Minggu, 27 September 2020

Dahsyatnya, ketika Sang Ibu memaafkan Anaknya

 

Bismillahirrahmanirrahiim

Hari ini tepat di hari lahirku sekaligus hari lahir anakku, Allah hadiahkan  anak pertamaku di hari, tanggal, bulan yang sama dengan hari lahirku. Entah kenapa di setiap hari kelahiranku yang sekaligus hari ultah anakku aku selalu merasa bahagia, bersyukur  dan sedih. Aku bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk hidup sampai hari ini, aku bersyukur karena bisa melahirkan anaku dengan sehat dan selamat, tapi aku juga bersedih jika ingat Ibu yang telah melahirkanku. Aku merasa banyak sekali dosa yang telah aku perbuat terhadap ibuku.

Aku merasakan betapa besar dan berat pengorbanan Ibu selama mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat aku hingga aku besar. Namun selama ini aku belum bisa membalas kebaikan orang tuaku. Hal itu selalu aku rasakan setiap saat terutama tepat di hari lahirku. Moment 16 tahun yang lalu selalu terulang dalam memori pikiranku, dan tak pernah bisa terlupakan. Di hari itu Senin 27 September 2004 pukul 05.00 pagi, perutku mules dan melilit, pinggang terasa sangat pegal dan pecah ketuban. Namun aku masih bisa untuk jalan-jalan di dalam ruangan rumah. Sampai akhirnya aku harus berbaring di tempat tidur kamarku untuk berjuang sekuat tenaga, nyawaku jadi taruhannya, seribu rasa sakit aku rasakan menjadi satu, betapa nikmatnya. Perasaan yang baru pertama aku rasakan sepanjang usiaku. Itulah perasaan seorang perempuan yang akan melahirkan anak nya, perasaan yang tidak bisa di ceritakan  dan hanya bisa di rasakan oleh semua ibu yang melahirkan anaknya secara normal. 

Waktu sudah berjalan selama kurang lebih 6 jam, bayiku masih belum lahir juga. Aku sudah merasa putus asa, lelah dan tak memiliki tenaga lagi. Sampai aku pun bilang, “Aku nggak kuat lagi, aku pengin tidur saja “, karena lelahnya aku pun merintih dan menangis lalu aku menyuruh suamiku untuk memanggil Ibuku. Kemudian Ibu masuk ke kamarku, Ibu  pun menangis melihat aku, beliau memeluk aku, dan aku pun menangis sambil berkata, “Ma..maafkan aku,maafkan aku, maafkan aku...”, sambil aku menangis merasa tak kuat lagi untuk berjuang melahirkan anakku. Dan Ibu pun berkata,”Iya..aku maafkan,kamu harus kuat”. 

Betapa aku merasa sangat berat perjuanganku saat itu, dan semua dosa-dosaku terhadap Ibu  pun terlihat semua dalam pikiranku, sehingga aku berpikir mungkin karena dosa-dosa ku yang sangat besar terhadap kedua orang tuaku sehingga Allah memberikan rasa sakit yang luar biasa dan lambatnya  proses persalinan anakku. Namun banyak hikmah dan pelajaran yang aku peroleh dari peristiwa itu. Aku merasakan betapa besar perjuangan Ibu saat melahirkan aku, dan betapa ikhlas seorang Ibu mempertaruhkan apapun demi anak-anaknya bahkan nyawa pun beliau pertaruhkan demi lahirnya Sang buah hati ke dunia ini.

 Dan aku merasakan betapa Ridha Allah terletak pada Ridha  orang tua, terbukti setelah Ibu memeluk aku dan memaafkan kesalahan aku, hanya selang beberapa menit saja maka lahirlah anakku dalam keadaan sehat dan normal, dengan panjang badan 50 Cm dan berat badan 3,9 Kg. Aku pun menangis bahagia, hilang semua rasa sakitku setelah mendengar tangis anakku, Ibuku  pun kembali memeluk dan mencium aku, tak henti-hentinya aku mengucap kata terimakasih untuk Ibu.

Dan kenangan saat  itulah yang membuat aku selalu meneteskan air mata di setiap hari lahirku, terbayang semua kebaikan, pengorbanan, rasa sakit yang Ibu  rasakan selama ini. Terbayang pula semua kenakalan-kenakalan masa kecil, dan ucapan serta perilaku  yang aku perbuat yang sering membuat Ibu sedih, menangis dan bahkan sakit hati. Namun seorang Ibu selalu menyayangi mengasihi anak-anaknya sampai akhir hidupnya. Meskipun anaknya telah dewasa, telah berkeluarga tapi Ibu masih tetap menyayangi, mengasihi dan mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya.

Begitu lah cinta Ibu sepanjang hayat, namun cinta anak terhadap orang tua sangat tidak sebanding. Jangankan untuk membalas kebaikan, hanya sekedar tidak merepotkan pun belum bisa.Di usianya yang sudah senja, masih saja kita sebagai anak merepotkan orang tua kita. Dengan cerita-cerita yang menyedikan akan membuat orang tua sangat sedih, kadang juga merepotkan dengan tenaganya untuk mengasuh anak-anak kita, walaupun kita tau betapa ikhlas dan bahagianya mereka ketika mereka mengasuh anak-anak kita atau cucu mereka. Dan orang tua pun  selalu memberikan apa yang mereka punya apalagi ketika tau anaknya sedang kesulitan dalam hal materi, tapi  masih juga kita sering  bertutur kata keras, tidak sopan, merendahkan, saat sesekali orang tua memberikan nasehat kepada kita, betapa keterlaluannya kita. Sungguh pengorbanan orang tua tidak bisa kita bayar dengan materi sebanyak apapun, tidak akan pernah lunas untuk membayar kebaikan mereka walaupun dunia dan isinya kita berikan kepada kedua orang tua.

Maaf kan anakmu Ibu, belum bisa membalas segala pengorbanan dan kebaikanmu,  semoga Allah selalu melindungimu, mengampuni dosa-dosamu, memberikan kesehatan, memberikan  rizki yang berkah dan sisa  umur yang berkah, dan hanya Allah yang akan membalas kebaikan Ibu Ayah dengan balasan Surga. Hanya doa yang bisa aku panjatkan untukmu Ibu Ayah, Allahummaghfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa.

Semoga kita terhindar dari hal buruk yang dapat  menyakiti hati mereka, mari kita manfaatkan waktu yang ada selama orang tua kita masih hadir di dunia menemani kita, dan selalu amalkan doa tersebut agar hidup kita semakin tenang dan damai. 

Tulisan ini sebagai pengingat diri saya pribadi dan semoga bermanfaat.

Uji Priyatiningsih- Tlaga,, Gumelar.



Rabu, 09 September 2020

ANAK CERDAS BERADAB BERKARAKTER

Bismillahirrohmanirrohiim

Sudah menjadi ketetapan Tuhan, bahwa manusia dilahirkan, besar, dewasa, menikah, menua dan pada akhirnya harus kembali pada Sang Pencipta. Allah SWT menciptakan manusia semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Salah satu diantara beribu-ribu macam ibadah yang Rasululloh contohkan  adalah menikah/berumah tangga.

Menikah, selain bertujuan untuk menjalankan Sunnah Nabi juga berharap untuk mendapatkan keturunan. Bersyukurlah bagi kita yang Allah karuniakan keturunan, karena tidak semua pasangan suami istri Allah karuniai anak/keturunan.

Anak adalah amanah, investasi terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan yang akan mengantar kita hidup di surga, namun anak juga bisa menjadi sumber kesengsaraan yang akan menjerumuskan kita masuk ke dalam neraka. Pertanyaannya, apakah kita mampu mengelola dan merawat investasi tersebut agar kedepannya bisa menguntungkan kita, bukan malah merugikan diri kita. Ayah Bunda pertama kita rencanakan dulu, akan kita buat/kita bentuk anak tersebut dengan pola asuh seperti apakah? Orientasi dunia kah? Atau akhirat oriented.

Seorang anak akan menjadi seperti apa karakternya itu semua tergantung pada kita orang tua nya, teman bergaulnya dan juga lingkungannya. Semua sifat karakter anak yang membentuk pertama adalah orang tuanya, terutama ibunya, karena ibu adalah orang yang paling dekat dan paling lama bersama sang anak, ibu adalah orang yang kita lihat pertama saat kita bangun tidur dan orang yang kita lihat terakhir saat kita akan tidur.Ibu merupakan  pendidik pertama dan paling utama bagi anak-anaknya, maka pemikiran yang salah jika seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga, justru seorang perempuan itu harus memiliki ilmu yang tinggi karena akan menjadi pendidik bagi anak-anak nya terutama dalam ilmu agama baru ilmu dunia. Sebagai seorang perempuan jangan malu jika sudah berpendidikan tinggi tapi hanya berprofesi sebagai seorang ibu rumahtangga, berbanggalah karena meskipun kita hanya ibu rumah tangga tapi kita sarjana.

Karena ketika seorang ibu memiliki pendidikan tinggi maka akan lebih mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, tapi semua itu kembali kepada karakter seorang ibu tersebut. Ingat ya ayah bunda, berpendidikan tinggi tidak selalu sama dengan bersekolah yang tinggi. Karena banyak orang yang bersekolah tinggi bertitel banyak tapi pendidikannya kurang, tapi tidak sedikit pula orang yang lulusan bukan dari perguruan tinggi tapi memiliki pendidikan tinggi dan mampu mendidik putra putrinya menjadi anak yang sukses. Intinya orang yang bersekolah tinggi tidak selalu memiliki pendidikan yang tinggi, dengan kata lain banyak orang sekolah tapi tidak mendapatkan pendidikan, tapi pendidikan tinggi bisa di peroleh tidak harus dari bangku sekolah saja. Makna pendidikan yang saya maksud di sini beda dengan ijazah, ijazah harus didapat dari sekolah, tapi pendidikan bisa di peroleh dari manapun.

Bukan hal yang mudah dalam mendidik anak jika kita ingin memiliki anak yang tangguh berkarakter, butuh doa dan perjuangan yang luar biasa. Dan hal tersebut tidak bisa di lakukan menunggu anak besar. Perjuangan itu perlu di lakukan sejak kita baru pertama menikah, kemudian mengandung. Karena apa yang anak dengar mulai dari kandungan ibu dan perilaku ibu saat mengandung sangat berpengaruh pada perilaku dan karakter anak setelah lahir. Setelah anak lahir bukan hanya pendengaran yang berfungsi namun penglihatannya pun mulai berfungsi, selain anak mendengar tutur kata ibu, anak juga melihat, mencontoh perilaku sehari-hari sang ibu. Sehingga sering di katakan, anak adalah peniru ulung. Anak akan mudah melakukan apa yang sering dia lihat di bandingkan apa yang sering dia dengar, sehingga sebaik-baik nasehat adalah contoh atau tauladan.

Apalagi  saat usia emas anak/goldenage di masa itulah anak akan menyerap dengan mudah dan cepat apa yang dia dengar dan dia lihat. Dimasa itu pula kesempatan emas buat para orang tua untuk bisa mengembangkan investasi berupa anak tersebut agar menjadi investasi amazing yang menguntungkan dunia akhirat kita. Sangat rugi jika kita hanya mendidik dan membesarkan anak hanya untuk tujuan dunia saja, karena dunia pasti akan kita tinggalkan. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuan utama nya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikannya kemiskinan/tidak pernah merasa cukup apa yang ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan(harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa menjadikan akhiratnya niat (tujuan utama) nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya menjadi kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina(tidak bernilai di hadapannya).

Maka dari itu sebagai orang tua dalam mendidik hendaknya tidak terlalu berambisi hanya untuk tujuan dunia saja. Kebanyakan orang tua berpandangan bahwa kesuksesan anak itu tergantung pada kecerdasan akademik/IQ nya saja, sehingga tidak sedikit orang tua yang memaksakan anak nya untuk belajar calistung(Baca Tulis Hitung) secara instant di usia dini, mereka takut anaknya tidak bisa calistung meskipun anaknya masih usia dini. Dan pada kenyataannya banyak anak yang stres dan tertekan pikirannya karena di paksakan untuk belajar calistung tanpa memperhatikan prosedur sesuai usia anak. Dan orang tua sering merasa setres sendiri saat mengajari anak calistung dan anak sering menolak atau berontak padahal mungkin cara nya yang salah/waktunya yang belum tepat. Akhirnya anak lagi yang menjadi korban ambisi duniawi orang tuanya, anak di marahi dan anak juga kehilang kebebasan bermainnya.

Kadang kita sebagai orang tua sangat egois dengan keinginan sendiri, kita berharap anak bisa calistung sejak dini kadang hanya untuk kebanggaan diri, pamer kepada orang tua yang lain, tanpa memperhatikan perasaan anak. Kita juga kadang merasa begitu bangga bisa memasukan anak ke bimbingan belajar yang menjanjikan anak bisa calistung dalam waktu 70 hari.

Sebenarnya tidak heran jika anak bisa calistung di usia dini dalam waktu hanya 70 hari, karena anak di usia golden age sangat mudah menyerap apapun yang dia lihat dan dia dengar. Kebanyakan orang tua merasa hebat jika anaknya sudah mampu calistung sejak usia dini, orang tua tidak menyadari bahwa anak usia dini yang di paksakan untuk belajar calistung yang tidak sesuai prosedur dan tidak memperhatikan usia, kedepannya anak memang akan pandai membaca tapi dia menjadi anak yang tidak suka membaca, anak pandai menulis tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka menulis, dan anak pandai berhitung tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka berhitung bahkan benci dengan matematika.

Mari Ayah Bunda, kita sama-sama cek kembali seperti apakah kita mendidik anak selama ini. Sudahkah kita memberikan pola asuh yang benar untuk anak? Sudahkah kita memperhatikan kebutuhan batiniyah anak kita?. Anak Usia Dini hanya membutuhkan kasih sayang, peluk cium, pemenuhan gizi seimbang, kebahagiaan saat bermain terutama di alam bebas, sehingga dapat memiliki sifat dan karakter yang baik  untuk bekal kecerdasan dan kesuksesannya. Karakter baik/akhlak mulia adalah modal kesuksesan dunia akhirat, maka sebelum mengajari anak ilmu dunia/calistung hendaknya ajari dulu Adab dan Sopan Santun.

Memang anak cerdas secara IQ itu penting, tapi anak cerdas beradab dan berkarakter itu lebih utama. Karena pada kenyataannya setelah anak dewasa dan hidup dalam lingkungan sosial masyarakat yang sesungguhnya, kecerdasan secara akademik saja bukan jaminan seseorang bisa menghadapi kehidupan di masyarakat, tapi Insyaa Allah dengan bekal ilmu agama, adab dan karakter tangguh berakhlak anak akan lebih mampu menghadapi berbagai masalah yang mungkin akan di hadapi saat anak dewasa. Sehingga dalam Pendidikan Anak Usia Dini bukan hanya IQ(kecerdasan otak), EQ(kecerdasan Emosi),dan SQ(Kecerdasan Spiritual) saja yang perlu diajarkan tapi ditambah lagi dengan Kecerdasan menghadapi kesulitan(AQ). Kecerdasan menghadapi kesulitan pertama kali di perkenalkan oleh PaulG. Stoltz yang di susun berdasarkan hasil riset lebih dari 500 kajian di seluruh dunia.

Demikian tulisan ini di buat untuk pengingat bagi diri saya sebagai seorang ibu, seorang pendidik bagi ketiga buah hati saya, dan semoga bermanfaat juga bagi orang lain. Salam Pendidik Anak Usia Dini.

                                                             

Uji Priyatiningsih - Tlaga, Gumelar. Banyumas.     

Selasa, 17 Maret 2020

BENTAKAN ATAU KASIH SAYANG


Anak adalah anugerah Allah yang tak terhingga besar nya...dan sangat mbahagiakn hati pasangan suami istri.Namun di balik kebahagiaan itu terdapat bejuta-juta ujian yang Allah berikan kepada kita melalui kehadiran anak kita.

Ketika anak baru lahir hingga usia 1,5 tahun,dia adalah anak yg lucu dan menggemaskan,setiap gerakanya,ocehannya selalu mbuat kita tersenyum bahagia,seakan-akan dunia selalu indah setiap saat.Menginjak anak berusia 2-5 tahun anak mulai untuk berexplorasi,anak menjadi sangat cerewet,egois,apapun kemauannya harus di turuti,selalu berteriak,memukul dan menangis jika kita melarangnya,tidak peduli entah itu hal yang membahayakan atau tidak,tetap saja menangis jika kita melarangnya.Dan akhirnya sebagai seorang ibu yang padat dengan aktifitas dirumah,seperti mencuci,mengepel,memasak,menyetrika,mengantar anak sekolah dll,tentu kita akan tidak sabar dengan kelakuan anak kita yang masih balita tersebut.Apalagi jika anak kita lebih dari satu,belum lagi harus urus suami dan mengikuti kegiatan-kegiatan di masyarakat di tambah lagi dengan keadaan ekonomi yang kurang/pas-pas an,pada akhirnya bentakan dan bentakan lah yang sering kita hadiahkan kepada balita kita. Karena membentak anak ketika kita marah adalah hal yang paling membuat kita merasa puas karena tersalurkan emosi kita.Padahal bentakan yang sering membuat kita merasa puas hati dan kita anggap sepele,jika kita lakukan setiap hari maka akan berdampak negatif pada anak,hal itu akan jelas terlihat ketika anak dewasa.

Menurut Lise Eliot seorang pakar Neoro Sains,membentak anak usia balita akan berdampak diantaranya, saat anak tumbuh dewasa mereka akan menjadi orang yang minder dan takut mencoba hal-hal baru,jiwa nya selalu merasa bersalah sehingga hidupnya penuh keraguan dan merasa tidak percaya diri,anak juga tumbuh dengan sifat pemarah,egois,judes,selain itu anak juga memiliki sifat penentang,keras kepala dan suka membantah nasehat/perintah orang tua,pribadi anak juga tertutup dan suka menyimpan unek-uneknya,takut mengutarakan sesuatu dan anak sering tidak peduli pada suatu hal dan lingkungan sekitar.

Jadi pada intinya,hidup adalah pilihan,pilihan itu ada di tangan kita sendiri,dan akankah kita besarkan anak kita dengan bentakan dan lengkap dengan  segala dampak negatifnya ataukah akan kita besarkan anak kita dengan kelembutan,ketegasan kasih sayang dengan segala dampak positif nya.

- UjiPriyatiningsih- 17032020

NIKMAT YANG TERLUPAKAN




Berbahagia dan bersyukurlah kita yang telah Allah SWT berikan berjuta-juta nikmat yang tidak mampu kita hitung satu persatu, di antara nikmat terbesar adalah nikmat iman dan islam yang ada pada diri kita.

Selain itu masih banyak lagi nikmat dunia yang Allah anugerahkan kepada kita.Diantara nikmat tersebut adalah nikmat kekayaan,kecerdasan,kecantikan/ketampanan,jabatan,anak-anak yang membanggakan dll.

Dan di balik itu semua masih ada salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita ,namun kebanyakan dari kita dan saya sendiri pun kurang menyadari bahwa hal itu adalah sebuah nikmat besar yang harus kita syukuri.

Tanpa nikmat tersebut,sejatinya kita bukan lah apa-apa,bukan lah siapa-siapa.Kekayaan,kecantikan/ketampanan,kecerdasan,jabatan,anak-anak yang membanggakan tidak akan ada artinya sedikit pun jika Allah tidak memberikan kita nikmat tersebut.

Kita sering kali berfikir bahwa,ketika orang lain menghargai kita,memuji kita,menghormati kita,meng elu2 kan kita,mengidolakan kita dll,kita anggap apa yang orang lain lakukan tersebut adalah karena kehebatan diri kita.Sehingga kebanyakan dari kita akan merasa sombong,bangga diri,ujub dan lalai kepada sang pemberi nikmat.

Kita sering lalai dan menjadi sombong serta lupa diri, padahal mereka yang Allah takdirkan  memiliki jabatan tinggi,memiliki kekayaan melimpah,memiliki kecantikan/ketampanan dll,sehingga mendapat pujian,sanjungan,di hormati,di idolakan dll semua itu tak lepas dari sebuah nikmat yang Allah berikan kepada kita,yaitu nikmat di tutupi nya " Aib-aib "kita atau keburukan-keburukan kita oleh Allah SWT.

Tanpa di tutupi nya aib-aib kita oleh Allah ,maka kita bukanlah siapa-siapa,bahkan mungkin setiap orang tidak akan memandang kita,malas dekat dengan kita,enggan mendengarkan kata-kata kita, jika Allah menghendaki aib-aib kita di tampakan kepada setiap manusia.

Bersyukurlah karena Allah masih menjaga kita dengan menutupi semua aib-aib kita,itulah tanda kasih sayang Allah yang selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk bertaubat.

Namun bagi kita yang mungkin Allah takdirkan untuk terbuka aib-aibnya, baik oleh orang tua,anak,suami,saudara ataupun oleh sahabat sendiri,kita tidak perlu merasa galau berkepanjangan.

Karena sesungguhnya,terbukanya aib-aib kita bukan karena Allah membenci kita,tapi karena Allah menyayangi kita.Dengan terbuka nya aib kita,Allah berharap kita bisa cepat bertaubat dan lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Jadi tertutup atau pun terbukanya aib kita di mata manusia, keduanya terdapat hikmah yang baik untuk kita semua,yaitu karena Allah menginginkan kita menjadi manusia yang baik,beriman,bertaqwa dan senantiasa dekat dengan Allah SWT.

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallalahu Alaihi Wassalam beliau bersabda,"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia,melainkan Allah akan menutupi aib nya di hari kiamat kelak"(Shahih Muslim).

Intinya jika kita menutupi aib orang lain,maka Allah akan tutup aib kita dan sebaliknya Jika kita buka aib orang lain maka Allah akan buka aib kita .

-Uji Priyatiningsih - 17032020 - 

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...