Rabu, 09 September 2020

ANAK CERDAS BERADAB BERKARAKTER

Bismillahirrohmanirrohiim

Sudah menjadi ketetapan Tuhan, bahwa manusia dilahirkan, besar, dewasa, menikah, menua dan pada akhirnya harus kembali pada Sang Pencipta. Allah SWT menciptakan manusia semata-mata hanya untuk beribadah kepada-Nya. Salah satu diantara beribu-ribu macam ibadah yang Rasululloh contohkan  adalah menikah/berumah tangga.

Menikah, selain bertujuan untuk menjalankan Sunnah Nabi juga berharap untuk mendapatkan keturunan. Bersyukurlah bagi kita yang Allah karuniakan keturunan, karena tidak semua pasangan suami istri Allah karuniai anak/keturunan.

Anak adalah amanah, investasi terbesar yang Allah titipkan kepada kita. Anak bisa menjadi sumber kebahagiaan yang akan mengantar kita hidup di surga, namun anak juga bisa menjadi sumber kesengsaraan yang akan menjerumuskan kita masuk ke dalam neraka. Pertanyaannya, apakah kita mampu mengelola dan merawat investasi tersebut agar kedepannya bisa menguntungkan kita, bukan malah merugikan diri kita. Ayah Bunda pertama kita rencanakan dulu, akan kita buat/kita bentuk anak tersebut dengan pola asuh seperti apakah? Orientasi dunia kah? Atau akhirat oriented.

Seorang anak akan menjadi seperti apa karakternya itu semua tergantung pada kita orang tua nya, teman bergaulnya dan juga lingkungannya. Semua sifat karakter anak yang membentuk pertama adalah orang tuanya, terutama ibunya, karena ibu adalah orang yang paling dekat dan paling lama bersama sang anak, ibu adalah orang yang kita lihat pertama saat kita bangun tidur dan orang yang kita lihat terakhir saat kita akan tidur.Ibu merupakan  pendidik pertama dan paling utama bagi anak-anaknya, maka pemikiran yang salah jika seorang perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya akan menjadi ibu rumah tangga, justru seorang perempuan itu harus memiliki ilmu yang tinggi karena akan menjadi pendidik bagi anak-anak nya terutama dalam ilmu agama baru ilmu dunia. Sebagai seorang perempuan jangan malu jika sudah berpendidikan tinggi tapi hanya berprofesi sebagai seorang ibu rumahtangga, berbanggalah karena meskipun kita hanya ibu rumah tangga tapi kita sarjana.

Karena ketika seorang ibu memiliki pendidikan tinggi maka akan lebih mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, tapi semua itu kembali kepada karakter seorang ibu tersebut. Ingat ya ayah bunda, berpendidikan tinggi tidak selalu sama dengan bersekolah yang tinggi. Karena banyak orang yang bersekolah tinggi bertitel banyak tapi pendidikannya kurang, tapi tidak sedikit pula orang yang lulusan bukan dari perguruan tinggi tapi memiliki pendidikan tinggi dan mampu mendidik putra putrinya menjadi anak yang sukses. Intinya orang yang bersekolah tinggi tidak selalu memiliki pendidikan yang tinggi, dengan kata lain banyak orang sekolah tapi tidak mendapatkan pendidikan, tapi pendidikan tinggi bisa di peroleh tidak harus dari bangku sekolah saja. Makna pendidikan yang saya maksud di sini beda dengan ijazah, ijazah harus didapat dari sekolah, tapi pendidikan bisa di peroleh dari manapun.

Bukan hal yang mudah dalam mendidik anak jika kita ingin memiliki anak yang tangguh berkarakter, butuh doa dan perjuangan yang luar biasa. Dan hal tersebut tidak bisa di lakukan menunggu anak besar. Perjuangan itu perlu di lakukan sejak kita baru pertama menikah, kemudian mengandung. Karena apa yang anak dengar mulai dari kandungan ibu dan perilaku ibu saat mengandung sangat berpengaruh pada perilaku dan karakter anak setelah lahir. Setelah anak lahir bukan hanya pendengaran yang berfungsi namun penglihatannya pun mulai berfungsi, selain anak mendengar tutur kata ibu, anak juga melihat, mencontoh perilaku sehari-hari sang ibu. Sehingga sering di katakan, anak adalah peniru ulung. Anak akan mudah melakukan apa yang sering dia lihat di bandingkan apa yang sering dia dengar, sehingga sebaik-baik nasehat adalah contoh atau tauladan.

Apalagi  saat usia emas anak/goldenage di masa itulah anak akan menyerap dengan mudah dan cepat apa yang dia dengar dan dia lihat. Dimasa itu pula kesempatan emas buat para orang tua untuk bisa mengembangkan investasi berupa anak tersebut agar menjadi investasi amazing yang menguntungkan dunia akhirat kita. Sangat rugi jika kita hanya mendidik dan membesarkan anak hanya untuk tujuan dunia saja, karena dunia pasti akan kita tinggalkan. Dalam sebuah hadits, Nabi bersabda: “Barang siapa yang (menjadikan) dunia tujuan utama nya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya dan menjadikannya kemiskinan/tidak pernah merasa cukup apa yang ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan(harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barang siapa menjadikan akhiratnya niat (tujuan utama) nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya menjadi kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina(tidak bernilai di hadapannya).

Maka dari itu sebagai orang tua dalam mendidik hendaknya tidak terlalu berambisi hanya untuk tujuan dunia saja. Kebanyakan orang tua berpandangan bahwa kesuksesan anak itu tergantung pada kecerdasan akademik/IQ nya saja, sehingga tidak sedikit orang tua yang memaksakan anak nya untuk belajar calistung(Baca Tulis Hitung) secara instant di usia dini, mereka takut anaknya tidak bisa calistung meskipun anaknya masih usia dini. Dan pada kenyataannya banyak anak yang stres dan tertekan pikirannya karena di paksakan untuk belajar calistung tanpa memperhatikan prosedur sesuai usia anak. Dan orang tua sering merasa setres sendiri saat mengajari anak calistung dan anak sering menolak atau berontak padahal mungkin cara nya yang salah/waktunya yang belum tepat. Akhirnya anak lagi yang menjadi korban ambisi duniawi orang tuanya, anak di marahi dan anak juga kehilang kebebasan bermainnya.

Kadang kita sebagai orang tua sangat egois dengan keinginan sendiri, kita berharap anak bisa calistung sejak dini kadang hanya untuk kebanggaan diri, pamer kepada orang tua yang lain, tanpa memperhatikan perasaan anak. Kita juga kadang merasa begitu bangga bisa memasukan anak ke bimbingan belajar yang menjanjikan anak bisa calistung dalam waktu 70 hari.

Sebenarnya tidak heran jika anak bisa calistung di usia dini dalam waktu hanya 70 hari, karena anak di usia golden age sangat mudah menyerap apapun yang dia lihat dan dia dengar. Kebanyakan orang tua merasa hebat jika anaknya sudah mampu calistung sejak usia dini, orang tua tidak menyadari bahwa anak usia dini yang di paksakan untuk belajar calistung yang tidak sesuai prosedur dan tidak memperhatikan usia, kedepannya anak memang akan pandai membaca tapi dia menjadi anak yang tidak suka membaca, anak pandai menulis tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka menulis, dan anak pandai berhitung tapi dia akan menjadi anak yang tidak suka berhitung bahkan benci dengan matematika.

Mari Ayah Bunda, kita sama-sama cek kembali seperti apakah kita mendidik anak selama ini. Sudahkah kita memberikan pola asuh yang benar untuk anak? Sudahkah kita memperhatikan kebutuhan batiniyah anak kita?. Anak Usia Dini hanya membutuhkan kasih sayang, peluk cium, pemenuhan gizi seimbang, kebahagiaan saat bermain terutama di alam bebas, sehingga dapat memiliki sifat dan karakter yang baik  untuk bekal kecerdasan dan kesuksesannya. Karakter baik/akhlak mulia adalah modal kesuksesan dunia akhirat, maka sebelum mengajari anak ilmu dunia/calistung hendaknya ajari dulu Adab dan Sopan Santun.

Memang anak cerdas secara IQ itu penting, tapi anak cerdas beradab dan berkarakter itu lebih utama. Karena pada kenyataannya setelah anak dewasa dan hidup dalam lingkungan sosial masyarakat yang sesungguhnya, kecerdasan secara akademik saja bukan jaminan seseorang bisa menghadapi kehidupan di masyarakat, tapi Insyaa Allah dengan bekal ilmu agama, adab dan karakter tangguh berakhlak anak akan lebih mampu menghadapi berbagai masalah yang mungkin akan di hadapi saat anak dewasa. Sehingga dalam Pendidikan Anak Usia Dini bukan hanya IQ(kecerdasan otak), EQ(kecerdasan Emosi),dan SQ(Kecerdasan Spiritual) saja yang perlu diajarkan tapi ditambah lagi dengan Kecerdasan menghadapi kesulitan(AQ). Kecerdasan menghadapi kesulitan pertama kali di perkenalkan oleh PaulG. Stoltz yang di susun berdasarkan hasil riset lebih dari 500 kajian di seluruh dunia.

Demikian tulisan ini di buat untuk pengingat bagi diri saya sebagai seorang ibu, seorang pendidik bagi ketiga buah hati saya, dan semoga bermanfaat juga bagi orang lain. Salam Pendidik Anak Usia Dini.

                                                             

Uji Priyatiningsih - Tlaga, Gumelar. Banyumas.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...