Hujan deras terus menerus disertai angin
kencang membuat gedung eks SD 1 Tlaga runtuh. Suara genting yang hancur teratur
karena usuk dan rengnya ambrol menimbulkan suara aneh dan mengagetkan warga
Desa. Ini terjadi malam hari menjelang Isya akhir Februari lalu.
Gedung eks SD 1 Tlaga, Kec. Gumelar, Kab.
Banyumas yang hancur merupakan gedung Sekolah yang didirikan 1 Juni 1960 silam,
dan mulai pertengahan tahun 2008 tepatnya 30 Juni, gedung ini tidak lagi
dipergunakan karena bangunan tersebut dinilai kadaluarsa serta kayu dan
property lainnya lapuk. Karena letaknya satu wilayah dan berdekatan serta
jumlah siswa yang lebih sedikit dari standar proporsional maka siswa bergabung
ke SD 3 Tlaga untuk kemudian SD tersebut di replace menjadi SD 1 Tlaga.
Bangunan terlihat semakin renta semenjak
gedung tidak dipergunakan. Meski demikian, selain sebagai area bermain anak
sekitar, berbagai kegiatan seperti Sholat Id’, peringatan hari besar Islam,
takraw, bulu tangkis hingga aerobic ibu ibu rutin dilakukan di halamannya.
Di tempat lain, masih dalam satu
kecamatan, Desa Gumelar baru saja merampungkan pembangunan gedung serba guna
yang sebelumnya adalah gedung BPLKMD (Balai Pertemuan Lembaga Ketahanan
Masyarakat Desa)_sekarang disebut BPL saja. Antusiasme warga dibidang olahraga
cukup bagus. Hal ini terlihat ketika warga mengantri bermain bulu tangkis di
gedung tersebut. Dan mungkin Gumelar merupakan salah satu dari sekian desa yang
menyediakan tempat khusus untuk perkembangan bakat warganya. Dari sinilah
terjadi seleksi, dari yang coba-coba menjadi tergila-gila, kemudian muncul
nama, dikenal wilayah luar dan seleksipun melebar hingga lahirlah sang juara.
Pada pelaksanaan kegiatan POPDA tingkat
SMA/SMK yang dilaksanakan akhir Februari 2012, SMA PGRI Gumelar berhasil
memperoleh prestasi dalam kejuaraan beberapa mata olahraga yang dilombakan.
Salah satunya adalah sepak takraw yang harus puas menjadi runner up di
Kabupaten. Juara ada karena kemauan, kemampuan, disiplin tinggi, dan pastinya
bakat, ketika kita berbicara bakat, dalam benak kita mungkin akan mengalir
fikir kalau sudah bakat apapun bisa sepakat, artinya, bakat yang merupakan
kelebihan sejak lahir yang dimiliki oleh seseorang akan tetap mudah berkembang
dan bisa diaplikasikan sesuai dengan jalurnya meski tanpa dukungan fasilitas
yang cukup. Mungkin ini bisa saja terjadi pada beberapa orang, namun tidak
untuk keseluruhan orang, karena berdasarkan fakta di lapangan fasilitas yang
memadai tetap dominan dan sangat berperan untuk mengembangkan bakat.
Bila kita cermati tahap demi tahap untuk
melahirkan sang juara, kita bisa mengelompokan sedikit dari sekian hal yang
saling berkait.
Pertama bakat, setiap manusia pasti
memiliki sisi keunggulan dalam hidupnya, kelebihan atau kemampuan yang tidak
setiap manusia memilikinya, dan masing-masing manusia berbeda dalam hal ini.
Kedua minat, dalam kamus besar bahasa Indonesia minat adalah kecenderungan hati
yang tinggi terhadap sesuatu hal. Minat seseorang mudah sekali berubah dan bisa
sangat lemah sesuai dengan perubahan lingkungan sekitar. Ketiga tempat, tempat
sangat berperan dalam perkembangan hal apapun yang berkaitan dengan penempaan
bakat. Bila tempat tidak proporsional, minat dan bakat bisa terhambat kemudian
pupus dan akhirnya mati.
Sama halnya dengan sekolah lain, untuk
menghadapi POPDA siswa SMA PGRI Gumelar juga berlatih secara intens dibawah
bimbingan pembina ekstra di halaman sempit sekolah yang “multifungsi”_tempat
parkir, upacara, olahraga dll. Selain itu ternyata peserta juga rajin berlatih
sendiri di halaman SD I Tlaga diluar jadwal latihan bersama pembimbing dari
sekolah. Ini membuktikan bahwa selain bakat, peserta juga memiliki minat yang
kuat. Lalu apa hubungannya Siswa SMA peserta takraw lomba POPDA _yang semuanya
berasal dari Tlaga_ dengan Gedung SD 1 Tlaga yang sudah hancur?.
Halaman SD 1 Tlaga ternyata cukup
berperan terhadap perkembangan olahraga siswa SMA & pemuda desa, namun
sampai saat ini pihak Desa merasa kesulitan untuk membongkar gedung yang sudah
lapuk tersebut, hingga akhirnya roboh diterjang hujan. Pembangunan gedung serba
guna BPL yang sudah selesai, adalah inspirasi iri untuk gigit jari warga Tlaga.
Merapikan lahan agar tepat guna seolah mimpi dalam nyenyak tidur. Lahan desa
yang strategis terlantar begitu saja tanpa ada tindak lanjut yang semestinya.
Lahan Sia-sia
Padahal seandainya di berdayakan dengan
baik lahan seluas 19.175 m2 Itu bisa dimanfaatkan maksimal. Gedung serba guna
misalnya, dengan adanya bangunan seperti ini diharapkan bisa berperan sesuai
dengan namanya yaitu serba bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang
bermanfaat demi memajukan Desa dan mencerdaskan warga.
Sejatinya segala peraturan dan kebijakan
serta tujuan dari pemerintah tentang semua hal yang berkaitan dengan apapun
pasti telah benar-benar melalui proses rumit dengan berbagai pertimbangan,
namun demikian, sisi resiko dari efek peraturan tersebut tentunya tidak bisa
dihindari sepenuhnya.
Adalah izin penghapusan keberadaan gedung
yang sampai saat ini belum terwujud. Meski prestasi siswa serta tauladan Bapak
dan Ibu guru yang telah permanen terpatri dalam arsip nurani alumni SD 1 Tlaga
tidak akan pernah terhapus dan dihapus, namun untuk sarana bangunan eks SD 1
Tlaga yang sudah lapuk semestinya dibongkar karena membahayakan warga sekitar.
Melihat kenyataan seperti ini, apapun
alasannya dan harus seperti apa prosesnya, kiranya pihak terkait secepatnya
memikirkan dan menindak lanjuti kedepan supaya lahan tidak dibiarkan sia-sia
dan bermanfaat bagi Desa untuk perkembangan bakat warganya serta melahirkan
benih-benih potensi yang bisa diandalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar