Jumat, 27 Juli 2012

MERUBAH BUDAYA KONSUMTIF KE PRODUKTIF


Seperti terencana dalam agenda tahunan, setiap memasuki Ramadhan, harga sembako kian melambung, diikuti harga barang lainya yang juga ikut naik. Rabu, 25 Juli 2012, pada halaman depan sebuah harian surat kabar memberitakan “Harga kedelai tak bisa ditahan”.  Dengan font besar dan tebal, mengindikasikan betapa dahsyat masalah pangan kita saat ini.
Pada kondisi wilayah pedesaan yang jauh dari pusat perbelanjaan, dari pagi hingga menjelang berbuka, tidak terhitung pedagang dadakan yang bergantian keluar masuk ke rumah penduduk menjajakan hasil masakannya. Rupa-rupa masakan dengan warna warni dan bentuk menarik, didukung iklan dengan gambar gerak pada televisi hati warga mudah goyah dari yang mencoba hemat ke pelampiasan semu yang belum tiba waktu ketika hasrat makan tertahan saat puasa. Ini baru yang hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan saja, belum lagi kebutuhan sandang.
Seperti apa yang disampaikan Siti Muyassarotul Hafidzoh dalam tulisannya Perempuan dan kecenderungan Konsumtif (SM,25/07/2012). Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT bergeser makna menjadi berburu identitas melalui pakaian mewah nan mahal.
Padahal, sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan rambu-rambu berupa batasan serta arahan dalam berkonsumsi atau membelanjakan harta yang Allah berikan kepada kita. Seperti dalam Firman-Nya : “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, diantara keduanya secara wajar.” (QS.Al-Furqon:67)
Berawal dari handphone (HP) yang sejatinya adalah alat komunikasi, kini telah  kehilangan fungsi utamanya. HP yang kita lihat saat ini adalah miniature computer dengan berbagai layanan multimedia serta internet yang begitu enteng untuk diaplikasikan. Mudahnya pengoperasian internet dalam HP merupakan bentuk dari kemajuan tekhnologi yang juga ikut andil mencerdaskan warga dalam mengenal tekhnologi, namun di sisi lain banyak warga yang terjebak “belanja online”, membeli barang hanya dengan melihat bentuknya saja melalui internet atau dengan kesepakatan-kesepakatan khusus yang bertumpu pada kepercayaan yang akhirnya berbuah pada kecocokan sesuai keinginan atau malah justru kekurang cocokan karena barang yang terbeli jauh dari harapan. Biasanya, orang yang pernah belanja online, akan mengalami kecanduan serta rasa penasaran yang tinggi ketika melihat penawaran yang disajikan dalam bentuk gambar tanpa mempedulikan label harga yang melekat. Hal ini menunjukan bahwa betapa konsumtifnya masyarakat kita saat ini.
Salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar atau alasan untuk berusaha adalah kebutuhan (wikipedia). Dengan adanya kebutuhan yang harus terpenuhi, ada dorongan pada manusia untuk berkerja dan berkarya. namun ada beberapa manusia yang terlalu longgar terhadap kebutuhan tanpa memandang sumber dana yang dimiliki. Yang penting harus memiliki! tanpa pernah berpikir bagaimana barang itu ada, seperti apa barang itu dibuat. Parahnya lagi bila membeli barang yang hanya sebatas penasaran dan sebenarnya barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan, mungkin tidak berlebihan bila  hal ini disebut pemborosan.
Pada kondisi ini, kita harus selektif dan kreatif membaca keadaan, jangan sampai kita hancur hanya demi mementingkan kebutuhan sekunder yang sebenarnya tidak begitu kita perlukan!  Dalam mengkonsumsi segala hal, Islam sangat menekankan kewajaran dari segi jumlah, yakni sesuai dengan kebutuhan. Dan apabila kebutuhan tersebut sulit untuk kita tekan, sebagai manusia yang telah dianugerahi potensi, kita wajib mengembangkan dan memanfaatkan untuk menutupi kebutuhan tersebut sesuai dengan rambu-rambu islam.
Tony Buzan dalam Head First mengatakan, “Kreativitas, dahulu dianggap sebagai  anugerah yang ajaib, yang hanya dimiliki oleh segelintir orang, sekarang kecerdasan merupakan anugerah ajaib yang dimiliki semua orang. Menguraikan kekuatan kecerdasan kreatif hanyalah masalah memahami bagaimana melakukannya”. Dari penjelasan ini seharusnya kita cepat tersadar bahwa setiap manusia pasti mempunyai potensi dan potensi tersebut wajib kita kembangkan dan kita manfaatkan bagi kehidupan, apapun bidangnya. Karena potensi seseorang berbeda, pemanfaatannyapun jelas harus berbeda pula sesuai bidangnya. Kerja keras dan kaizen (perubahan terus-menerus) serta terobosan-terobosan merupakan tahapan yang harus dilalui untuk mengembangkan inovasi atas sumber daya yang kita miliki.

Online dan Produktifitas
Betapa beruntungnya mereka yang berhasil menjual barang daganganya secara online, betapa kreatifnya mereka yang mampu memikat hati kita lewat karyanya. Dengan perantara kreatifitas, inovasi merupakan salah satu jembatan penyeberangan dari budaya Konsumtif ke produktif. Bisa juga setahun yang lalu posisi mereka sama seperti kita saat ini, memanjakan keinginan dan selalu dimanfaatkan oleh internet, namun seiring waktu berjalan mereka terus berselancar mencari informasi dan berhasil memanfaatkan internet. Di waktu lalu mereka mengeluarkan uang untuk membeli barang lewat internet, kini mereka berhasil menemukan cara agar barang tersebutlah yang harus menghasilkan uang untuk mereka.  Bila kita telah sadar bahwa kita masih dalam posisi konsumtif, setahun kedepan kita juga harus bisa seperti mereka. Berkarya sesuai dengan potensi yang kita miliki, mewujudkan hal-hal baru yang inovatif dan berguna untuk orang lain, serta kita juga harus mendapatkan penghasilan dari semua ini untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan. Sebelum kita online hari ini, sejenak mari kita renungkan Firman Allah SWT berikut:
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. At Thalaq : 3)
Lihatlah barang-barang yang telah kita beli, kemudian lihatlah pula layar handphone yang ada pada genggaman kita. Sama, tiada yang berbeda. Selebar Layar handphone ternyata mampu untuk menyimpan segala hal tentang keduniawian, namun hati dan pikiran kita tetap harus mampu menaklukan semua itu demi memperoleh berjuta layar handphone yang ada di akhirat kelak. Amin.

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...