Dalam kampanye, warna warni
berbagai pilihan dengan tawaran klasik yang mudah ditebak sungguh sesuatu yang menjemukan.
Namun apapun tawaran mereka lewat janji yang terlontar pada akhirnya luluh juga
kita untuk merobek identitas mereka dengan paku coblos 9 april kemarin.
Istilah sukses memiliki arti
beragam sesuai kondisi awal. Contoh: sukses siswa di sekolah, adalah mereka yang
lulus dengan nilai bagus. Artinya, mereka lulus melalui berbagai ujian terlebih
dahulu. Dan sukses seorang caleg adalah berhasil terpilih, ujian yang
sesungguhnya belakangan ketika menduduki
jabatan.
Siapapun mereka yang terpilih,
sukses mereka seharusnya sukses kita juga yang memilih. Kita tidak ingin mereka
asal jalan, melenggang tanpa sapaan setelah sebelumnya justru kitalah yang bergotong
royong memperbaiki jalan terjal mereka.
Kesediaan kita bergotong royong
tergantung dari upaya mereka menarik perhatian kita. Bila mereka menunjukan
tingkah laku yang baik tanpa dimintapun kita pasti membantu tanpa pamrih. Hanya
saja mereka terlalu terburu-buru memperlihatkan imbalan untuk tenaga kita, kondisi
masyarakat kita yang lebai pun
akhirnya tergoda. Pada titik ini perubahan niat bisa saja terjadi, yang tadinya
tanpa pamrih tiba-tiba muncul harapan.
Tingkah laku berarti kampanye
natural, dimana mimic wajah dan gestur tubuh_meski sarat polesan_setidaknya
mewakili nurani mereka, dan caleg ibarat remaja
lugu Indonesian Idol, mereka sukses muncul di TV karena kocaknya kurang
menguasai nada, norak pada tampilan, mengharukan pada usaha dan upaya, serta
gila pada obsesi.
Namun demikian, peserta yang berhasil
sampai ke panggung spektakuler adalah pembuktian bahwa mereka yang lolos memang
betul-betul melalui proses ketat yang didasarkan pada kepemilikian ciri khas
atau karakter unik yang tidak dimiliki banyak orang. Siapapun mereka, orang-orang
yang pernah mengenalnya pasti merasa bangga. Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin
tidak kenal mereka sama sekali?.
Orang menentukan pilihan karena
merasa ia memilih dengan kegembiraan: ada harapan yang direpresentasikan oleh
caleg yang dicoblosnya. Ia memilih karena menyandangkan harapan tentang
perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Suara Merdeka_03/04/2014).
Kita memilih bukan semata memakmurkan perorangan, juga bukan memberikan
kewenangan untuk bertindak semena-mena.
Pendidikan karakter seperti yang
digembor-gemborkan pada dunia pendidikan dewasa ini, wajib hukumnya bagi mereka
yang terpilih untuk dipahami kemudian dilaksanakan dengan penjiwaan. Kenapa?
beberapa waktu lalu terjadi Insiden seorang pejabat saat kampanye “merasa
kecewa” terhadap polantas, lantas meluapkan emosinya secara berlebihan sebagai
wujud loyalitas terhadap partainya. Dari kejadian ini, rakyat pasti lebih
cerdas mempertimbangkan konsekuensi apa yang didapat bila anggota legislativenya
tidak mampu mengendalikan emosinya secara wajar.
Harapan terhadap siswa agar
memiliki kepribadian yang baik, tidak berlebihan kiranya bila kita juga berharap
wakil rakyat yang terhormat memiliki kepribadian yang bisa menjadi tauladan
bagi siswa itu sendiri. Sosialisasi pemilih pemula bagi siswa siswi yang sudah
mencapai umur 17 tahun keatas yang disampaikan pada Sekolah Menengah Atas sepekan
lalu akan menjadi titik awal sebuah persepsi demokrasi bagi pengetahuan mereka
untuk mengenali dunia pemerintahan di Negerinya sendiri.
Kita tidak ingin mereka para
generasi muda rusak cara berfikirnya tatkala muncul fenomena negative mewarnai
pesta demokrasi serta pengingkaran janji menjadi sesuatu yang bisa dimaklumi. Tontonan
yang baik-baik pada pesta demokrasi serta kekuatan janji agar wajib di tepati
merupakan modal awal untuk me-refresh fikiran kita semua yang telah
lelah dengan kemelut berbagai drama politik yang carut marut untuk memulai
memandang positif nilai demokrasi saat ini.
Dengan pembekalan pendikar akan
tumbuh nilai-nilai yang diyakini sehingga menjadi bekal untuk menjalankan
kehidupan yang lebih baik dan menempatkannya pada posisi yang sangat mulia bagi
pembentukan dan perkembangan kepribadian (Wikipedia).
Jika seseorang telah dibekali pendikar
maka dia akan mampu menyaring setiap pengaruh negative yang masuk, dan
mempunyai ketahanan mental dalam menjalani kehidupan.
Sekarang jelaslah bahwa antara
siswa maupun caleg tidak ada bedanya dalam hal kebutuhan pendidikan karakter. Kita
sama-sama menyandangkan harapan terhadap mereka akan kepribadian yang baik dan
kita juga sama sama menjadi saksi bagaimana kekompakan mereka dalam ber-selfie.
Selamat menempuh hidup baru
Selamat, dan akhirnya mereka
terpilih menjadi wakil kita rakyat Indonesia. Sekarang saatnya kita melihat hasil,
apakah mereka termasuk orang-orang yang pandai menepati janji atau bukan.
Karena kesungguhan mereka tidak sekedar menyuarakan suara kita, namun bagaimana
menjaga aspirasi agar tidak pudar dan benar-benar menancap pada nurani
pemerintah.
Selamat, dan berbesar hatilah, akhirnya
sebagian dari mereka harus tereliminasi dari seleksi, terbebas dari tugas berat
untuk mengendalikan kewenangan dengan berbagai sandungan, kerikil tajam serta tiupan
angin besar.
Dan sekali lagi saya ucapkan
selamat menempuh hidup baru bagi mereka yang terpilih ataupun yang tidak. Sesungguhnya
kelak laporan pertanggung jawaban (LPJ) harus mereka tunjukan ke haribaan Peradilan
yang Maha Adil atas segala kewenangan pekerjaan di atas fasilitas mewah yang dibiayai
rakyat. Dan semoga pendikar akan menjadi hard cover untuk susunan LPJ
mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar