Selasa, 03 Desember 2019

TERIMAKASIH TELAH KAU BULLY ANAKKU


Siang ini, seperti biasa aku menunggu anakku pulang sekolah dengan perasaan harap cemas.
"Assalamualaikum..." suara anaku dari balik pintu.
"Wa'alaikum salam.." jawab ku.
Dengan wajah lelah, kusut, cemberut anaku, sudah dapat aku tebak pasti di Sekolah telah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Dan ternyata benar, anaku telah di bully oleh teman-teman nya. Dari mulai pertama berbaris di halaman, gurunya bilang;
"Anak-anak, sekolah ini adalah SD Negeri ya... jadi kalo kalian berpakaian ya yang biasa-biasa saja nggak usah neko-neko, seperti ini saja," Sambil menunjuk salah satu teman anaku yang berpakaian seragam merah putih pendek. Jelas saja anakku kesal karena dia satu-satunya anak di kelas itu yang memakai seragam merah putih panjang berjilbab.
Terus teman-temannya juga selalu menarik kerudungnya sampe copot sambil mengatakan, "Hei... anak Madrasah!… pergi sana, pindah, jangan sekolah di sini!".
"Ma...kenapa sih mereka memperlakukan aku seperti itu? aku kan pengin latihan menutup aurat, kata mama, itu perintah Allah," kata anaku dengan wajah penuh kesal. Anaku menceritakan semua kejadian di sekolahnya hari ini.
"Nak... kamu lihat nggak, vas bunga di atas meja itu? cantik kan?".
"Iya ma...", kata anaku dengan lesu.
"Dengar ya Nak, dulu vas bunga itu sama sekali tidak cantik, dia hanya seonggok tanah liat yang hitam dan lengket, tak seorang pun mau mendekati apalagi memegang nya. Suatu hari ada seorang pengrajin mengambil tanah liat itu.
"Hai, mau di bawa kemana aku ini!", teriak tanah liat. Lalu tanah liat di rendam sehari semalam di dalam air, tanah liat kedinginan namun dia tetap sabar sambil berdoa karena hanya itu yg dapat dia lakukan, setelah itu tanah liat di bawa dan di lempar ke roda berputar,
"Aduh… pusing... stop! stop!," teriak tanah liat. Namun pengrajin itu tetap memutar roda itu berkali-kali. Setelah dibentuk lalu tanah liat di jemur di bawah terik matahari, tanah liat terus berteriak kepanasan, keringat bercucuran, setelah itu tanah liat diambil dan di bawa, lalu dimasukan ke dalam tungku besar dengan kekuatan panas 700-1000 derajat celcius.
"Tolong... panas! panas! keluarkan aku dari sini!," teriak tanah liat terus menerus.
Tapi tak seorang pun dapat mengeluarkannya kecuali pengrajin itu. Setelah itu tanah liat di keluarkan dari tungku panas, lalu dicat dan dilukis menjadi lebih cantik, Sekarang tanah liat sudah terlihat sangat cantik, indah dan diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh semua orang, lebih bermanfaat, bernilai dan memiliki harga yang lebih tinggi. Tanah liat juga selalu dipajang di tempat-tempat yang bersih dan bisa terlihat oleh siapapun, selalu menjadi hiasan yang mempercantik ruangan juga ditemani bunga-bunga.
“Lalu, apa hubungannya Vas bunga itu sama Aku Ma?" Kata anaku dengan penasaran.
"Sama, suatu saat, kamu akan jadi orang yang lebih bernilai, lebih bermanfaat, berharga dan mulia jika kamu bisa sabar, ikhlas melewati rintangan dan cobaan dari teman-temanmu dan juga orang-orang disekitarmu yang masih menggangu dan membullymu, memang tidaklah menyenangkan saat Allah membentuk kamu, penuh dengan penderitaan, air mata, kesedihan dan sangatlah tidak menyenangkan, tapi inilah cara Allah dalam membentukmu, agar kamu bisa menjadi orang yang tangguh, lebih berharga, bermanfaat dan mulia, seperti Vas bunga tadi, dia tidak akan menjadi Vas bunga yang cantik, bermanfaat dan berharga, jika tidak melewati begitu banyak cobaan, penderitaan yang menyakitkan selama proses pembentukannya, dengan penuh kesabaran, keikhlasan dan tawakal hanya kepada Allah.
Terimakasih yang telah membuly anakku karena dengan bullyan itu anaku mendapatkan pelajaran baru dan berharga sebagai bekal kehidupannya kelak, Amiiin.

(Uji P. _Tlaga, 3 Desember 2019)

1 komentar:

  1. Cerita pendek dengan pesan pesan penyemangat yang luar biasa mba uji.

    BalasHapus

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...