Jumat, 26 Juni 2015

MENGEMAS LKP DI BANYUMAS



Kabupaten Banyumas merupakan satu dari sekian daerah di Indonesia yang peduli dan mendukung sekali terhadap berkembangnya Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) untuk turut serta memajukan Sumber Daya Manusia di wilayahnya agar mampu bekerja dengan memaksimalkan skill dan berimbas pada kesejahteraan yang seimbang dengan keterampilannya tersebut.
Lebih kurang 115 LKP bertebaran di wilayah Banyumas dengan berbagai bidang atau program keterampilan, dari sejumlah LKP ini diharapkan Kabupaten Banyumas benar-benar mampu menjaring ratusan anak bangsa agar berkesempatan mengasah dan mempertajam kemampuannya untuk siap bekerja secara efektif yakni dengan waktu tidak terlalu lama serta biaya murah.
Keseriusan ini dibuktikan dengan diselenggarakannya diklat Fasilitasi Penguatan Manajemen dan Pembelajaran Kursus dan Pelatihan melalui program pemagangan tahun 2015 yang bertempat di Gedung Korpri Kabupaten Banyumas dilanjutkan study komparatif ke Cirebon dengan mengunjungi LKP Mahardika Group dan PKBM Sunan Kalijaga pada selasa 16 Juni 2015 oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Bidang Pendidikan Non Formal dengan peserta para pengelola LKP di Wilayahnya.
Amati-Tiru-Modifikasi (ATM) merupakan prinsip yang bisa kami lakukan untuk memajukan LKP. Mengamati objek LKP kunjungan, meniru apa yang sesuai dan positif untuk di jadikan pedoman serta tidak melulu copy pasti tetapi memodifikasi tiruan tersebut kemudian disesuaikan dengan kondisi LKP yang ada.
Salah satu tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah meningkatnya mutu pelayanan kursus kepada masyarakat sehingga pengelola LKP mampu mendorong lembaganya menjadi lembaga yang bermutu, berkinerja unggul dan memiliki daya saing. Seperti apa yang disampaikan oleh beliau Drs. Heri Teguh Santosa Kepala Bidang PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, bahwa untuk menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau Asean Economic Community (AEC)  Masyarakat perlu didongkrak kemahiran berbahasa asingnya, bukan hanya bahasa inggris saja melainkan bahasa-bahasa negara Asia lainnya harus pula menjadi penting untuk dipelajari.
Pernyataan senada juga disampaikan Shobariyah Jamilah dalam artikelnya “Apakah Indonesia Siap Hadapi Jelang MEA 2015?”,  Bergabungnya Indonesia dalam  MEA merupakan peluang sekaligus hambatan, Sumber Daya Alam yang melimpah ruah menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian dan incaran negara lain. Jika kita tidak siap maka justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu Indonesia.
Kini cukup jelaslah bagaimana Indonesia harus bersikap, adalah kesiapan Tenaga Kerja yang terampil, mempelajari dan memahami potensi alam serta komunikasi yang lancar sebagai penunjang transaksi bisnis.

Menjadi Solusi

Setiap tahun tepatnya di bulan mei dan juni kita menjadi saksi siswa-siswi yang meluapkan kegembiraan atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan selama 3 tahun. Setiap tahun ratusan bahkan ribuan siswa lulus sekolah, dan setiap tahun pula kita tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah siswa melanjutkan dan yang tidak, siswa yang tidak melanjutkan didominasi oleh alasan ekonomi serta alasan malasnya siswa itu sendiri.
Dan kedua alasan inilah induk dari segala permasalahan yang muncul pada setiap siswa kemudian berkembang membentuk masalah baru yang memperkuat siswa benar-benar memutuskan pilihannya untuk tidak melanjutkan. Apabila ini tetap dibiarkan, konsekuensinya adalah kita harus rela dengan masuknya sumber daya manusia dari negara lain yang lebih berkualitas dan profesional yang akan menggusur tenaga kerja dalam negeri.
Berdasarkan data hasil pendataan siswa di Kecamatan Gumelar yang penulis peroleh dari UPK Gumelar, tahun pelajaran 2014/2015 siswa tingkat SD/MI Jumlah Usia Sekolah 4.720 anak, putus sekolah 28 anak, tingkat SMP/MTs Jumlah Usia Sekolah 2.478 anak, putus sekolah sebanyak 196 anak, dan siswa tingkat SMA/SMK Jumlah Usia Sekolah 1.602 anak, putus sekolah mencapai 1.066 anak. Dari jumlah tersebut alasan mereka tidak bersekolah beragam, mulai dari ekonomi, bekerja membantu orang tua, ABK (anak berkebutuhan khusus) dan alasan lain. Bila dijumlahkan total dari SD, SMP dan SMA maka jumlah usia sekolah mencapai 8.800 anak dengan siswa sekolah 7.510 anak (85%) dan putus sekolah mencapai 1.290 (15%). Dan tentu kita sepakat bahwa jumlah 15% adalah jumlah yang tidak sedikit.
Ini baru satu kecamatan saja, bagaimana seandainya jumlah ini adalah rata-rata dari setiap kecamatan yang ada di Banyumas? “waspada siswa putus sekolah” adalah status yang perlu diwaspadai oleh semua pihak serta pemangku kebijakan di Daerah itu sendiri.
Sejatinya siswa yang putus sekolahpun tidak ingin putus sekolah, karena kondisilah akhirnya mereka mengharuskan demikian, lalu tanggung jawab siapakah mereka? Kepala UPK Gumelar, Umar, S.Pd. M.M menyampaikan bahwa Selain orang tua dan Sekolahan itu sendiri, harus pula melibatkan elemen masyarakat. Ketika masalahnya ekonomi, Kepala Desa beserta perangkatnya serta para tokoh masyarakat semaksimal mungkin mampu mengkondisikan siswa tersebut agar bisa mendapat bantuan dari sekolah atau dari sumber lain untuk bisa tetap bersekolah, ketika masalahnya malas, orang-orang yang ada disekitarnya termasuk perangkat desa kaur kesejahteraan wajib memberi motivasi agar mempunyai semangat lagi untuk tidak berhenti.
Namun ketika semua itu belum juga membuahkan hasil, padahal mereka para siswa yang putus sekolah adalah warga masyarakat yang harus bekerja dan hidup mandiri, LKP lah solusinya, satuan pendidikan non formal yang melatih keterampilan lebih spesifik untuk bekal mereka mencari kerja. Tapi perlu digaris bawahi, bahwa LKP bukan hanya solusi siswa yang putus sekolah saja, namun ini bersifat umum, tidak terpancang pada jenjang tingkat lulusan, peserta didik LKP adalah mereka yang ingin memperdalam ilmunya pada suatu keterampilan tertentu.

Untuk menyambut gemerlapnya kondisi Masyarakat Ekonomi Asean yang sudah di depan mata, jumlah pengangguran yang terus bertambah, serta rumitnya mengatasi siswa putus sekolah, semoga LKP bisa menjadi salah satu dari sekian bagian yang berperan mempersiapkan insan-insan Indonesia yang berpotensi untuk bisa belajar dalam waktu cepat dengan hasil akurat.

#2___Lentik Jemarimu bukan untuk scrolling semata

             Tipis cahaya matahari menembus celah gorden kamar Revina, memaksanya membuka mata dengan berat. Ia lihat jam di dinding menunju...