Bismillahirrahmanirrahiim
Hari ini tepat di hari lahirku sekaligus hari lahir anakku, Allah hadiahkan anak pertamaku di hari, tanggal, bulan yang sama dengan hari lahirku. Entah kenapa di setiap hari kelahiranku yang sekaligus hari ultah anakku aku selalu merasa bahagia, bersyukur dan sedih. Aku bahagia karena masih diberikan kesempatan untuk hidup sampai hari ini, aku bersyukur karena bisa melahirkan anaku dengan sehat dan selamat, tapi aku juga bersedih jika ingat Ibu yang telah melahirkanku. Aku merasa banyak sekali dosa yang telah aku perbuat terhadap ibuku.
Aku merasakan betapa besar dan berat pengorbanan Ibu selama mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat aku hingga aku besar. Namun selama ini aku belum bisa membalas kebaikan orang tuaku. Hal itu selalu aku rasakan setiap saat terutama tepat di hari lahirku. Moment 16 tahun yang lalu selalu terulang dalam memori pikiranku, dan tak pernah bisa terlupakan. Di hari itu Senin 27 September 2004 pukul 05.00 pagi, perutku mules dan melilit, pinggang terasa sangat pegal dan pecah ketuban. Namun aku masih bisa untuk jalan-jalan di dalam ruangan rumah. Sampai akhirnya aku harus berbaring di tempat tidur kamarku untuk berjuang sekuat tenaga, nyawaku jadi taruhannya, seribu rasa sakit aku rasakan menjadi satu, betapa nikmatnya. Perasaan yang baru pertama aku rasakan sepanjang usiaku. Itulah perasaan seorang perempuan yang akan melahirkan anak nya, perasaan yang tidak bisa di ceritakan dan hanya bisa di rasakan oleh semua ibu yang melahirkan anaknya secara normal.
Waktu sudah berjalan selama kurang lebih 6 jam, bayiku masih belum lahir juga. Aku sudah merasa putus asa, lelah dan tak memiliki tenaga lagi. Sampai aku pun bilang, “Aku nggak kuat lagi, aku pengin tidur saja “, karena lelahnya aku pun merintih dan menangis lalu aku menyuruh suamiku untuk memanggil Ibuku. Kemudian Ibu masuk ke kamarku, Ibu pun menangis melihat aku, beliau memeluk aku, dan aku pun menangis sambil berkata, “Ma..maafkan aku,maafkan aku, maafkan aku...”, sambil aku menangis merasa tak kuat lagi untuk berjuang melahirkan anakku. Dan Ibu pun berkata,”Iya..aku maafkan,kamu harus kuat”.
Betapa aku merasa sangat berat perjuanganku saat itu, dan semua dosa-dosaku terhadap Ibu pun terlihat semua dalam pikiranku, sehingga aku berpikir mungkin karena dosa-dosa ku yang sangat besar terhadap kedua orang tuaku sehingga Allah memberikan rasa sakit yang luar biasa dan lambatnya proses persalinan anakku. Namun banyak hikmah dan pelajaran yang aku peroleh dari peristiwa itu. Aku merasakan betapa besar perjuangan Ibu saat melahirkan aku, dan betapa ikhlas seorang Ibu mempertaruhkan apapun demi anak-anaknya bahkan nyawa pun beliau pertaruhkan demi lahirnya Sang buah hati ke dunia ini.
Dan aku merasakan betapa Ridha Allah terletak pada Ridha orang tua, terbukti setelah Ibu memeluk aku dan memaafkan kesalahan aku, hanya selang beberapa menit saja maka lahirlah anakku dalam keadaan sehat dan normal, dengan panjang badan 50 Cm dan berat badan 3,9 Kg. Aku pun menangis bahagia, hilang semua rasa sakitku setelah mendengar tangis anakku, Ibuku pun kembali memeluk dan mencium aku, tak henti-hentinya aku mengucap kata terimakasih untuk Ibu.
Dan kenangan saat itulah yang membuat aku selalu meneteskan air mata di setiap hari lahirku, terbayang semua kebaikan, pengorbanan, rasa sakit yang Ibu rasakan selama ini. Terbayang pula semua kenakalan-kenakalan masa kecil, dan ucapan serta perilaku yang aku perbuat yang sering membuat Ibu sedih, menangis dan bahkan sakit hati. Namun seorang Ibu selalu menyayangi mengasihi anak-anaknya sampai akhir hidupnya. Meskipun anaknya telah dewasa, telah berkeluarga tapi Ibu masih tetap menyayangi, mengasihi dan mengkhawatirkan keadaan anak-anaknya.
Begitu lah cinta Ibu sepanjang hayat, namun cinta anak terhadap orang tua sangat tidak sebanding. Jangankan untuk membalas kebaikan, hanya sekedar tidak merepotkan pun belum bisa.Di usianya yang sudah senja, masih saja kita sebagai anak merepotkan orang tua kita. Dengan cerita-cerita yang menyedikan akan membuat orang tua sangat sedih, kadang juga merepotkan dengan tenaganya untuk mengasuh anak-anak kita, walaupun kita tau betapa ikhlas dan bahagianya mereka ketika mereka mengasuh anak-anak kita atau cucu mereka. Dan orang tua pun selalu memberikan apa yang mereka punya apalagi ketika tau anaknya sedang kesulitan dalam hal materi, tapi masih juga kita sering bertutur kata keras, tidak sopan, merendahkan, saat sesekali orang tua memberikan nasehat kepada kita, betapa keterlaluannya kita. Sungguh pengorbanan orang tua tidak bisa kita bayar dengan materi sebanyak apapun, tidak akan pernah lunas untuk membayar kebaikan mereka walaupun dunia dan isinya kita berikan kepada kedua orang tua.
Maaf kan anakmu Ibu, belum bisa membalas segala pengorbanan dan kebaikanmu, semoga Allah selalu melindungimu, mengampuni dosa-dosamu, memberikan kesehatan, memberikan rizki yang berkah dan sisa umur yang berkah, dan hanya Allah yang akan membalas kebaikan Ibu Ayah dengan balasan Surga. Hanya doa yang bisa aku panjatkan untukmu Ibu Ayah, Allahummaghfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa.
Semoga kita terhindar dari hal buruk yang dapat menyakiti hati mereka, mari kita manfaatkan waktu yang ada selama orang tua kita masih hadir di dunia menemani kita, dan selalu amalkan doa tersebut agar hidup kita semakin tenang dan damai.
Tulisan ini sebagai pengingat diri saya pribadi dan semoga bermanfaat.
Uji Priyatiningsih- Tlaga,, Gumelar.
masyaAllah..tulisannya sangat menginspirasi...semangat berkarya bu dg ide2 cemerlang untuk semua para orangtua...,๐๐๐๐
BalasHapusInspiratif
BalasHapus