Jumat, 10 Maret 2017

Cacing di ujung pancing


Terjebak pada sebuah ruangan, dengan kaki terikat, tubuh lelah, kedua tangan menggapai-gapai tanpa mampu menyentuh apapun disekitar. Tiba-tiba sebuah pintu harapan terbuka, semburat cahaya masuk menerjang ruangan, angin sejuk berhembus menembus semua penghalang, ruangan yang tadinya gelap sekejap menjadi terang benderang, udarapun terasa sejuk seperti di pegunungan dengan ribuan pepohonan yang rindang.
Adalah ketakutan, perasaan takut yang memuncak dengan semua hal yang mendukungnya, semua itu membangun jalan pikiran menjadi buntu, pesimis dan mati. Seolah tak pernah lagi ada kesempatan.
Namun ternyata, selama kita menyadari bahwa kita adalah makhluk Tuhan yang dikaruniai akal dan fikiran, diberi kemampuan untuk memahami banyak hal, semua kesulitan yang terhampar dihadapan pasti akan pula disertai pintu peluang yang akan mengurai benang kusut kesulitan-kesulitan tersebut.
Mungkin diantara kita pernah terlintas pemikiran; manusia itu banyak, kenapa kesulitan harus jatuh hanya pada kita? Bukankah sesuatu yang berat bila dibagi lebih dari seorang pasti akan berkurang beban berat tersebut? Namun kenapa tidak demikian? Kenapa hanya saya saja yang mendapat kesulitan tersebut? Kenapa, kenapa dan mengapa? Demikian kira-kira pertanyaan pesismistis yang selalu memperkeruh otak.
Seorang pemancing ketika ingin memancing banyak sekali pilihan yang bisa digunakan untuk umpan, tapi kenapa harus jatuh pada seekor cacing yang nota bene tidak pernah punya salah apapun terhadap ikan yang tempatnyapun sangat jauh dari kehidupan cacing di darat.
Perumpamaan disini mungkin agak sedikit melenceng dari apa yang saya ceritakan pada awal paragraph tulisan ini, namun saya kira substansinya sama, bahwa segala apapun ternyata sudah ada yang mengatur. Dia, Dzat Yang Maha Segalanya tidak akan pernah memberikan cobaan kepada mahluk-Nya melebihi batas kemampuan, seekor cacing yang sudah berada di ujung pancing sekalipun bisa selamat bila yang Kuasa berkehendak atas itu.
Apalagi kita, manusia yang dikaruniai akal dan fikiran pasti banyak celah-celah kesempatan yang menyertai segala kesulitan yang kita hadapi, hanya saja kita mungkin belum jeli untuk menemukan celah-celah tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...