Siang ini, seperti biasa aku
menunggu anakku pulang sekolah dengan perasaan harap cemas.
"Assalamualaikum..."
suara anaku dari balik pintu.
"Wa'alaikum salam.."
jawab ku.
Dengan wajah lelah, kusut, cemberut
anaku, sudah dapat aku tebak pasti di Sekolah telah terjadi sesuatu yang tidak
menyenangkan. Dan ternyata benar, anaku telah di bully oleh teman-teman nya. Dari
mulai pertama berbaris di halaman, gurunya bilang;
"Anak-anak, sekolah ini
adalah SD Negeri ya... jadi kalo kalian berpakaian ya yang biasa-biasa saja
nggak usah neko-neko, seperti ini saja," Sambil menunjuk salah satu teman
anaku yang berpakaian seragam merah putih pendek. Jelas saja anakku kesal
karena dia satu-satunya anak di kelas itu yang memakai seragam merah putih
panjang berjilbab.
Terus teman-temannya juga selalu
menarik kerudungnya sampe copot sambil mengatakan, "Hei... anak Madrasah!…
pergi sana, pindah, jangan sekolah di sini!".
"Ma...kenapa sih mereka
memperlakukan aku seperti itu? aku kan pengin latihan menutup aurat, kata mama,
itu perintah Allah," kata anaku dengan wajah penuh kesal. Anaku
menceritakan semua kejadian di sekolahnya hari ini.
"Nak... kamu lihat nggak, vas
bunga di atas meja itu? cantik kan?".
"Iya ma...", kata anaku
dengan lesu.
"Dengar ya Nak, dulu vas
bunga itu sama sekali tidak cantik, dia hanya seonggok tanah liat yang hitam
dan lengket, tak seorang pun mau mendekati apalagi memegang nya. Suatu hari ada
seorang pengrajin mengambil tanah liat itu.
"Hai, mau di bawa kemana aku
ini!", teriak tanah liat. Lalu tanah liat di rendam sehari semalam di
dalam air, tanah liat kedinginan namun dia tetap sabar sambil berdoa karena
hanya itu yg dapat dia lakukan, setelah itu tanah liat di bawa dan di lempar ke
roda berputar,
"Aduh… pusing... stop! stop!,"
teriak tanah liat. Namun pengrajin itu tetap memutar roda itu berkali-kali.
Setelah dibentuk lalu tanah liat di jemur di bawah terik matahari, tanah liat
terus berteriak kepanasan, keringat bercucuran, setelah itu tanah liat diambil
dan di bawa, lalu dimasukan ke dalam tungku besar dengan kekuatan panas
700-1000 derajat celcius.
"Tolong... panas! panas! keluarkan
aku dari sini!," teriak tanah liat terus menerus.
Tapi tak seorang pun dapat
mengeluarkannya kecuali pengrajin itu. Setelah itu tanah liat di keluarkan dari
tungku panas, lalu dicat dan dilukis menjadi lebih cantik, Sekarang tanah liat
sudah terlihat sangat cantik, indah dan diperlakukan dengan sangat hati-hati
oleh semua orang, lebih bermanfaat, bernilai dan memiliki harga yang lebih
tinggi. Tanah liat juga selalu dipajang di tempat-tempat yang bersih dan bisa terlihat
oleh siapapun, selalu menjadi hiasan yang mempercantik ruangan juga ditemani
bunga-bunga.
“Lalu, apa hubungannya Vas bunga
itu sama Aku Ma?" Kata anaku dengan penasaran.
"Sama, suatu saat, kamu akan
jadi orang yang lebih bernilai, lebih bermanfaat, berharga dan mulia jika kamu
bisa sabar, ikhlas melewati rintangan dan cobaan dari teman-temanmu dan juga
orang-orang disekitarmu yang masih menggangu dan membullymu, memang tidaklah
menyenangkan saat Allah membentuk kamu, penuh dengan penderitaan, air mata, kesedihan
dan sangatlah tidak menyenangkan, tapi inilah cara Allah dalam membentukmu, agar
kamu bisa menjadi orang yang tangguh, lebih berharga, bermanfaat dan mulia, seperti
Vas bunga tadi, dia tidak akan menjadi Vas bunga yang cantik, bermanfaat dan
berharga, jika tidak melewati begitu banyak cobaan, penderitaan yang
menyakitkan selama proses pembentukannya, dengan penuh kesabaran, keikhlasan
dan tawakal hanya kepada Allah.
Terimakasih yang telah membuly
anakku karena dengan bullyan itu anaku mendapatkan pelajaran baru dan berharga
sebagai bekal kehidupannya kelak, Amiiin.
(Uji P. _Tlaga, 3 Desember 2019)
(Uji P. _Tlaga, 3 Desember 2019)
Cerita pendek dengan pesan pesan penyemangat yang luar biasa mba uji.
BalasHapus