Terjebak pada sebuah ruangan,
dengan kaki terikat, tubuh lelah, kedua tangan menggapai-gapai tanpa mampu
menyentuh apapun disekitar. Tiba-tiba sebuah pintu harapan terbuka, semburat
cahaya masuk menerjang ruangan, angin sejuk berhembus menembus semua
penghalang, ruangan yang tadinya gelap sekejap menjadi terang benderang,
udarapun terasa sejuk seperti di pegunungan dengan ribuan pepohonan yang
rindang.
Adalah ketakutan, perasaan takut
yang memuncak dengan semua hal yang mendukungnya, semua itu membangun jalan
pikiran menjadi buntu, pesimis dan mati. Seolah tak pernah lagi ada kesempatan.
Namun ternyata, selama kita
menyadari bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai akal dan fikiran,
diberi kemampuan untuk memahami banyak hal, semua kesulitan yang terhampar
dihadapan pasti akan pula disertai pintu peluang yang akan mengurai benang
kusut kesulitan-kesulitan tersebut.
Mungkin diantara kita pernah
terlintas pemikiran; manusia itu banyak, kenapa kesulitan harus jatuh hanya pada
kita? Bukankah sesuatu yang berat bila dibagi lebih dari seorang pasti akan berkurang
beban berat tersebut? Namun kenapa tidak demikian? Kenapa hanya saya saja yang
mendapat kesulitan tersebut? Kenapa, kenapa dan mengapa? Demikian kira-kira
pertanyaan pesismistis yang selalu memperkeruh otak.
Seorang pemancing ketika ingin
memancing banyak sekali pilihan yang bisa digunakan untuk umpan, tapi kenapa
harus jatuh pada seekor cacing yang nota bene tidak pernah punya salah apapun
terhadap ikan yang tempatnyapun sangat jauh dari kehidupan cacing di darat.
Perumpamaan disini mungkin agak
sedikit melenceng dari apa yang saya ceritakan pada awal paragraph tulisan ini,
namun saya kira substansinya sama, bahwa segala apapun ternyata sudah ada yang mengatur.
Dia, Dzat Yang Maha Segalanya tidak akan pernah memberikan cobaan kepada
mahluk-Nya melebihi batas kemampuan, seekor cacing yang sudah berada di ujung
pancing sekalipun bisa selamat bila yang Kuasa berkehendak atas itu.
Apalagi kita, manusia yang
dikaruniai akal dan fikiran pasti banyak celah-celah kesempatan yang menyertai
segala kesulitan yang kita hadapi, hanya saja kita mungkin belum jeli untuk
menemukan celah-celah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar