Rabu, 09 April 2014

Pendikar Untuk Caleg



Dalam kampanye, warna warni berbagai pilihan dengan tawaran klasik yang mudah ditebak sungguh sesuatu yang menjemukan. Namun apapun tawaran mereka lewat janji yang terlontar pada akhirnya luluh juga kita untuk merobek identitas mereka dengan paku coblos 9 april kemarin.
Mereka yang lulus seleksi calon legislative (caleg), adalah orang-orang yang dianggap pintar dan telah mampu melewati proses, mengorbankan waktu dan lain hal yang berkaitan demi mulusnya jalan menuju puncak yakni membangun jalan agar tercapai sukses.
Istilah sukses memiliki arti beragam sesuai kondisi awal. Contoh: sukses siswa di sekolah, adalah mereka yang lulus dengan nilai bagus. Artinya, mereka lulus melalui berbagai ujian terlebih dahulu. Dan sukses seorang caleg adalah berhasil terpilih, ujian yang sesungguhnya  belakangan ketika menduduki jabatan.
Siapapun mereka yang terpilih, sukses mereka seharusnya sukses kita juga yang memilih. Kita tidak ingin mereka asal jalan, melenggang tanpa sapaan setelah sebelumnya justru kitalah yang bergotong royong memperbaiki jalan terjal mereka.
Kesediaan kita bergotong royong tergantung dari upaya mereka menarik perhatian kita. Bila mereka menunjukan tingkah laku yang baik tanpa dimintapun kita pasti membantu tanpa pamrih. Hanya saja mereka terlalu terburu-buru memperlihatkan imbalan untuk tenaga kita, kondisi masyarakat kita yang lebai pun akhirnya tergoda. Pada titik ini perubahan niat bisa saja terjadi, yang tadinya tanpa pamrih tiba-tiba muncul harapan.
Tingkah laku berarti kampanye natural, dimana mimic wajah dan gestur tubuh_meski sarat polesan_setidaknya mewakili nurani mereka, dan caleg ibarat remaja lugu Indonesian Idol, mereka sukses muncul di TV karena kocaknya kurang menguasai nada, norak pada tampilan, mengharukan pada usaha dan upaya, serta gila pada obsesi.
Namun demikian, peserta yang berhasil sampai ke panggung spektakuler adalah pembuktian bahwa mereka yang lolos memang betul-betul melalui proses ketat yang didasarkan pada kepemilikian ciri khas atau karakter unik yang tidak dimiliki banyak orang. Siapapun mereka, orang-orang yang pernah mengenalnya pasti merasa bangga. Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin tidak kenal mereka sama sekali?.
Orang menentukan pilihan karena merasa ia memilih dengan kegembiraan: ada harapan yang direpresentasikan oleh caleg yang dicoblosnya. Ia memilih karena menyandangkan harapan tentang perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Suara Merdeka_03/04/2014). Kita memilih bukan semata memakmurkan perorangan, juga bukan memberikan kewenangan untuk bertindak semena-mena.
Pendidikan karakter seperti yang digembor-gemborkan pada dunia pendidikan dewasa ini, wajib hukumnya bagi mereka yang terpilih untuk dipahami kemudian dilaksanakan dengan penjiwaan. Kenapa? beberapa waktu lalu terjadi Insiden seorang pejabat saat kampanye “merasa kecewa” terhadap polantas, lantas meluapkan emosinya secara berlebihan sebagai wujud loyalitas terhadap partainya. Dari kejadian ini, rakyat pasti lebih cerdas mempertimbangkan konsekuensi apa yang didapat bila anggota legislativenya tidak mampu mengendalikan emosinya secara wajar.
Harapan terhadap siswa agar memiliki kepribadian yang baik, tidak berlebihan kiranya bila kita juga berharap wakil rakyat yang terhormat memiliki kepribadian yang bisa menjadi tauladan bagi siswa itu sendiri. Sosialisasi pemilih pemula bagi siswa siswi yang sudah mencapai umur 17 tahun keatas yang disampaikan pada Sekolah Menengah Atas sepekan lalu akan menjadi titik awal sebuah persepsi demokrasi bagi pengetahuan mereka untuk mengenali dunia pemerintahan di Negerinya sendiri.
Kita tidak ingin mereka para generasi muda rusak cara berfikirnya tatkala muncul fenomena negative mewarnai pesta demokrasi serta pengingkaran janji menjadi sesuatu yang bisa dimaklumi. Tontonan yang baik-baik pada pesta demokrasi serta kekuatan janji agar wajib di tepati merupakan modal awal untuk me-refresh fikiran kita semua yang telah lelah dengan kemelut berbagai drama politik yang carut marut untuk memulai memandang positif nilai demokrasi saat ini.
Dengan pembekalan pendikar akan tumbuh nilai-nilai yang diyakini sehingga menjadi bekal untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik dan menempatkannya pada posisi yang sangat mulia bagi pembentukan dan perkembangan kepribadian (Wikipedia).
Jika seseorang telah dibekali pendikar maka dia akan mampu menyaring setiap pengaruh negative yang masuk, dan mempunyai ketahanan mental dalam menjalani kehidupan.
Sekarang jelaslah bahwa antara siswa maupun caleg tidak ada bedanya dalam hal kebutuhan pendidikan karakter. Kita sama-sama menyandangkan harapan terhadap mereka akan kepribadian yang baik dan kita juga sama sama menjadi saksi bagaimana kekompakan mereka dalam ber-selfie.

Selamat menempuh hidup baru
Selamat, dan akhirnya mereka terpilih menjadi wakil kita rakyat Indonesia. Sekarang saatnya kita melihat hasil, apakah mereka termasuk orang-orang yang pandai menepati janji atau bukan. Karena kesungguhan mereka tidak sekedar menyuarakan suara kita, namun bagaimana menjaga aspirasi agar tidak pudar dan benar-benar menancap pada nurani pemerintah.
Selamat, dan berbesar hatilah, akhirnya sebagian dari mereka harus tereliminasi dari seleksi, terbebas dari tugas berat untuk mengendalikan kewenangan dengan berbagai sandungan, kerikil tajam serta tiupan angin besar.
Dan sekali lagi saya ucapkan selamat menempuh hidup baru bagi mereka yang terpilih ataupun yang tidak. Sesungguhnya kelak laporan pertanggung jawaban (LPJ) harus mereka tunjukan ke haribaan Peradilan yang Maha Adil atas segala kewenangan pekerjaan di atas fasilitas mewah yang dibiayai rakyat. Dan semoga pendikar akan menjadi hard cover untuk susunan LPJ mereka.

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...