Rabu, 14 Maret 2012

ARSIP NURANI TAULADAN GURU


Hujan deras terus menerus disertai angin kencang membuat gedung eks SD 1 Tlaga runtuh. Suara genting yang hancur teratur karena usuk dan rengnya ambrol menimbulkan suara aneh dan mengagetkan warga Desa. Ini terjadi malam hari menjelang Isya akhir Februari lalu.
Gedung eks SD 1 Tlaga, Kec. Gumelar, Kab. Banyumas yang hancur merupakan gedung Sekolah yang didirikan 1 Juni 1960 silam, dan mulai pertengahan tahun 2008 tepatnya 30 Juni, gedung ini tidak lagi dipergunakan karena bangunan tersebut dinilai kadaluarsa serta kayu dan property lainnya lapuk. Karena letaknya satu wilayah dan berdekatan serta jumlah siswa yang lebih sedikit dari standar proporsional maka siswa bergabung ke SD 3 Tlaga untuk kemudian SD tersebut di replace menjadi SD 1 Tlaga.
Bangunan terlihat semakin renta semenjak gedung tidak dipergunakan. Meski demikian, selain sebagai area bermain anak sekitar, berbagai kegiatan seperti Sholat Id’, peringatan hari besar Islam, takraw, bulu tangkis hingga aerobic ibu ibu rutin dilakukan di halamannya.
Di tempat lain, masih dalam satu kecamatan, Desa Gumelar baru saja merampungkan pembangunan gedung serba guna yang sebelumnya adalah gedung BPLKMD (Balai Pertemuan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa)_sekarang disebut BPL saja. Antusiasme warga dibidang olahraga cukup bagus. Hal ini terlihat ketika warga mengantri bermain bulu tangkis di gedung tersebut. Dan mungkin Gumelar merupakan salah satu dari sekian desa yang menyediakan tempat khusus untuk perkembangan bakat warganya. Dari sinilah terjadi seleksi, dari yang coba-coba menjadi tergila-gila, kemudian muncul nama, dikenal wilayah luar dan seleksipun melebar hingga lahirlah sang juara.
Pada pelaksanaan kegiatan POPDA tingkat SMA/SMK yang dilaksanakan akhir Februari 2012, SMA PGRI Gumelar berhasil memperoleh prestasi dalam kejuaraan beberapa mata olahraga yang dilombakan. Salah satunya adalah sepak takraw yang harus puas menjadi runner up di Kabupaten. Juara ada karena kemauan, kemampuan, disiplin tinggi, dan pastinya bakat, ketika kita berbicara bakat, dalam benak kita mungkin akan mengalir fikir kalau sudah bakat apapun bisa sepakat, artinya, bakat yang merupakan kelebihan sejak lahir yang dimiliki oleh seseorang akan tetap mudah berkembang dan bisa diaplikasikan sesuai dengan jalurnya meski tanpa dukungan fasilitas yang cukup. Mungkin ini bisa saja terjadi pada beberapa orang, namun tidak untuk keseluruhan orang, karena berdasarkan fakta di lapangan fasilitas yang memadai tetap dominan dan sangat berperan untuk mengembangkan bakat.
Bila kita cermati tahap demi tahap untuk melahirkan sang juara, kita bisa mengelompokan sedikit dari sekian hal yang saling berkait.
Pertama bakat, setiap manusia pasti memiliki sisi keunggulan dalam hidupnya, kelebihan atau kemampuan yang tidak setiap manusia memilikinya, dan masing-masing manusia berbeda dalam hal ini. Kedua minat, dalam kamus besar bahasa Indonesia minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu hal. Minat seseorang mudah sekali berubah dan bisa sangat lemah sesuai dengan perubahan lingkungan sekitar. Ketiga tempat, tempat sangat berperan dalam perkembangan hal apapun yang berkaitan dengan penempaan bakat. Bila tempat tidak proporsional, minat dan bakat bisa terhambat kemudian pupus dan akhirnya mati.
Sama halnya dengan sekolah lain, untuk menghadapi POPDA siswa SMA PGRI Gumelar juga berlatih secara intens dibawah bimbingan pembina ekstra di halaman sempit sekolah yang “multifungsi”_tempat parkir, upacara, olahraga dll. Selain itu ternyata peserta juga rajin berlatih sendiri di halaman SD I Tlaga diluar jadwal latihan bersama pembimbing dari sekolah. Ini membuktikan bahwa selain bakat, peserta juga memiliki minat yang kuat. Lalu apa hubungannya Siswa SMA peserta takraw lomba POPDA _yang semuanya berasal dari Tlaga_ dengan Gedung SD 1 Tlaga yang sudah hancur?.
Halaman SD 1 Tlaga ternyata cukup berperan terhadap perkembangan olahraga siswa SMA & pemuda desa, namun sampai saat ini pihak Desa merasa kesulitan untuk membongkar gedung yang sudah lapuk tersebut, hingga akhirnya roboh diterjang hujan. Pembangunan gedung serba guna BPL yang sudah selesai, adalah inspirasi iri untuk gigit jari warga Tlaga. Merapikan lahan agar tepat guna seolah mimpi dalam nyenyak tidur. Lahan desa yang strategis terlantar begitu saja tanpa ada tindak lanjut yang semestinya.

Lahan Sia-sia
Padahal seandainya di berdayakan dengan baik lahan seluas 19.175 m2 Itu bisa dimanfaatkan maksimal. Gedung serba guna misalnya, dengan adanya bangunan seperti ini diharapkan bisa berperan sesuai dengan namanya yaitu serba bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat demi memajukan Desa dan mencerdaskan warga.
Sejatinya segala peraturan dan kebijakan serta tujuan dari pemerintah tentang semua hal yang berkaitan dengan apapun pasti telah benar-benar melalui proses rumit dengan berbagai pertimbangan, namun demikian, sisi resiko dari efek peraturan tersebut tentunya tidak bisa dihindari sepenuhnya.
Adalah izin penghapusan keberadaan gedung yang sampai saat ini belum terwujud. Meski prestasi siswa serta tauladan Bapak dan Ibu guru yang telah permanen terpatri dalam arsip nurani alumni SD 1 Tlaga tidak akan pernah terhapus dan dihapus, namun untuk sarana bangunan eks SD 1 Tlaga yang sudah lapuk semestinya dibongkar karena membahayakan warga sekitar.

Melihat kenyataan seperti ini, apapun alasannya dan harus seperti apa prosesnya, kiranya pihak terkait secepatnya memikirkan dan menindak lanjuti kedepan supaya lahan tidak dibiarkan sia-sia dan bermanfaat bagi Desa untuk perkembangan bakat warganya serta melahirkan benih-benih potensi yang bisa diandalkan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...