Minggu, 14 September 2014

LAHAN SEMPIT PETANI TERJEPIT


Menyimak cerita petani dahulu, tentang proses dalam mengolah lahan pertanian serta pola makan mereka, semua serba sederhana dan mereka sangat menikmatinya. Lalu coba kita bandingkan dengan petani sekarang, mengolah tanah warisan dari orang tua, dengan ilmu pertanian yang juga warisan, dan lahan yang diolah pun semakin berkurang. Semakin banyak jumlah saudara dalam keluarga semakin kecil lahan warisan yang didapat, ditambah selera makan yang mau tidak mau harus “kebablasan” menambah semrawut kebutuhan hidup petani saat ini.
Sekarang, daging bukanlah menu asing bagi warga desa, masih terasa 10 hari terakhir setiap malam ganjil di bulan Ramadhan lalu, meski berbagai makanan di rumah melimpah, aneka masakan dari daging mewarnai karpet Masjid. Dan sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Adha, dimana setidaknya seblinthi daging pasti ada pada setiap dapur warga.
Kendati demikian, sayur tetaplah menu faforit bagi siapapun yang merasa bosan dengan berbagai masakan. Ketika ada perkumpulan atau acara tertentu yang melibatkan banyak orang, tidak sedikit penyelenggara acara berusaha memberi warna lain dalam hal konsumsi agar tamu undangan bisa menikmati makanan dengan cita rasa yang berbeda sehingga mereka tidak selalu terpaksa menelan “makanan wajib” yang selalu disajikan rutin di tahun sebelumnya.
Pada sebuah sawah, ketika sang suami beristirahat untuk menikmati makan siang yang disiapkan istri, mungkin tidak terlintas dalam pikirannya tentang asal masakan yang sedang dinikmatinya itu. Mereka yang seharusnya menikmati sayuran dari hasil tanaman sendiri, belum bisa terealisasi karena berbagai kondisi.
Jam 02.00 dini hari, kang Rasiman menstarter sepeda motornya. Jaket lengkap beserta masker dan sarung tangan, ia melaju dari Tlaga menuju Ajibarang yang berjarak sekitar 23 Km. Pasar Ajibarang yang merupakan sentra pasar dari berbagai wilayah, memudahkan kang Rasiman mendapatkan berbagai sayuran yang ia butuhkan. Kembali ke rumah jam 5.15 langsung menjajakan sayurnya berkeliling Desa. Sampai Duha laris manis sayuran habis.
Ironis memang, warga desa yang seharusnya mengelilingi tukang sayur untuk menjual hasil panennya, mereka justru berebut membeli hasil panen (Cabe, daun singkong, kangkung dan lainnya yang bisa tumbuh di tempat sendiri) dari daerah lain. Lebih ironis lagi pernyataan yang disampaikan oleh Rofi Munawar, salah seorang anggota DPR RI dari Komisi IV yang mengunjungi salah satu gudang beras milik Perum Bulog di Sidoarjo, Jawa Timur. Gudang Bulog ditemukan justru lebih banyak menampung beras impor daripada beras lokal. Padahal lembaga yang sangat populer di masa Orde Baru itu didirikan untuk menampung beras produksi petani tanah air. (maiwanews.com -28/08/11)

Impor Ilmu.
Rofi menambahkan, kenyataan yang bukan tidak mungkin juga terjadi di gudang Bulog lainnya itu, semakin menegaskan bahwa keamanan dan ketahanan pangan kita malah bergantung dari impor.
Bila insan tokoh pertanian negeri ini benar-benar buntu, kenapa mesti malu untuk impor ilmu. Melihat kondisi pertanian yang maju pada negara-negara lain, Jepang atau Korea misalnya, kita pasti setuju bahwa bukanlah lahan seluas langit yang membuat maju pertanian mereka, tapi sumber daya manusianyalah yang menjadi solusi menghadapi situasi. Apakah teman-teman kita_yang sarjananya terbentuk dari materi pertanian_tidak geregetan untuk menyumbangkan dan mengembangkan ilmunya demi memajukan petani yang sempit lahan? Dan apakah Pemerintah juga tidak akan kasihan bila teman-teman kita yang mempunyai kemauan untuk kemajuan Pertanian Indonesia namun terbentur dana?
Sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa petani adalah pekerja dengan ekonomi lemah dan tidak memiliki masa depan cerah. Anggapan pesimis seperti ini membuat generasi muda kita menjadi loyo dan tidak maju. Strategi utama untuk membangun petani modern adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, tanah kita yang melimpah akan keanekaragaman hayati hanya membutuhkan sentuhan khusus yang fokus pada bidang pertanian.
Wihartati, S.E., S.Pd., Kepala SMA PGRI Gumelar, sebagai sekolah yang bukan kejuruan berlokasi di desa tepencil jauh dari kota, wajib bagi beliau untuk memajukan Sekolahnya. Dibantu Waka Kurikulum dan Kesiswaan mengajak mantan TKI dari Korea untuk menularkan ilmu_hasil pengalaman_bahasa Korea sebagai materi pengembangan diri siswa untuk kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini berdasar minat dan cita siswa ketika tidak ada kesempatan melanjutkan pendidikan. Bukankah ini solusi jitu sebagai tindak lanjut dari kondisi siswa dan keberhasilan TKI di sekitarnya.
Dalam hal pertanian, Pemerintah juga bisa memanfaatkan TKI agar bisa mendapatkan ilmu Pertanian yang lebih modern di Korea atau Jepang untuk diterapkan di Indonesia sepulang nanti. Terdengar lucu memang, namun berawal dari cerita ringan tentang pengalaman para TKI yang kebetulan melihat pertanian di sana, bukan tidak mungkin cerita ringan ini akan melahirkan gagasan cerah untuk kemajuan pertanian kita. Bukankah akan lebih “hemat” seperti ini dibanding pengiriman beberapa orang untuk menimba ilmu ke negara lain atas nama Bangsa. Sehingga bukan impor keamanan dan ketahanan pangan saja yang terjadi, namun imporlah ilmu sebagai dasar perkembangan pertanian kita. Sehingga bukan hanya titel saja yang bisa dinikmati oleh segelintir orang, namun tehnik pertanian modernlah yang dibutuhkan bagi petani saat ini demi surplusnya panen.
Lahan sempit jangan sampai membuat petani terjepit, lahan sempit justru harus membuat hati petani seluas langit. Substansinya adalah bekal ilmu dan daya dukung harus erat melekat pada cangkul yang mereka ayunkan. Dan cerita petani dahulu tentang musim panen yang penuh canda tawa dengan nyanyian suka cita, semoga bukan hanya sekedar dongeng belaka bagi petani saat ini.


***

Rabu, 09 April 2014

Pendikar Untuk Caleg



Dalam kampanye, warna warni berbagai pilihan dengan tawaran klasik yang mudah ditebak sungguh sesuatu yang menjemukan. Namun apapun tawaran mereka lewat janji yang terlontar pada akhirnya luluh juga kita untuk merobek identitas mereka dengan paku coblos 9 april kemarin.
Mereka yang lulus seleksi calon legislative (caleg), adalah orang-orang yang dianggap pintar dan telah mampu melewati proses, mengorbankan waktu dan lain hal yang berkaitan demi mulusnya jalan menuju puncak yakni membangun jalan agar tercapai sukses.
Istilah sukses memiliki arti beragam sesuai kondisi awal. Contoh: sukses siswa di sekolah, adalah mereka yang lulus dengan nilai bagus. Artinya, mereka lulus melalui berbagai ujian terlebih dahulu. Dan sukses seorang caleg adalah berhasil terpilih, ujian yang sesungguhnya  belakangan ketika menduduki jabatan.
Siapapun mereka yang terpilih, sukses mereka seharusnya sukses kita juga yang memilih. Kita tidak ingin mereka asal jalan, melenggang tanpa sapaan setelah sebelumnya justru kitalah yang bergotong royong memperbaiki jalan terjal mereka.
Kesediaan kita bergotong royong tergantung dari upaya mereka menarik perhatian kita. Bila mereka menunjukan tingkah laku yang baik tanpa dimintapun kita pasti membantu tanpa pamrih. Hanya saja mereka terlalu terburu-buru memperlihatkan imbalan untuk tenaga kita, kondisi masyarakat kita yang lebai pun akhirnya tergoda. Pada titik ini perubahan niat bisa saja terjadi, yang tadinya tanpa pamrih tiba-tiba muncul harapan.
Tingkah laku berarti kampanye natural, dimana mimic wajah dan gestur tubuh_meski sarat polesan_setidaknya mewakili nurani mereka, dan caleg ibarat remaja lugu Indonesian Idol, mereka sukses muncul di TV karena kocaknya kurang menguasai nada, norak pada tampilan, mengharukan pada usaha dan upaya, serta gila pada obsesi.
Namun demikian, peserta yang berhasil sampai ke panggung spektakuler adalah pembuktian bahwa mereka yang lolos memang betul-betul melalui proses ketat yang didasarkan pada kepemilikian ciri khas atau karakter unik yang tidak dimiliki banyak orang. Siapapun mereka, orang-orang yang pernah mengenalnya pasti merasa bangga. Lalu bagaimana dengan kita yang mungkin tidak kenal mereka sama sekali?.
Orang menentukan pilihan karena merasa ia memilih dengan kegembiraan: ada harapan yang direpresentasikan oleh caleg yang dicoblosnya. Ia memilih karena menyandangkan harapan tentang perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Suara Merdeka_03/04/2014). Kita memilih bukan semata memakmurkan perorangan, juga bukan memberikan kewenangan untuk bertindak semena-mena.
Pendidikan karakter seperti yang digembor-gemborkan pada dunia pendidikan dewasa ini, wajib hukumnya bagi mereka yang terpilih untuk dipahami kemudian dilaksanakan dengan penjiwaan. Kenapa? beberapa waktu lalu terjadi Insiden seorang pejabat saat kampanye “merasa kecewa” terhadap polantas, lantas meluapkan emosinya secara berlebihan sebagai wujud loyalitas terhadap partainya. Dari kejadian ini, rakyat pasti lebih cerdas mempertimbangkan konsekuensi apa yang didapat bila anggota legislativenya tidak mampu mengendalikan emosinya secara wajar.
Harapan terhadap siswa agar memiliki kepribadian yang baik, tidak berlebihan kiranya bila kita juga berharap wakil rakyat yang terhormat memiliki kepribadian yang bisa menjadi tauladan bagi siswa itu sendiri. Sosialisasi pemilih pemula bagi siswa siswi yang sudah mencapai umur 17 tahun keatas yang disampaikan pada Sekolah Menengah Atas sepekan lalu akan menjadi titik awal sebuah persepsi demokrasi bagi pengetahuan mereka untuk mengenali dunia pemerintahan di Negerinya sendiri.
Kita tidak ingin mereka para generasi muda rusak cara berfikirnya tatkala muncul fenomena negative mewarnai pesta demokrasi serta pengingkaran janji menjadi sesuatu yang bisa dimaklumi. Tontonan yang baik-baik pada pesta demokrasi serta kekuatan janji agar wajib di tepati merupakan modal awal untuk me-refresh fikiran kita semua yang telah lelah dengan kemelut berbagai drama politik yang carut marut untuk memulai memandang positif nilai demokrasi saat ini.
Dengan pembekalan pendikar akan tumbuh nilai-nilai yang diyakini sehingga menjadi bekal untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik dan menempatkannya pada posisi yang sangat mulia bagi pembentukan dan perkembangan kepribadian (Wikipedia).
Jika seseorang telah dibekali pendikar maka dia akan mampu menyaring setiap pengaruh negative yang masuk, dan mempunyai ketahanan mental dalam menjalani kehidupan.
Sekarang jelaslah bahwa antara siswa maupun caleg tidak ada bedanya dalam hal kebutuhan pendidikan karakter. Kita sama-sama menyandangkan harapan terhadap mereka akan kepribadian yang baik dan kita juga sama sama menjadi saksi bagaimana kekompakan mereka dalam ber-selfie.

Selamat menempuh hidup baru
Selamat, dan akhirnya mereka terpilih menjadi wakil kita rakyat Indonesia. Sekarang saatnya kita melihat hasil, apakah mereka termasuk orang-orang yang pandai menepati janji atau bukan. Karena kesungguhan mereka tidak sekedar menyuarakan suara kita, namun bagaimana menjaga aspirasi agar tidak pudar dan benar-benar menancap pada nurani pemerintah.
Selamat, dan berbesar hatilah, akhirnya sebagian dari mereka harus tereliminasi dari seleksi, terbebas dari tugas berat untuk mengendalikan kewenangan dengan berbagai sandungan, kerikil tajam serta tiupan angin besar.
Dan sekali lagi saya ucapkan selamat menempuh hidup baru bagi mereka yang terpilih ataupun yang tidak. Sesungguhnya kelak laporan pertanggung jawaban (LPJ) harus mereka tunjukan ke haribaan Peradilan yang Maha Adil atas segala kewenangan pekerjaan di atas fasilitas mewah yang dibiayai rakyat. Dan semoga pendikar akan menjadi hard cover untuk susunan LPJ mereka.

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...