kelas Sekolah Menengah
ukuran 27x x27 (27 xlebar lantai keramik 30 centi meteran) KIpas angin yang
berputar lemah karena sudah terlalu lama umurnya bisa mengusir hawa panas dalam
kelas walau sedikit saja. Di bawahnya anak-anak serius mengerjakan soal UTS
semester 2 mapel uji jam ke 3
Diantara mereka ada 3 siswa yang entah sengaja atau tidak terlelap
begitu saja di atas lembar jawab yang masih bersih belum terisi, 2 siswa lainya
yang saling berjauhan asik berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan desis desis kecil tapi berisik. Seorang pengawas yang duduk di depan memberikan perhatian dan
peringatan : “Duduklah yang manis, jangan berisik, tidak usah tengak tengok
kiri kanan depan belakang, apalagi atas bawah.”
Siswa kembali tenang, lima menit kemudian desis desis itu kembali
berisik, bukan hanya 2 siswa, tapi hampir, tapi hampir seperempat jumlah siswa
dikelas itu saling berkomunikasi, masih dengan bahasa isyarat. Pengawas melotot, seperti menahan sesuatu di tenggorokan, lalu memberikan
perhatian dan peringatan yang sama seperti sebelumnya : “Duduklah yang manis,
jangan berisik, tidak usah tengak tengok kiri kanan depan belakang, apalagi
atas bawah.”
Dan siswa pun tenang kembali, 10 menit berikutnya sekelompok siswa yang
berada belakang dipojok kiri gaduh luar biasa. Beberapa anak menutup hidung,
beberapa lainnya mengipas-ngipaskan tangan didepan hidung.
Pengawas melotot lagi, yang ini terlihat lebih kenceng lototannya,
“ada apa kalian ribut-ribut!”
“Gendut kentut pak!!!” jawab mereka bersamaan.
Disitu hanya ada satu anak gendut satu sambil mesam mesem, yang lain
kurus semua, menutup hidung semua.
“sudah… sudah… kalian tenang lanjutkan
pekerjaan!, yang merasa terganggu tutup hidung,
ambil nafas pakai mulut, yang tidak terganggu jangan ikut-ikut ribut!”
“tapi baunya keterlaluan pak!” siswa dengan nafas tersengal terus
menerus mengipaskan tangan di depan hidungnya. “Kamu habis makan apa Nduttttt?!!!!”
ia menoleh ke gendut.
“Cuma lontong 1 dan telor rebus 3 butir saja kok…” jawab Gendut dengan
wajah berkerut.
“huekh… huekh… huekh… huekh….” Beberapa seperti mau muntah.
“sudah… sudah… tolong semua tenang!” bentak pak Pengawas “dan kamu
Gendut, lain kali kalau mau kentut izin dulu, kentutnya di WC.”
“ia pak, tadi juga mau izin dulu sama bapak, tapi malah keluar duluan”
jawab gendut, semua tertawa.
Setelah reda, kondisi terkendali, anak-anak tenang. Tapi lima menit
kemudian gaduh lagi, semua siswa saling berkomunikasi semua masih juga dengan
bahasa isyarat.
“JeDarrrrrrrr…!!!” tiba-tiba pengawas memukul meja dengan sangat keras.
Semua siswa terdiam, semua siswa tertunduk, ketakutan. Tapi gendut merasa tidak
takut sama sekali, kenapa? Karena ada yang aneh bagi gendut, kenapa pak
pengawas tidak melotot, malah tersenyum-senyum sambil menatap semua siswa? Itu pikiran
gendut,
Dan Gendut memberanikan diri untuk bertanya,
“Ada apa pak?” Tanya Gendut.
“tidak ada, Owh … kalian kaget?, Maafkan bapak ya …” jawab Pak Pengawas
dengan tersenyum.
Tadi seperti ada beberapa nyamuk sedang ngamuk di atas meja bapak, suaranya
kenceng dan gemrenggeng, makannya tak pukul, mereka langsung hilang. Tuh kan…
tenang, tidak ada lagi yang bersuara.”
Semua siswa masih tertunduk. Tak lagi mengamuk dengan desis
gemrenggengnya.