Bismillahirrohmanirrohiim
Sudah menjadi ketetapan
Tuhan, bahwa
manusia dilahirkan, besar, dewasa, menikah, menua dan pada akhirnya
harus kembali pada Sang Pencipta.
Allah
SWT menciptakan manusia semata-mata
hanya untuk beribadah kepada-Nya. Salah satu diantara
beribu-ribu macam ibadah yang
Rasululloh contohkan adalah menikah/berumah tangga.
Menikah, selain bertujuan untuk
menjalankan Sunnah Nabi juga berharap untuk mendapatkan keturunan. Bersyukurlah bagi kita
yang Allah karuniakan keturunan,
karena
tidak semua pasangan suami istri Allah karuniai anak/keturunan.
Anak adalah
amanah, investasi
terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan
yang akan mengantar kita hidup di surga, namun anak juga bisa menjadi sumber
kesengsaraan yang akan menjerumuskan kita masuk ke dalam neraka. Pertanyaannya, apakah kita mampu
mengelola dan merawat investasi tersebut agar kedepannya bisa menguntungkan
kita, bukan
malah merugikan diri kita.
Ayah
Bunda pertama kita rencanakan dulu,
akan
kita buat/kita bentuk anak tersebut dengan pola asuh seperti apakah? Orientasi
dunia kah? Atau akhirat oriented.
Seorang anak
akan menjadi seperti apa karakternya itu semua tergantung pada kita orang tua
nya, teman
bergaulnya dan juga lingkungannya.
Semua
sifat karakter anak yang membentuk pertama adalah orang tuanya, terutama ibunya, karena ibu adalah orang
yang paling dekat dan paling lama bersama sang anak, ibu adalah orang yang
kita lihat pertama saat kita bangun tidur dan orang yang kita lihat terakhir
saat kita akan tidur.Ibu merupakan pendidik pertama dan paling utama bagi
anak-anaknya, maka
pemikiran yang salah jika seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi
karena pada akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga, justru seorang
perempuan itu harus memiliki ilmu yang tinggi karena akan menjadi pendidik bagi
anak-anak nya terutama dalam ilmu agama baru ilmu dunia. Sebagai seorang
perempuan jangan malu jika sudah berpendidikan tinggi tapi hanya berprofesi
sebagai seorang ibu rumahtangga,
berbanggalah
karena meskipun kita hanya ibu rumah tangga tapi kita sarjana.
Karena ketika
seorang ibu memiliki pendidikan tinggi maka akan lebih mampu mendidik anak-anaknya
dengan baik, tapi
semua itu kembali kepada karakter seorang ibu tersebut. Ingat ya ayah bunda, berpendidikan
tinggi tidak selalu sama dengan bersekolah yang tinggi. Karena banyak orang
yang bersekolah tinggi bertitel banyak tapi pendidikannya kurang, tapi tidak sedikit pula
orang yang lulusan bukan dari perguruan tinggi tapi memiliki pendidikan tinggi
dan mampu mendidik putra putrinya menjadi anak yang sukses. Intinya orang yang bersekolah
tinggi tidak selalu memiliki pendidikan yang tinggi, dengan kata lain banyak
orang sekolah tapi tidak mendapatkan pendidikan, tapi pendidikan tinggi bisa di
peroleh tidak harus dari bangku sekolah saja. Makna pendidikan yang
saya maksud di sini beda dengan ijazah, ijazah harus didapat dari sekolah, tapi
pendidikan bisa di peroleh dari manapun.
Bukan hal yang
mudah dalam mendidik anak jika kita ingin memiliki anak yang tangguh
berkarakter, butuh
doa dan perjuangan yang luar biasa.
Dan
hal tersebut tidak bisa di lakukan menunggu anak besar. Perjuangan itu perlu di
lakukan sejak kita baru pertama menikah, kemudian mengandung. Karena apa yang anak
dengar mulai dari kandungan ibu dan perilaku ibu saat mengandung sangat
berpengaruh pada perilaku dan karakter anak setelah lahir. Setelah anak lahir
bukan hanya pendengaran yang berfungsi namun penglihatannya pun mulai
berfungsi, selain
anak mendengar tutur kata ibu,
anak
juga melihat, mencontoh
perilaku sehari-hari sang ibu.
Sehingga
sering di katakan, anak
adalah peniru ulung. Anak
akan mudah melakukan apa yang sering dia lihat di bandingkan apa yang sering
dia dengar, sehingga
sebaik-baik nasehat adalah contoh atau tauladan.
Apalagi saat usia emas anak/goldenage
di masa itulah anak akan menyerap dengan mudah dan cepat apa yang dia dengar
dan dia lihat. Dimasa
itu pula kesempatan emas buat para orang tua untuk bisa mengembangkan investasi
berupa anak tersebut agar menjadi investasi amazing yang menguntungkan
dunia akhirat kita. Sangat
rugi jika kita hanya mendidik dan membesarkan anak hanya untuk tujuan dunia
saja, karena
dunia pasti akan kita tinggalkan.
Dalam
sebuah hadits, Nabi bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuan
utama nya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikannya
kemiskinan/tidak pernah merasa cukup apa yang ada di hadapannya, padahal dia tidak akan
mendapatkan(harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa
menjadikan akhiratnya niat
(tujuan
utama) nya
maka Allah akan menghimpunkan urusannya menjadi kekayaan/selalu merasa cukup
(ada) dalam
hatinya dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina(tidak bernilai di
hadapannya).
Maka dari itu
sebagai orang tua dalam mendidik hendaknya tidak terlalu berambisi hanya untuk
tujuan dunia saja. Kebanyakan
orang tua berpandangan bahwa kesuksesan anak itu tergantung pada kecerdasan
akademik/IQ nya saja, sehingga
tidak sedikit orang tua yang memaksakan anak nya untuk belajar calistung(Baca Tulis
Hitung) secara instant di usia dini,
mereka
takut anaknya tidak bisa calistung meskipun anaknya masih usia dini. Dan pada kenyataannya
banyak anak yang stres dan tertekan pikirannya karena di paksakan untuk belajar
calistung tanpa memperhatikan prosedur sesuai usia anak. Dan orang tua sering
merasa setres sendiri saat mengajari anak calistung dan anak sering menolak
atau berontak padahal mungkin cara nya yang salah/waktunya yang belum tepat. Akhirnya anak lagi yang
menjadi korban ambisi duniawi orang tuanya, anak di marahi dan anak
juga kehilang kebebasan bermainnya.
Kadang kita
sebagai orang tua sangat egois dengan keinginan sendiri, kita berharap anak bisa
calistung sejak dini kadang hanya untuk kebanggaan diri, pamer kepada orang tua
yang lain, tanpa
memperhatikan perasaan anak.
Kita
juga kadang merasa begitu bangga bisa memasukan anak ke bimbingan belajar yang
menjanjikan anak bisa calistung dalam waktu 70 hari.
Sebenarnya tidak
heran jika anak bisa calistung di usia dini dalam waktu hanya 70 hari, karena anak di usia
golden age sangat mudah menyerap apapun yang dia lihat dan dia dengar. Kebanyakan orang tua
merasa hebat jika anaknya sudah mampu calistung sejak usia dini, orang tua tidak
menyadari bahwa anak usia dini yang di paksakan untuk belajar calistung yang
tidak sesuai prosedur dan tidak memperhatikan usia, kedepannya anak memang
akan pandai membaca tapi dia menjadi anak yang tidak suka membaca, anak pandai menulis
tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka menulis, dan anak pandai berhitung
tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka berhitung bahkan benci dengan
matematika.
Mari Ayah Bunda, kita sama-sama cek
kembali seperti apakah kita mendidik anak selama ini. Sudahkah kita memberikan
pola asuh yang benar untuk anak? Sudahkah kita memperhatikan kebutuhan
batiniyah anak kita?. Anak
Usia Dini hanya membutuhkan kasih sayang, peluk cium, pemenuhan gizi seimbang, kebahagiaan saat
bermain terutama di alam bebas, sehingga dapat memiliki sifat dan karakter yang
baik untuk bekal kecerdasan dan
kesuksesannya. Karakter
baik/akhlak mulia adalah modal kesuksesan dunia akhirat, maka sebelum mengajari
anak ilmu dunia/calistung hendaknya ajari dulu Adab dan Sopan Santun.
Memang anak
cerdas secara IQ itu penting,
tapi
anak cerdas beradab dan berkarakter itu lebih utama. Karena pada kenyataannya
setelah anak dewasa dan hidup dalam lingkungan sosial masyarakat yang
sesungguhnya, kecerdasan
secara akademik saja bukan jaminan seseorang bisa menghadapi kehidupan di
masyarakat, tapi
Insyaa Allah dengan bekal ilmu agama, adab dan karakter tangguh berakhlak anak
akan lebih mampu menghadapi berbagai masalah yang mungkin akan di hadapi saat
anak dewasa. Sehingga
dalam Pendidikan Anak Usia Dini bukan hanya IQ(kecerdasan otak), EQ(kecerdasan Emosi),dan
SQ(Kecerdasan Spiritual) saja yang perlu diajarkan tapi ditambah lagi dengan
Kecerdasan menghadapi kesulitan(AQ).
Kecerdasan
menghadapi kesulitan pertama kali di perkenalkan oleh PaulG. Stoltz
yang di susun berdasarkan hasil riset lebih dari 500 kajian di seluruh dunia.
Demikian tulisan
ini di buat untuk pengingat bagi diri saya sebagai seorang ibu, seorang pendidik bagi
ketiga buah hati saya, dan
semoga bermanfaat juga bagi orang lain. Salam Pendidik Anak Usia Dini.
Uji Priyatiningsih - Tlaga, Gumelar. Banyumas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar