Kabupaten Banyumas merupakan satu dari sekian daerah di Indonesia yang peduli dan mendukung sekali terhadap berkembangnya Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) untuk turut serta memajukan Sumber Daya Manusia di wilayahnya agar mampu bekerja dengan memaksimalkan skill dan berimbas pada kesejahteraan yang seimbang dengan keterampilannya tersebut.
Lebih kurang 115 LKP bertebaran di wilayah Banyumas dengan
berbagai bidang atau program keterampilan, dari sejumlah LKP ini diharapkan
Kabupaten Banyumas benar-benar mampu menjaring ratusan anak bangsa agar
berkesempatan mengasah dan mempertajam kemampuannya untuk siap bekerja secara
efektif yakni dengan waktu tidak terlalu lama serta biaya murah.
Keseriusan ini dibuktikan dengan diselenggarakannya diklat
Fasilitasi Penguatan Manajemen dan Pembelajaran Kursus dan Pelatihan melalui
program pemagangan tahun 2015 yang bertempat di Gedung Korpri Kabupaten
Banyumas dilanjutkan study komparatif ke Cirebon dengan mengunjungi LKP
Mahardika Group dan PKBM Sunan Kalijaga pada selasa 16 Juni 2015 oleh Dinas
Pendidikan Kabupaten Banyumas Bidang Pendidikan Non Formal dengan peserta para
pengelola LKP di Wilayahnya.
Amati-Tiru-Modifikasi (ATM) merupakan prinsip yang bisa
kami lakukan untuk memajukan LKP. Mengamati objek LKP kunjungan, meniru apa
yang sesuai dan positif untuk di jadikan pedoman serta tidak melulu copy pasti
tetapi memodifikasi tiruan tersebut kemudian disesuaikan dengan kondisi LKP
yang ada.
Salah satu tujuan diselenggarakannya kegiatan ini adalah
meningkatnya mutu pelayanan kursus kepada masyarakat sehingga pengelola LKP
mampu mendorong lembaganya menjadi lembaga yang bermutu, berkinerja unggul dan
memiliki daya saing. Seperti apa yang disampaikan oleh beliau Drs. Heri Teguh
Santosa Kepala Bidang PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, bahwa untuk
menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau Asean Economic Community (AEC) Masyarakat perlu didongkrak kemahiran berbahasa
asingnya, bukan hanya bahasa inggris saja melainkan bahasa-bahasa negara Asia
lainnya harus pula menjadi penting untuk dipelajari.
Pernyataan senada juga disampaikan Shobariyah Jamilah
dalam artikelnya “Apakah Indonesia Siap Hadapi Jelang MEA 2015?”, Bergabungnya Indonesia dalam MEA
merupakan peluang sekaligus hambatan, Sumber Daya Alam yang melimpah ruah
menjadikan Indonesia sebagai pusat perhatian dan incaran negara lain. Jika kita
tidak siap maka justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu
Indonesia.
Kini cukup jelaslah bagaimana Indonesia harus bersikap, adalah
kesiapan Tenaga Kerja yang terampil, mempelajari dan memahami potensi alam
serta komunikasi yang lancar sebagai penunjang transaksi bisnis.
Menjadi Solusi
Setiap tahun tepatnya di bulan mei dan juni kita menjadi
saksi siswa-siswi yang meluapkan kegembiraan atas keberhasilannya menyelesaikan
pendidikan selama 3 tahun. Setiap tahun ratusan bahkan ribuan siswa lulus
sekolah, dan setiap tahun pula kita tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah
siswa melanjutkan dan yang tidak, siswa yang tidak melanjutkan didominasi oleh alasan
ekonomi serta alasan malasnya siswa itu sendiri.
Dan kedua alasan inilah induk dari segala permasalahan
yang muncul pada setiap siswa kemudian berkembang membentuk masalah baru yang
memperkuat siswa benar-benar memutuskan pilihannya untuk tidak melanjutkan. Apabila
ini tetap dibiarkan, konsekuensinya adalah kita harus rela dengan masuknya sumber
daya manusia dari negara lain yang lebih berkualitas dan profesional yang akan
menggusur tenaga kerja dalam negeri.
Berdasarkan data hasil pendataan siswa di Kecamatan
Gumelar yang penulis peroleh dari UPK Gumelar, tahun pelajaran 2014/2015 siswa
tingkat SD/MI Jumlah Usia Sekolah 4.720 anak, putus sekolah 28 anak, tingkat
SMP/MTs Jumlah Usia Sekolah 2.478 anak, putus sekolah sebanyak 196 anak, dan siswa
tingkat SMA/SMK Jumlah Usia Sekolah 1.602 anak, putus sekolah mencapai 1.066
anak. Dari jumlah tersebut alasan mereka tidak bersekolah beragam, mulai dari
ekonomi, bekerja membantu orang tua, ABK (anak berkebutuhan khusus) dan alasan lain.
Bila dijumlahkan total dari SD, SMP dan SMA maka jumlah usia sekolah mencapai
8.800 anak dengan siswa sekolah 7.510 anak (85%) dan putus sekolah mencapai
1.290 (15%). Dan tentu kita sepakat bahwa jumlah 15% adalah jumlah yang tidak
sedikit.
Ini baru satu kecamatan saja, bagaimana seandainya jumlah
ini adalah rata-rata dari setiap kecamatan yang ada di Banyumas? “waspada siswa
putus sekolah” adalah status yang perlu diwaspadai oleh semua pihak serta
pemangku kebijakan di Daerah itu sendiri.
Sejatinya siswa yang putus sekolahpun tidak ingin putus
sekolah, karena kondisilah akhirnya mereka mengharuskan demikian, lalu tanggung
jawab siapakah mereka? Kepala UPK Gumelar, Umar, S.Pd. M.M menyampaikan bahwa Selain
orang tua dan Sekolahan itu sendiri, harus pula melibatkan elemen masyarakat.
Ketika masalahnya ekonomi, Kepala Desa beserta perangkatnya serta para tokoh
masyarakat semaksimal mungkin mampu mengkondisikan siswa tersebut agar bisa
mendapat bantuan dari sekolah atau dari sumber lain untuk bisa tetap
bersekolah, ketika masalahnya malas, orang-orang yang ada disekitarnya termasuk
perangkat desa kaur kesejahteraan wajib memberi motivasi agar mempunyai
semangat lagi untuk tidak berhenti.
Namun ketika semua itu belum juga membuahkan hasil,
padahal mereka para siswa yang putus sekolah adalah warga masyarakat yang harus
bekerja dan hidup mandiri, LKP lah solusinya, satuan pendidikan non formal yang
melatih keterampilan lebih spesifik untuk bekal mereka mencari kerja. Tapi
perlu digaris bawahi, bahwa LKP bukan hanya solusi siswa yang putus sekolah saja,
namun ini bersifat umum, tidak terpancang pada jenjang tingkat lulusan, peserta
didik LKP adalah mereka yang ingin memperdalam ilmunya pada suatu keterampilan
tertentu.
Untuk menyambut gemerlapnya kondisi Masyarakat Ekonomi Asean
yang sudah di depan mata, jumlah pengangguran yang terus bertambah, serta
rumitnya mengatasi siswa putus sekolah, semoga LKP bisa menjadi salah satu dari
sekian bagian yang berperan mempersiapkan insan-insan Indonesia yang berpotensi
untuk bisa belajar dalam waktu cepat dengan hasil akurat.