Sabtu, 04 Maret 2017

Nyamuk Ngamuk


Siang yang terik, hawa panas memenuhi ruang kelas Sekolah Menengah ukuran 27x x27 (27 xlebar lantai keramik 30 centi meteran) KIpas angin yang berputar lemah karena sudah terlalu lama umurnya bisa mengusir hawa panas dalam kelas walau sedikit saja. Di bawahnya anak-anak serius mengerjakan soal UTS semester 2 mapel uji jam ke 3
Diantara mereka ada 3 siswa yang entah sengaja atau tidak terlelap begitu saja di atas lembar jawab yang masih bersih belum terisi, 2 siswa lainya yang saling berjauhan asik berkomunikasi dengan bahasa isyarat  dan desis desis kecil tapi berisik. Seorang pengawas yang duduk di depan memberikan perhatian dan peringatan : “Duduklah yang manis, jangan berisik, tidak usah tengak tengok kiri kanan depan belakang, apalagi atas bawah.”
Siswa kembali tenang, lima menit kemudian desis desis itu kembali berisik, bukan hanya 2 siswa, tapi hampir, tapi hampir seperempat jumlah siswa dikelas itu saling berkomunikasi, masih dengan bahasa isyarat. Pengawas melotot, seperti menahan sesuatu di tenggorokan, lalu memberikan perhatian dan peringatan yang sama seperti sebelumnya : “Duduklah yang manis, jangan berisik, tidak usah tengak tengok kiri kanan depan belakang, apalagi atas bawah.”
Dan siswa pun tenang kembali, 10 menit berikutnya sekelompok siswa yang berada belakang dipojok kiri gaduh luar biasa. Beberapa anak menutup hidung, beberapa lainnya mengipas-ngipaskan tangan didepan hidung. 
Pengawas melotot lagi, yang ini terlihat lebih kenceng lototannya,
“ada apa kalian ribut-ribut!”
“Gendut kentut pak!!!” jawab mereka bersamaan.
Disitu hanya ada satu anak gendut satu sambil mesam mesem, yang lain kurus semua, menutup hidung semua.
“sudah…  sudah… kalian tenang lanjutkan pekerjaan!, yang merasa terganggu tutup hidung,  ambil nafas pakai mulut, yang tidak terganggu jangan ikut-ikut ribut!”
“tapi baunya keterlaluan pak!” siswa dengan nafas tersengal terus menerus mengipaskan tangan di depan hidungnya. “Kamu habis makan apa Nduttttt?!!!!” ia menoleh ke gendut.
“Cuma lontong 1 dan telor rebus 3 butir saja kok…” jawab Gendut dengan wajah berkerut.
“huekh… huekh… huekh… huekh….” Beberapa seperti mau muntah.
“sudah… sudah… tolong semua tenang!” bentak pak Pengawas “dan kamu Gendut, lain kali kalau mau kentut izin dulu, kentutnya di WC.”
“ia pak, tadi juga mau izin dulu sama bapak, tapi malah keluar duluan” jawab gendut, semua  tertawa.
Setelah reda, kondisi terkendali, anak-anak tenang. Tapi lima menit kemudian gaduh lagi, semua siswa saling berkomunikasi semua masih juga dengan bahasa isyarat.
“JeDarrrrrrrr…!!!” tiba-tiba pengawas memukul meja dengan sangat keras. Semua siswa terdiam, semua siswa tertunduk, ketakutan. Tapi gendut merasa tidak takut sama sekali, kenapa? Karena ada yang aneh bagi gendut, kenapa pak pengawas tidak melotot, malah tersenyum-senyum sambil menatap semua siswa? Itu pikiran gendut,
Dan Gendut memberanikan diri untuk bertanya,
“Ada apa pak?” Tanya Gendut.
“tidak ada, Owh … kalian kaget?, Maafkan bapak ya …” jawab Pak Pengawas dengan tersenyum.
Tadi seperti ada beberapa nyamuk sedang ngamuk di atas meja bapak, suaranya kenceng dan gemrenggeng, makannya tak pukul, mereka langsung hilang. Tuh kan… tenang, tidak ada lagi yang bersuara.”
Semua siswa masih tertunduk. Tak lagi mengamuk dengan desis gemrenggengnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...