71 tahun yang lalu, Indonesia
merdeka, kepahitan, kesengsaraan, kepedihan, terbayar sudah dengan terbacakannya
Proklamasi Kemerdekaan Negeri ini. Berjuta cerita nyata yang mengharu biru pun selalu
mewarnai setiap peringatan sepanjang 71 tahun ini.
Seperti yang sudah kita hafalkan pada
setiap kata yang terus turun temurun diwariskan oleh orangtua-orang tua kita, dahulu,
rakyat Indonesia berjuang dengan menghunus pedang, menghunus bambu runcing, menghunus
senjata laras panjang, dengan resiko kematian, darah tertumpah, kehilangan
orang-orang tercinta,sehingga mencapai kemerdekaan. Dan kita rakyat Indonesia
yang hidup di zaman sekarang, tinggal menikmati kemerdekaan tersebut yang telah
susah payah didapatkan oleh nenek kakek kita, sering terlupa atau mungkin
melupa betapa perjuangan dan pengorbanan pendahulu-pendahulu kita begitu luar
biasa hanya demi anak cucunya, yakni kita!.
Hanya mengingat, terasa begitu
berat? Hanya berperan dan bukan sungguhan terasa terbeban? para pahlawan yang
gugur di medan perang, pastilah mereka akan merasa lebih tersakiti bila mengetahui
kondisi ini daripada bermandi beribu peluru yang hanya sekedar mengakhiri
hidupnya.
Tidak kemarin tidak juga
sekarang, selalu ada saja cerita miris di negeri ini, bukan tentang kemiskinan,
bukan pula tentang korupsi, apalagi kopi-kopi, atau orang tua gelisah karena
anak tidak lagi sekolah, bukan … bukan itu. Tapi tentang solidaritas, gotong
royong, silaturakhmi dan agama yang menjadi dasar dari segala sendi kehidupan.
Ayo bangkit, jangan egois. Berempatilah
dalam segala hal, karena dengan itu, semoga ibu pertiwi tidak lagi tersakiti. Dan kita anak cucu mereka, mari berpartisipasi
dengan berjuang untuk perjuangan mereka silam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar