Sekarang, daging bukanlah menu asing bagi warga desa, masih terasa 10 hari terakhir setiap malam ganjil di bulan Ramadhan lalu, meski berbagai makanan di rumah melimpah, aneka masakan dari daging mewarnai karpet Masjid. Dan sebentar lagi kita akan menyambut Hari Raya Idul Adha, dimana setidaknya seblinthi daging pasti ada pada setiap dapur warga.
Kendati demikian, sayur tetaplah menu faforit bagi siapapun yang merasa bosan dengan berbagai masakan. Ketika ada perkumpulan atau acara tertentu yang melibatkan banyak orang, tidak sedikit penyelenggara acara berusaha memberi warna lain dalam hal konsumsi agar tamu undangan bisa menikmati makanan dengan cita rasa yang berbeda sehingga mereka tidak selalu terpaksa menelan “makanan wajib” yang selalu disajikan rutin di tahun sebelumnya.
Pada sebuah sawah, ketika sang suami beristirahat untuk menikmati makan siang yang disiapkan istri, mungkin tidak terlintas dalam pikirannya tentang asal masakan yang sedang dinikmatinya itu. Mereka yang seharusnya menikmati sayuran dari hasil tanaman sendiri, belum bisa terealisasi karena berbagai kondisi.
Jam 02.00 dini hari, kang Rasiman menstarter sepeda motornya. Jaket lengkap beserta masker dan sarung tangan, ia melaju dari Tlaga menuju Ajibarang yang berjarak sekitar 23 Km. Pasar Ajibarang yang merupakan sentra pasar dari berbagai wilayah, memudahkan kang Rasiman mendapatkan berbagai sayuran yang ia butuhkan. Kembali ke rumah jam 5.15 langsung menjajakan sayurnya berkeliling Desa. Sampai Duha laris manis sayuran habis.
Ironis memang, warga desa yang seharusnya mengelilingi tukang sayur untuk menjual hasil panennya, mereka justru berebut membeli hasil panen (Cabe, daun singkong, kangkung dan lainnya yang bisa tumbuh di tempat sendiri) dari daerah lain. Lebih ironis lagi pernyataan yang disampaikan oleh Rofi Munawar, salah seorang anggota DPR RI dari Komisi IV yang mengunjungi salah satu gudang beras milik Perum Bulog di Sidoarjo, Jawa Timur. Gudang Bulog ditemukan justru lebih banyak menampung beras impor daripada beras lokal. Padahal lembaga yang sangat populer di masa Orde Baru itu didirikan untuk menampung beras produksi petani tanah air. (maiwanews.com -28/08/11)
Impor Ilmu.
Rofi menambahkan, kenyataan yang bukan tidak mungkin juga terjadi di gudang Bulog lainnya itu, semakin menegaskan bahwa keamanan dan ketahanan pangan kita malah bergantung dari impor.
Bila insan tokoh pertanian negeri ini benar-benar buntu, kenapa mesti malu untuk impor ilmu. Melihat kondisi pertanian yang maju pada negara-negara lain, Jepang atau Korea misalnya, kita pasti setuju bahwa bukanlah lahan seluas langit yang membuat maju pertanian mereka, tapi sumber daya manusianyalah yang menjadi solusi menghadapi situasi. Apakah teman-teman kita_yang sarjananya terbentuk dari materi pertanian_tidak geregetan untuk menyumbangkan dan mengembangkan ilmunya demi memajukan petani yang sempit lahan? Dan apakah Pemerintah juga tidak akan kasihan bila teman-teman kita yang mempunyai kemauan untuk kemajuan Pertanian Indonesia namun terbentur dana?
Sebagian dari kita ada yang beranggapan bahwa petani adalah pekerja dengan ekonomi lemah dan tidak memiliki masa depan cerah. Anggapan pesimis seperti ini membuat generasi muda kita menjadi loyo dan tidak maju. Strategi utama untuk membangun petani modern adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, tanah kita yang melimpah akan keanekaragaman hayati hanya membutuhkan sentuhan khusus yang fokus pada bidang pertanian.
Wihartati, S.E., S.Pd., Kepala SMA PGRI Gumelar, sebagai sekolah yang bukan kejuruan berlokasi di desa tepencil jauh dari kota, wajib bagi beliau untuk memajukan Sekolahnya. Dibantu Waka Kurikulum dan Kesiswaan mengajak mantan TKI dari Korea untuk menularkan ilmu_hasil pengalaman_bahasa Korea sebagai materi pengembangan diri siswa untuk kegiatan ekstra kurikuler. Hal ini berdasar minat dan cita siswa ketika tidak ada kesempatan melanjutkan pendidikan. Bukankah ini solusi jitu sebagai tindak lanjut dari kondisi siswa dan keberhasilan TKI di sekitarnya.
Dalam hal pertanian, Pemerintah juga bisa memanfaatkan TKI agar bisa mendapatkan ilmu Pertanian yang lebih modern di Korea atau Jepang untuk diterapkan di Indonesia sepulang nanti. Terdengar lucu memang, namun berawal dari cerita ringan tentang pengalaman para TKI yang kebetulan melihat pertanian di sana, bukan tidak mungkin cerita ringan ini akan melahirkan gagasan cerah untuk kemajuan pertanian kita. Bukankah akan lebih “hemat” seperti ini dibanding pengiriman beberapa orang untuk menimba ilmu ke negara lain atas nama Bangsa. Sehingga bukan impor keamanan dan ketahanan pangan saja yang terjadi, namun imporlah ilmu sebagai dasar perkembangan pertanian kita. Sehingga bukan hanya titel saja yang bisa dinikmati oleh segelintir orang, namun tehnik pertanian modernlah yang dibutuhkan bagi petani saat ini demi surplusnya panen.
Lahan sempit jangan sampai membuat petani terjepit, lahan sempit justru harus membuat hati petani seluas langit. Substansinya adalah bekal ilmu dan daya dukung harus erat melekat pada cangkul yang mereka ayunkan. Dan cerita petani dahulu tentang musim panen yang penuh canda tawa dengan nyanyian suka cita, semoga bukan hanya sekedar dongeng belaka bagi petani saat ini.
***