Seperti terencana dalam agenda tahunan, setiap memasuki Ramadhan,
harga sembako kian melambung, diikuti harga barang lainya yang juga ikut naik. Rabu,
25 Juli 2012, pada halaman depan sebuah harian surat kabar memberitakan “Harga
kedelai tak bisa ditahan”. Dengan font besar dan tebal, mengindikasikan
betapa dahsyat masalah pangan kita saat ini.
Pada kondisi wilayah pedesaan yang jauh dari pusat perbelanjaan, dari
pagi hingga menjelang berbuka, tidak terhitung pedagang dadakan yang bergantian keluar masuk ke rumah penduduk menjajakan
hasil masakannya. Rupa-rupa masakan dengan warna warni dan bentuk menarik,
didukung iklan dengan gambar gerak pada televisi hati warga mudah goyah dari yang
mencoba hemat ke pelampiasan semu yang belum tiba waktu ketika hasrat makan tertahan
saat puasa. Ini baru yang hanya berkaitan dengan kebutuhan pangan saja, belum
lagi kebutuhan sandang.
Seperti apa yang disampaikan Siti Muyassarotul Hafidzoh dalam
tulisannya Perempuan dan kecenderungan
Konsumtif (SM,25/07/2012). Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT bergeser makna menjadi berburu
identitas melalui pakaian mewah nan mahal.
Padahal, sebagai agama yang sempurna, Islam telah memberikan rambu-rambu
berupa batasan serta arahan dalam berkonsumsi atau membelanjakan harta yang
Allah berikan kepada kita. Seperti dalam Firman-Nya : “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang
apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula)
kikir, diantara keduanya secara wajar.” (QS.Al-Furqon:67)
Salah satu aspek psikologis yang menggerakkan mahluk hidup dalam
aktivitas-aktivitasnya dan menjadi dasar atau alasan untuk berusaha adalah
kebutuhan (wikipedia). Dengan
adanya kebutuhan yang harus terpenuhi, ada dorongan pada manusia untuk berkerja
dan berkarya. namun ada beberapa manusia yang terlalu longgar terhadap kebutuhan
tanpa memandang sumber dana yang dimiliki. Yang penting harus memiliki! tanpa pernah
berpikir bagaimana barang itu ada, seperti apa barang itu dibuat. Parahnya lagi
bila membeli barang yang hanya sebatas penasaran dan sebenarnya barang tersebut
tidak terlalu dibutuhkan, mungkin tidak berlebihan bila hal ini disebut pemborosan.
Pada kondisi ini, kita harus selektif dan kreatif membaca keadaan,
jangan sampai kita hancur hanya demi mementingkan kebutuhan sekunder yang
sebenarnya tidak begitu kita perlukan! Dalam
mengkonsumsi segala hal, Islam sangat menekankan kewajaran dari segi jumlah,
yakni sesuai dengan kebutuhan. Dan apabila kebutuhan tersebut sulit untuk kita
tekan, sebagai manusia yang telah dianugerahi potensi, kita wajib mengembangkan
dan memanfaatkan untuk menutupi kebutuhan tersebut sesuai dengan rambu-rambu
islam.
Tony Buzan dalam Head First
mengatakan, “Kreativitas, dahulu dianggap sebagai anugerah yang ajaib, yang hanya dimiliki oleh
segelintir orang, sekarang kecerdasan merupakan anugerah ajaib yang dimiliki
semua orang. Menguraikan kekuatan kecerdasan kreatif hanyalah masalah memahami
bagaimana melakukannya”. Dari penjelasan ini seharusnya kita cepat tersadar
bahwa setiap manusia pasti mempunyai potensi dan potensi tersebut wajib kita
kembangkan dan kita manfaatkan bagi kehidupan, apapun bidangnya. Karena potensi
seseorang berbeda, pemanfaatannyapun jelas harus berbeda pula sesuai bidangnya.
Kerja keras dan kaizen (perubahan terus-menerus) serta
terobosan-terobosan merupakan tahapan yang harus dilalui untuk mengembangkan
inovasi atas sumber daya yang kita miliki.
Online dan Produktifitas
Betapa beruntungnya mereka yang berhasil menjual barang daganganya
secara online, betapa kreatifnya mereka yang mampu memikat hati kita lewat karyanya.
Dengan perantara kreatifitas, inovasi merupakan salah satu jembatan
penyeberangan dari budaya Konsumtif ke produktif. Bisa juga setahun yang lalu
posisi mereka sama seperti kita saat ini, memanjakan keinginan dan selalu dimanfaatkan
oleh internet, namun seiring waktu berjalan mereka terus berselancar mencari
informasi dan berhasil memanfaatkan internet. Di waktu lalu mereka mengeluarkan
uang untuk membeli barang lewat internet, kini mereka berhasil menemukan cara
agar barang tersebutlah yang harus menghasilkan uang untuk mereka. Bila kita telah sadar bahwa kita masih dalam
posisi konsumtif, setahun kedepan kita juga harus bisa seperti mereka. Berkarya
sesuai dengan potensi yang kita miliki, mewujudkan hal-hal baru yang inovatif
dan berguna untuk orang lain, serta kita juga harus mendapatkan penghasilan dari
semua ini untuk menutupi kebutuhan yang kita perlukan. Sebelum kita online hari ini, sejenak mari kita
renungkan Firman Allah SWT berikut:
“Dan barang
siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)
nya.” (QS. At Thalaq : 3)
Lihatlah barang-barang yang telah kita beli, kemudian lihatlah
pula layar handphone yang ada pada
genggaman kita. Sama, tiada yang berbeda. Selebar Layar handphone ternyata
mampu untuk menyimpan segala hal tentang keduniawian, namun hati dan pikiran kita
tetap harus mampu menaklukan semua itu demi memperoleh berjuta layar handphone yang ada di akhirat
kelak. Amin.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar