Selasa, 16 Agustus 2016

Titik Jenuh

Jam dinding terus berdetak, menuntun detik waktu yang terus melaju, tak pernah berhenti, dan selalu begitu sampai dunia ini berakhir kelak. Rutinitas masing-masing manusia begitu beragam, dan hasil yang didapatkan pun tentu beragam pula. Ada yang setiap hari duduk manis di depan computer mengutak-atik angka-angka, ada yang setiap hari tal tul tal wek mendeteksi detak jantung pasien yang tersiksa dengan penyakitnya, ada yang setiap hari mengutak-atik dedaunan dan batang-batangnya agar melengkung dan melintir sesuai posisi yang diinginkan pada sebuah bonsai, ada yang setiap hari jumpalitan di atas air, diatas pasir, belepotan lumpur, terpanggang matahari, banting tulang rol depan rol belakang menguras keringat demi anak dan istri atau orang tua, dan milyaran profesi lain yang menjadi mata pencaharian setiap insan manusia.
Semua itu (banyak yang bilang) rutinitas yang membosankan meski kita yakin sebelumnya satu atau dua minggu masuk bekerja itu sangat membanggakan karena mengawali sebuah pekerjaan dan melepas status pengangguran yang mungkin sudah melekat terlalu lama dan membuat kita sulit atau minder keluar rumah.

Atau mungkin ada juga yang sama sekali tidak pernah mencicipi hari-hari menganggur karena mungkin dia terlalu rajin, terlalu cerdas dan terlalu menguasai semua kecerdasan/question, intelegensi, emosional, spiritual bahkan physical. Ya, tentu mereka pasti hebat, begitu tamat langsung diangkat pada sebuah tempat dimana gaji atau honor besar mudah didapat, mereka lupa untuk meluangkan waktu menikmati masa-masa pengangguran, sehingga mereka biasa-biasa saja dengan rutinitas kerja seperti ketika dia masih sekolah saja, jadi mereka akan kesulitan bila mereka dituntut untuk bercerita pahitnya masa-masa menganggur.

Dan meskipun kondisi awalnya berbeda-beda, jelas rutinitas akan menceritakan hal yang sama tidak peduli siapapun dia. Dan lihatlah… tiba-tiba saja kita sedang bekerja, bekerja dan terus bekerja, rutin dan menerus begitu begitu saja, Setelah bersyukur (seharusnya dan wajib) atau mensyukuri anugerah pekerjaannya yang menjadi jalan rejeki, dan munculah kebosanan, munculah titik jenuh.

Banyak perusahaan-perusahaan yang mengatasi hal semacam ini dengan menyelenggarakan outbond untuk karyawan-karyawannya, plesiran melepas penat di tempat-tempat yang belum pernah dilewat, atau kegiatan-kegiatan lain yang tujuannya sama. Dan perlu dicermat bahwa kegiatan semacam demikian ternyata efeknya tidaklah lama, mungkin bila terlaksana secara rutin itu bagus dan menjadi solusi terbaik mengatasi titik jenuh, namun bagaimana bila yang terjadi malah orang-orang tersebut menjadi tambah malas tidak mau bekerja keras lagi karena sudah terlanjur merasakan nikmatnya bermalas-malas plesiran, tiba-tiba harus kembali melakukan rutinitas yang  membosankan,  ia kan? Bisa saja bukan? Oh, membingungkan ya? Oke, kalau memang ini terlalu sulit untuk dipahami atau sulit dicerna kalimatnya yang muter-muter tanpa arah yang jelas, baiklah akan saya persingkat saja, begini :

Tiap manusia pernah berada pada puncak titik jenuh, dan hal yang paling menarik adalah secepat mungkin keluar dan meninggalkan jauh-jauh kondisi tersebut. Namun sayang ketika berhasil keluar, kita malah benci seperempat mati (bukan setengah mati, itu terlalu berat timbangannya, padahal semua ini hanyalah perumpamaan yang batas dasar standarnya tidak pernah terukur sama sekali) dengan kondisi yang membuat kita mencapai titik jenuh tersebut. Sehingga kita memutuskan untuk berhenti sampai disini. Ini penjelasan singkat untuk kalimat yang tadi kita anggap muter-muter di atas, dan ini menjadi kemungkinan yang pertama.

Lalu kemungkinan yang  kedua : Tiap manusia pernah berada pada puncak titik jenuh, dan hal yang paling menarik adalah secepat mungkin keluar dan meninggalkan jauh-jauh kondisi tersebut. Dan ketika berhasil keluar anehnya kondisi tersebut justru membuat rindu untuk kembali. Begitu, Oke, Semoga bisa dipahami.

Namun disini saya hanya akan membahas tentang kemungkinan yang kedua saja, bukan yang pertama. Anggap saja kemungkinan yang pertama itu tidak ada atau jangan ada.

Saya lanjut, demikian halnya dengan belajar, bekerja dan proses lainnya yang mengharapkan sesuatu di kemudian hari, ketika merasa tersiksa harus berangkat pagi, bertegur sapa dengan orang yang sama, remidi dan terus mengulang kembali pembetulan ketika berkali salah, itu seperti sayur buah waluh yang terlanjur tertelan namun terhenti di tenggorokan, tidak bisa di telan apa lagi dimuntahkan. Sungguh mendongkolkan.

Dan apapun kondisi kita, entah titik jenuh, koma jenuh, tanda tanya jenuh dan jenuh-jenuh lainnya semua itu adalah semata-mata ujian yang dianugerahkan oleh Tuhan untuk menguji umatnya sejauh mana dia mampu menggembala egonya agar tetap terkontrol dan berada pada jalur lurus yang tergariskan ataukah dia akan berkelok-kelok seperti jalannya seekor londok yang melingkar pada sebuah ranting kering dan basah dengan tubuh mengikuti warna semua benda yang dipijaknya. Tidak mampu konsisten, mudah berubah, gampang takluk dengan kondisi baru sehingga terkadang lupa akan tujuan awal yang sejatinya begitu mulia.

Sesuatu yang mendongkolkan, dan semoga kita bisa melewati itu semua tanpa ada ranting kering yang patah, piring dan gelas yang pecah, semua bisa terjaga dengan rapi dan aman. ketika kita mampu untuk bersabar, insya Allah semua akan menjadi hal yang melegakan.

istighfar… sejuk bukan? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...