Jam dinding terus berdetak,
menuntun detik waktu yang terus melaju, tak pernah berhenti, dan selalu begitu
sampai dunia ini berakhir kelak. Rutinitas masing-masing manusia begitu
beragam, dan hasil yang didapatkan pun tentu beragam pula. Ada yang setiap hari
duduk manis di depan computer mengutak-atik angka-angka, ada yang setiap hari
tal tul tal wek mendeteksi detak jantung pasien yang tersiksa dengan
penyakitnya, ada yang setiap hari mengutak-atik dedaunan dan batang-batangnya agar
melengkung dan melintir sesuai posisi yang diinginkan pada sebuah bonsai, ada
yang setiap hari jumpalitan di atas air, diatas pasir, belepotan lumpur,
terpanggang matahari, banting tulang rol depan rol belakang menguras keringat
demi anak dan istri atau orang tua, dan milyaran profesi lain yang menjadi mata
pencaharian setiap insan manusia.
Semua itu (banyak yang bilang) rutinitas yang membosankan meski kita
yakin sebelumnya satu atau dua minggu masuk bekerja itu sangat membanggakan
karena mengawali sebuah pekerjaan dan melepas status pengangguran yang mungkin
sudah melekat terlalu lama dan membuat kita sulit atau minder keluar rumah.
Atau mungkin ada juga yang sama sekali tidak pernah mencicipi
hari-hari menganggur karena mungkin dia terlalu rajin, terlalu cerdas dan
terlalu menguasai semua kecerdasan/question, intelegensi, emosional, spiritual
bahkan physical. Ya, tentu mereka pasti hebat, begitu tamat langsung diangkat
pada sebuah tempat dimana gaji atau honor besar mudah didapat, mereka lupa
untuk meluangkan waktu menikmati masa-masa pengangguran, sehingga mereka biasa-biasa
saja dengan rutinitas kerja seperti ketika dia masih sekolah saja, jadi mereka
akan kesulitan bila mereka dituntut untuk bercerita pahitnya masa-masa
menganggur.
Dan meskipun kondisi awalnya berbeda-beda, jelas rutinitas akan
menceritakan hal yang sama tidak peduli siapapun dia. Dan lihatlah… tiba-tiba
saja kita sedang bekerja, bekerja dan terus bekerja, rutin dan menerus begitu
begitu saja, Setelah bersyukur (seharusnya dan wajib) atau mensyukuri anugerah
pekerjaannya yang menjadi jalan rejeki, dan munculah kebosanan, munculah titik
jenuh.
Banyak perusahaan-perusahaan yang mengatasi hal semacam ini dengan
menyelenggarakan outbond untuk karyawan-karyawannya, plesiran melepas penat di
tempat-tempat yang belum pernah dilewat, atau kegiatan-kegiatan lain yang
tujuannya sama. Dan perlu dicermat bahwa kegiatan semacam demikian ternyata efeknya
tidaklah lama, mungkin bila terlaksana secara rutin itu bagus dan menjadi
solusi terbaik mengatasi titik jenuh, namun bagaimana bila yang terjadi malah orang-orang
tersebut menjadi tambah malas tidak mau bekerja keras lagi karena sudah
terlanjur merasakan nikmatnya bermalas-malas plesiran, tiba-tiba harus kembali
melakukan rutinitas yang
membosankan, ia kan? Bisa saja
bukan? Oh, membingungkan ya? Oke, kalau memang ini terlalu sulit untuk dipahami
atau sulit dicerna kalimatnya yang muter-muter tanpa arah yang jelas, baiklah
akan saya persingkat saja, begini :
Tiap manusia pernah berada pada puncak titik jenuh, dan hal yang
paling menarik adalah secepat mungkin keluar dan meninggalkan jauh-jauh kondisi
tersebut. Namun sayang ketika berhasil keluar, kita malah benci seperempat mati
(bukan setengah mati, itu terlalu berat timbangannya, padahal semua ini
hanyalah perumpamaan yang batas dasar standarnya tidak pernah terukur sama
sekali) dengan kondisi yang membuat kita mencapai titik jenuh tersebut.
Sehingga kita memutuskan untuk berhenti sampai disini. Ini penjelasan singkat
untuk kalimat yang tadi kita anggap muter-muter di atas, dan ini menjadi kemungkinan
yang pertama.
Lalu kemungkinan yang kedua : Tiap
manusia pernah berada pada puncak titik jenuh, dan hal yang paling menarik
adalah secepat mungkin keluar dan meninggalkan jauh-jauh kondisi tersebut. Dan
ketika berhasil keluar anehnya kondisi tersebut justru membuat rindu untuk
kembali. Begitu, Oke, Semoga bisa dipahami.
Namun disini saya hanya akan membahas tentang kemungkinan yang kedua saja,
bukan yang pertama. Anggap saja kemungkinan yang pertama itu tidak ada atau
jangan ada.
Saya lanjut, demikian halnya dengan belajar, bekerja dan proses
lainnya yang mengharapkan sesuatu di kemudian hari, ketika merasa tersiksa
harus berangkat pagi, bertegur sapa dengan orang yang sama, remidi dan terus
mengulang kembali pembetulan ketika berkali salah, itu seperti sayur buah waluh
yang terlanjur tertelan namun terhenti di tenggorokan, tidak bisa di telan apa
lagi dimuntahkan. Sungguh mendongkolkan.
Dan apapun kondisi kita, entah titik jenuh, koma jenuh, tanda tanya
jenuh dan jenuh-jenuh lainnya semua itu adalah semata-mata ujian yang dianugerahkan
oleh Tuhan untuk menguji umatnya sejauh mana dia mampu menggembala egonya agar
tetap terkontrol dan berada pada jalur lurus yang tergariskan ataukah dia akan
berkelok-kelok seperti jalannya seekor londok yang melingkar pada sebuah
ranting kering dan basah dengan tubuh mengikuti warna semua benda yang
dipijaknya. Tidak mampu konsisten, mudah berubah, gampang takluk dengan kondisi
baru sehingga terkadang lupa akan tujuan awal yang sejatinya begitu mulia.
Sesuatu yang mendongkolkan, dan semoga kita bisa melewati itu semua
tanpa ada ranting kering yang patah, piring dan gelas yang pecah, semua bisa
terjaga dengan rapi dan aman. ketika kita mampu untuk bersabar, insya Allah semua
akan menjadi hal yang melegakan.
istighfar… sejuk bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar